> Gigih Wrote : 
>      Jika ada 'Arun (tidak) untuk Aceh', maka sebenarnya cukup banyak
> 'arun'
>      lain yang juga '(tidak) untuk Aceh'. 
> 
>      Benar sangat banyak sekali kubangan 'Arun'  yang justeru menjadi
> sawahnya segelintir orang. Bermula dari konsep : Semua hasil di
>      kumpulkan di sentral kekuasaan, kemudian secara merata di tebarkan 
             ke seluruh ceruk  'Aceh".  
           Dengan demikian "Aceh" tidak boleh secara langsung menikmati
hasil 
           alam yang dimilikinya.
             Namun praktek yang terjadi, Semua memang dikumpulkan ke Pusat.
             Sedangkan penebarannya justeru tidak menyeluruh. Bahkan hanya 
>      berkutat pada "tuan tanah-tuan tanah" yang meraja lela.
> 
>     Ujung-ujungnya, semua bermuara ke satu kolam, namanya HMS
            dan kroni-kroninya.

          Ya seperti itulah yang terjadi.


> Masih banyak sekali contoh 'Arun (tidak) untuk Aceh' yang lain. Di Jawa
      pun tak sedikit. 
> Seyogyanyalah, 'pengembalian arun' itu bukan cuma di Aceh saja, 
> 
> Barangkali konsep "makmurkan dulu daerah-daerah yang memiliki "Arun"  dan
> itu pun dengan catatan tidak hanya untuk penguasa setempat. Tetapi
> benar-benar adil untuk semua rakyat setempat. 
> Pemakmuran ini tetap dilandasi dengan tansparansi dan kejujuran.
> 
> 'Kembalikan arun' baru salah satu dari upaya penyelesaian masalah
> negeri ini. 
> 
      Hanya yang tetap perlu mendapat perhatian nantinya. Setelah kemakmuran

      itu berada diseputar sumber-sumber kekayaan Alam.  Masih perlu juga

      dipikirkan daerah-daerah minus sumber-sumber alam. 


        Hudi





______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!







Kirim email ke