Memperdebatkan soal Presiden ya nggak bakalan selesai-selesai,
Saya sebetulnya juga ndak seneng punya Presiden yang nggak bisa apa-apa.
Cuma manyun dan bobok siang-siang atau nonton Film India (idihhh) ...
Tapi sempat terselip pikiran nakal saya waktu di Stasiun banyak gambar
Megawati di uang-uangan Rp 5000, Rp 10.000 dan Rp 50.000,-. Saya bilang
dalam hari, wahhhh PDIP ternyata mulai main "money politics" nih,
hahahaha.
Tapi yang jelas gambar Megawati di uang-uangan itu memikat juga ya ?
Cantik juga dia. Pantes bisa punya suami sampai tiga orang !
Sekali-sekali punya Presiden cewek cakep kenapa sih ? Rasanya bosen juga
punya Presiden kadal jantan terus. Mungkin kalau Presidennya Cantik,
suka senyum-senyum dan ogah Press-Conference sama Wartawan negara kita
bisa lebih maju (atau bisa juga lebih lucu).
Hmmm, di foto pada Sticker uang-uangan yang dijual Gopek sama Seribuan
itu kok Megawatinya cantik banget ya. Pantes banyak pria yang rela mati
untuk dia ! Boleh juga nih punya Presiden cantik ....
Iwan/Sam/Admiral/
Daniel H.T. wrote:
>
> Sebagai rakyat biasa, saya merasa prihatin dengan manuver-manuver yang
> dilakukan oleh para elit politik kita. Tempo hari mereka sendiri yang
> dengan gaya demokratis dan patriotik menghimbau kepada semua rakyat, agar
> berjiwa besar dalam menghadapi hasil pemilu. Siapapun yang menang harus
> diterima dengan lapang dada, kata mereka. Eh, begitu ternyata PDI
> Perjuangan (PDIP) yang menang justru mereka yang uring-uringan. Masalah
> presiden wanita ditonjolkan, masalah kemampuan Megawati sebagai presiden
> dimasalahkan; mulai dari kemampuan intelektualnya sampai dengan latar
> belakang dia sebagai anak Soekarno. Seolah-olah bahwa Megawati itu
> perempuan, anak Soekarno, dan lain-lain, mereka baru-baru ini saja
> mengetahuinya. Kalau memang mereka sungguh-sungguh memasalahkan hal ini
> demi kepentingan bangsa dan negara -- sebagaimana biasa mereka utarakan.
> Maka seharusnya jauh-jauh hari mereka sudah memasalahkannya. Setidaknya
> sejak PDIP mencalonkan Megawati sebagai presiden dalam kongres di Bali
> setahun lalu. Bukan setelah hasil pemilu diumumkan (setelah tahu kalah dari
> PDIP).
>
> Mereka juga mengatakan bahwa parpol pemenang pemilu, tidak otomatis menjadi
> presiden. Tetapi harus melalui mekanisme pemilihan oleh anggota-anggota MPR
> sesuai UUD 1945. Inipun dengan embel-embel harus dengan voting tertutup.
> Masa' yang namanya wakil rakyat, mau menyatakan suaranya harus
> merahasiakannya dari rakyat itu sendiri? Mereka seolah-olah mau bersikap
> konsekuen dengan konstitusi. Padahal mereka sendiri mengatakan bahwa UUD
> 1945 itu tidak demokratis dan harus diamandemenkan, atau bahkan dirombak
> total.
>
> Mereka sendiri, termasuk Habibie, mengatakan bahwa hal yang terbaik bagi
> Indonesia saat ini adalah rakyat memilih presidennya secara langsung dalam
> suatu pemilu. Jika benar prinsip ini yang mereka pegang, mengapa tidak
> dilakukan sekarang saja? Artinya apabila mereka konsekuen bahwa UUD 1945
> tidak demokratis dan hal yang terbaik bagi Indonesia adalah rakyat memilih
> presidennya secara langsung, seharusnya dalam pemilu sekarang ini hal ini
> diterapkan saja dalam SU MPR nanti dengan melihat aspirasi rakyat yang
> tercermin dalam pemilu yang baru usai itu. Mengapa yang disebut sebagai
> yang terbaik bagi rakyat Indonesia itu, harus ditunda sampai 2004?
>
> Mereka mengatakan, termasuk Amien Rais, bahwa karena PDIP hanya memperoleh
> 154 kursi di parlemen, berarti sama dengan yang mendukung PDIP (sekaligus
> Megawati sebagai presiden), hanya 33,3 persen. Sedangkan sisanya yang 66,7
> persen tidak mendukung PDIP. tetapi mengapa hitungan-logika yang sebenarnya
> tidak valid dalam konteks ini tidak mereka terapkan terhadap parpol mereka?
> Misalnya Golkar dan PAN, yang masing-masing hanya memperoleh 120 dan 35
> kursi. Sehingga berarti hanya sekitar 26 persen dan 7,5 persen yang
> mendukung. Sedangkan sisanya masing-masing 74 persen dan 92,5 persen tidak
> mendukung Golkar dan PAN.
>
> Koalisi? Tempo hari mereka yang mengaku parpol reformis ramai-ramai
> mengutuk dan menjauhi Golkar yang mereka katakan identik dengan status quo
> untuk mengambil simpatik rakyat banyak, sekarang setelah kalah mereka
> secara terang-terangan, maupun malu-malu kelihatan mulai berkoalisi, atau
> mendukung Golkar. Atau manuver lain, untuk berupaya menjadikan dirinya
> sebagai presiden, sekalipun perolehan suara parpolnya kecil.
>
> Apabila mereka benar-benar konsekuen dengan komitmen dan janji-janjinya,
> setiap parpol itu -- terutama lima besar, tetap mencalonkan capresnya
> sesuai dengan yang mereka umumkan sebelum pemilu. Jadi, PDIP tetap dengan
> Megawati, Golkar tetap dengan B.J. Habibie, PKB tetap dengan Gus Dur, PPP
> tetap dengan Hamzah Haz, dan PAN tetap dengan Amien Rais. Masa' mereka
> semua mau mengeroyok seorang perempuan. Apalagi menurut mereka perempuan
> itu tidak sepandai mereka sendiri.
>
> Daniel H.T.
>
> ______________________________________________________________________
> If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
> To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!