Pemikiran itu boleh-boleh saja. Tapi saya ngeri juga. Soalnya itu kan sudah
judge, bisa benar bisa tidak, atau bisa benar tapi sulit (tidak) bisa
dibuktikan.
Jadi biarlah kita berdiskusi atas nilai-nilai yang positif, sehingga
akhirnya dapat mencapai suatu (nuansa) pemikiran sebagi suatu solusi yang
efektif & terbaik buat kita. Dengan begitu, semua yang berkepentingan &
bertanggung jawab akan tersudut & terpaksa harus memperbaiki langkahnya.
Trim's,
Fw.
-----Original Message-----
From: Yap C. Young [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
Nggak usah heran Franca, kalau solusinya banyak yang sudah tahu,
tetapi
aspek bisnisnya yang belum jalan.
Peta tawuran itu sudah sangat jelas. Pelakunya jelas (aktivisnya
mudah
dikenali). Lokasinya jelas (repeatedly). Waktunya jelas (jam
terjadinya).
Tetapi kan lebih indah kalau untuk meminimalisir tawuran tersebut
ada
anggarannya yang jelas, dan syukur besar. Kayak KPU gitu lho...
Yaah, gimana lah, kita kan hidup dinegara yang serba jelas, semua
jelas
butuh uang, dan semua bisa diuangkan. Kalau nggak ada uangnya, mana
enaaaak?
Banyak yang malah berharap tawuran semakin menjadi jadi sehingga
bisa
menjadi komoditas bisnis lain lagi. Sadis? Nggak juga.
Hiduplah bangsaku, hiduplah Negeriku, tanahku, rakyatku semuanya...
Salam
Yap
(berharap masa waras segera tiba)
>From: "Franca A.S. Wenas" <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: "'[EMAIL PROTECTED]'"
><[EMAIL PROTECTED]>,[EMAIL PROTECTED]
>Subject: [Kuli Tinta] TAWURAN LAGI LAGI TAWURAN
>Date: Tue, 27 Jul 1999 13:51:09 +0700
______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!