--- [EMAIL PROTECTED] wrote:
> (???Wawancara???)-nya dengan Yomiuri ShimbunOnline,
> membuktikan bahwa Mega masih banyak tergantung /
> menggantungkan diri dengan 'nama besar' mendiang
> ayahnya. Baca prolognya itu ...njijihi
>
> Wawancara Mega dengan media asing sebelum ini juga
> muncul, kenapa media asing?
Tulisan itu, dengan nama Mega, dimuat oleh Yomiuri. Saya berharap, bila
Alvi menulis pun akan dimuat, agar Alvi tak terlalu meremehkan apa yang
dimuat oleh Yomiuri tersebut. Atau malah, Yomiuri yang meremehkan
tulisan Alvi ? Sebaiknya Alvi mencobanya.
Akankah Yomiuri mempertimbangkan pembukaan tulisan Mega yang dibilang
Alvi 'njinjihi' lalu memuatnya ? Tentu saja tidak. Coba Alvi bikin
pembukaan yang sama, sekalian dua tulisan, dengan pembukaan yang lain,
akankah dimuat oleh Yomiuri ? Kita lihat.
>
> Ah otak iseng (baca:dengki) saya bilang: Ah Mega
> lagi belajar nulis, muat sekalian di media asing
> biar bobotnya lebih dibanding kalo dimuat di negri
> sendiri, biar keliatan mendunia gitu, katrol!, biar
> nggak keliahatan kuper, telmi. padahal yah... isinya
> ya nyengeng begitu... njilat-njilat Jepang, nggak
> bakal punya bargain position yang bagus nih kelak.
Untuk di dalam negeri, Mega sudah janji akan ngomong sesudah hasil
pemilu diresmikan. Saat itu kedudukan PDI Perjuangan sudah jelas. Jika
masih belum jelas, lebih-lebih kalau di bawah 10 persen, terlalu banyak
omong, malah kesannya 'nggege mongso'. Kita tunggu saja, akankah ia
benar-benar memenuhi janjinya.
.
>
> Ah otak iseng (baca:dengki) saya bilang: Ah Mega
> lagi belajar nulis, muat sekalian di media asing
> biar bobotnya lebih dibanding kalo dimuat di negri
> sendiri, biar keliatan mendunia gitu, katrol!, biar
> nggak keliahatan kuper, telmi. padahal yah... isinya
> ya nyengeng begitu... njilat-njilat Jepang, nggak
> bakal punya bargain position yang bagus nih kelak.
Apakah itu tulisan Mega atau bukan, begitulah yang namanya pemimpin,
dan begitulah sebuah organisasi. Mega menulis dan bicara, pasti akan
menyangkut pada sebuah organisasi yang bukan milik pribadinya. Jika tak
sesuai dengan garis perjuangan organisasi, malah nanti ada
komentar-komentar tak bagus, justru dari sub-ordinatnya, yang
menunjukkan betapa tak terorganisir-nya organisasi ybs.
Yusril, Ketua Umum PBB, juga salah satu penulis pidato pak Harto, tak
ada yang menyalahkannya. Alvi sebaiknya belajar lebih baik sedikit
mengenai tata organisasi. Mega, bagaimana pun, tak bisa lepas dari
kaitannya dengan organisasi PDI Perjuangan.
Posisi tawar antara negara yang satu dengan yang lain lebih disebabkan
oleh kemungkinan-kemungkinan saling menarik dan memperoleh manfaat dari
kerjasama tersebut. Indonesia masih memiliki posisi tawar yang bagus
untuk negara sekelas Jepang, yang butuh pasar bagi industrinya. Tetapi
merujuk pada cara mengatur negeri ini yang penuh corang-moreng, maka
mereka pasti agak mengerem minatnya agak sedikit, agar tak dinilai
sebagai pihak yang membiayai sebuah rezim laknat lagi. Mega jelas harus
memuji Jepang di Yomiuri, karena ini koran Jepang, dan karena apa salah
Jepang terhadap negeri kita dengan bantuannya selama ini ? Malah pihak
kitalah yang telah menyelewengkan bantuan berbunga sangat rendah,
Miyazawa Plan, untuk menutup utang proyek listrik Tutut.
>
> Interview by fax adalah asumsi saya. Beberapa
> Interview di media asing itu beberapa waktu yg lalu
> kadang pertanyaanya lompat ke masalah lain sebelum
> waktunya... artinya wartawannya nggak agresip
> interaktip... nggak konek... nggak online... nggak
> real time atau wartawan goblok.
Jika Alvi pernah sekali saja menjadi wartawan, maka kebiasaan untuk
lebih dahulu mengirim pertanyaan melalui fax sebelum wawancara
berlangsung adalah sesuatu yang normal. Dan itu sebenarnya hanya
pertanyaan-pertanyaan pokok saja. Di saat wawancara nanti berlangsung,
tak tertutup kemungkinan untuk melebar ke persoalan lainnya. Kalau kita
berpikir positip untuk hal tersebut, maka itu berarti pihak yang akan
diwawancarai telah memberikan perhatian kepada yang akan mewawancarai,
dengan sebuah persiapan yang benar-benar cukup untuk memenuhi keinginan
tahu sipewawancara. Mungkin menyiapkan bahan, atau mungkin menyertakan
staf-stafnya, yang benar-benar menguasai persoalan yang kita ajukan.
Bahkan tanpa diminta pun, biasanya adalah sebuah kewajiban yang tak
tertulis bagi sipewawancara untuk mengirimkan hal-hal apa yang ingin
diketahuinya. Bukankah mereka akan memawancarai Mega dalam kapasitas
seorang pemimpin yang organisasinya menang pemilu? Lain kalau cuma mau
gojlok-gojlokan saja. Ini mesti dibedakan.
>
> salam
> Alvi
>
Salam,
Gigih
_________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com
______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!