Teman-teman Berikut ini cuplikan dari Harian Waspada mengenai Tragedi Beutong, sebagai bahan renungan. Bahwa perlakuan militer terhadap rakyat tak berdosa, tanpa ada perlawanan, tanpa ada kesempatan untuk membela diri di depan SIDANG KEADILAN. Hukum benar atau salah ditentukan oleh militer. Sekarang di zaman keterbukaan informasi/refromasi seperti ini dapat diketahui dengan cepat. Dulu, di zaman DOM, perlakukan yang sama telah lama ada, perlakuan yang lebih kejam dari itu pun ada, tetapi semua informasi tertutup rapat. Tetapi bagi yang telah buta mata hatinya, itu semua tidak ada artinya. Bahkan kalau Anda mendengar berita RRI, selalu lebih berat ke TNI. Semua berita menyebutkan seakan-akan tindakan tersebut adalah legal karena yang ditembak "selalu" disebutkan bekas narapidana dan dalam usaha penggrebekan senjata. Padahal kenyataan nya banyak warga tak bersalah yang mati syahid, dibunuh keji. Terima kasih. Ismail Ramli ( [EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]> ) ---------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------- BERITA UTAMA WASPADA SELASA, 27 JULI 1999 ---------------------------------------------------------------------------- ---- Saksi Tragedi Beutong Ateuh: Mereka Dibantai Tanpa Perlawanan BANDA ACEH (Waspada): Peristiwa dibalik kematian Tgk. Bantaqiah dan 30 pengikutnya terkuak setelah saksi mata membeberkan peristiwa yang digambarkan sebagai pembantaian massal oleh pasukan "siluman" Bataliyon 328 Kostrad di bawah kendali operasi (BKO) Korem 011/Lilawangsa. Tapi Danrem 011/LW Kol Inf Syafnil Armen kepada BBC London membantah bahwa pasukan yang menembaki Bantaqiah berikut pengikutnya dari Kostrad yang didatangkan dari Jakarta. "Setahu saya tidak ada pasukan Kostrad yang dikirim ke Aceh," kata Danrem 011/Lilawangsa, seperti disiarkan BBC London Senin (26/7) malam. Dan, kata dia, pasukan yang dilibatkan dari Korem 011/LW dan Korem 012/Teuku Umar. Tapi sumber-sumber resmi Waspada menyebutkan, pasukan di bawah pimpinan Kasi Intel Korem 011/LW Letkol Inf Sudjono diperkuat satuan setingkat peleton dari Komando Strategi Angkatan Darat (Kostrad). Kata sumber Waspada, seratus lebih pasukan TNI tersebut bergerak dari Takengon, Aceh Tengah Kamis (22/7). Dari kota dingin itu, pasukan menggunakan truk militer dan menyisir lembah Beutong Ateuh. Meraungnya deru mesin truk militer, dilaporkan sempat dilihat dan mengejutkan penduduk sehingga mereka ketakutan. Untuk menuju ke lokasi pesantren milik Bantaqiah, aparat keamanan harus menyusuri jalan setapak menuruni lembah dan melintasi Krueng (sungai) Beutong. Sampai di TKP Jumat siang (bukan Sabtu-red), menurut versi TNI, pasukan sempat dua kali dihadang pengikut tokoh spiritual itu. Karena mendapat perlawanan, pasukan TNI kemudian memberondong tubuh Bantaqiah dan 30 orang pengikutnya. Penduduk sipil itu langsung tewas di tempat. Tanpa Perlawanan Sementara itu Abdullah Saleh SH, adik sepupu Tgk Bantaqiah, kepada Waspada di Banda Aceh, Senin (26/7) menjelaskan sebelum mereka dihabisi tanpa perlawanan lebih dahulu dibariskan di halaman kediaman Tgk Bantaqiah dengan posisi tangan di atas kepala. Mengutip saksi hidup yang kini diamankan di suatu tempat di Aceh Barat, Abdullah Saleh, yang juga Wakil Ketua DPW PPP Aceh, itu menyebutkan kronologi pembantaian bermula dari masuknya pasukan TNI keempat desa di kemukiman Beutong Ateuh. Desa pertama yang disisir, kata Abdullah Saleh, yaitu Blang Puuk. Di situ aparat memberitahukan kepada masyarakat, Jumat (22/7) akan diadakan pemeriksaan KTP. Setelah itu, kata Abdullah Saleh, aparat bergerak menuju Desa Blang Meurandeh dan menyisiri hulu sungai Krueng Beutong. Siang harinya, pasukan kembali ke desa Blang Meurandeh, sementara masyarakat sudah berkumpul di rumah Bantaqiah. Saat itu, kata Abdullah Saleh, masyarakat yang di atas panggung diperintah turun oleh pasukan aparat dan berkumpul di halaman rumah. Saat mereka sudah berkumpul, kata pengacara di Banda Aceh itu, pasukan TNI langsung menembaki tubuh Tgk Bantaqiah. Melihat Bantaqiah ditembaki, istri dan anaknya, Usman 28, lari dan memeluk tubuh Bantaqiah. Terus, kata Abdullah Saleh, keduanya tak luput dari berondongan peluru hingga bapak, istri dan anak itu tewas bersimbah darah. Setelah itu, masih kata Abdullah Saleh, seluruh pengikut Bantaqiah ditembaki sedangkan sisanya dibawa dengan truk ke arah Takengon. Menurut Abdullah Saleh, seluruh warga sipil yang menjadi korban kekejaman pasukan TNI itu dikubur dalam satu lobang, bekas galian sumur. Sedangkan jasad Bantaqiah, dikubur secara terpisah. "Yang melakukan penguburan massal adalah rakyat yang diperintahkan pasukan TNI," kata Abdullah, mengutip keterangan saksi yang lolos dari pembantaian itu. Begitupun, hingga berita ini dikirm belum diperoleh keterangan nama-nama korban pembantaian itu. (tim) ----------end---------- GAM Bantah Telah Terjadi Kontak Senjata BANDA ACEH (Waspada): Sekjen Majelis Pemerintahan Gerakan Aceh Merdeka (MP GAM), Teuku Don Zulfahri membantah telah terjadi kontak senjata dalam Tragedi Beutong Ateuh yang menewaskan Tgk. Bantaqiah bersama istri dan para muridnya. "Tgk. Bantaqiah hanyalah mangsa genocide yang dilakukan oleh aparat-aparat TNI," tegas T. Don Zulfahri dalam siaran pers yang diterima Waspada di Banda Aceh, Senin (26/7) malam. Dalam siaran pers Sekjen MP GAM yang dikirim melalui faksimil dari Malaysia itu, T.Don juga menyatakan seluruh komponen GAM berdukacita dengan meninggalnya Tgk. Bantaqiah. Karena bangsa Aceh kembali kehilangan seorang guru agama Islam yang berprinsip dan berkaliber. Peristiwa hari Jumat (22/7) yang baru bocor kepada umum Minggu malam itu, menurut T. Don merupakan suatu pembunuhan yang direncanakan oleh TNI untuk menakut-nakuti teungku-teungku dan alim ulama Aceh yang diketahui merestui perjuangan GAM. Kata dia, target yang dipilih TNI jauh dari masyarakat ramai, adalah untuk mengelakkan reaksi spontan dari para santri dan teungku dayah di seluruh Aceh. "Semasa DOM dulu, Tgk. Ahmad Dewi juga diganyang dengan cara serupa." Disebutkan, dalam peristiwa tersebut tidak ada terjadi kontak senjata. Malah, menurutnya, Tgk. Bantaqiah tidak melawan langsung. "Beliau dibunuh dengan kejam diluar prilaku manusia, lebih parah dari binatang. Setelah beliau dihabisi, anak muridnya dibariskan dan ditembak seperti tentara Nazi membunuh kaum Yahudi," papar T.Don. Sementara rentetan peristiwa yang di beberkan Danrem 012/TU Kolonel CZI Syarifudin Tippe, menurut Sekjen GAM ini, semuanya merupakan cerita bohong dan palsu. Kata dia, ganja yang ditemukan adalah rekayasa TNI yang direncanakan, penemuan senjata api bukan bukti ada kontak senjata. "Untuk itu, kami menyerukan bangsa Aceh agar mengusir manusia-manusia hipokrit seperti itu," tulis T.Don. Dalam genocide terhadap Tgk. Bantaqiah, istri dan muridnya, T.Don menyatakan TNI telah merencanakan untuk menyembunyikannya dari pengetahuan umum, sama seperti pembunuhan terhadap Tgk. Ahmad Dewi. Buktinya, kejadian sudah Jumat siang, kenapa baru hari Minggu diberikan penjelasan oleh TNI. Inipun setelah peristiwa itu bocor kepada wartawan, yang disampaikan oleh murid-murid Tgk. Bantaqiah yang sempat menyelamatkan diri. "Kalau tidak, tentu akan menjadi misteri seperti hilangnya Tgk. Ahmad Dewi," tuturnya. Dalam siaran pers itu, T. Don dengan tegas menyatakan GAM tidak akan bertolak angsur dengan TNI dalam keadaan apapun, GAM akan berjuang sampai ke titik darah terakhir, walaupun seluruh rakyat Aceh dibantai seperti Tgk. Bantaqiah. "Biar seluruh bumi Aceh hangus, asalkan Aceh terbebas dari TNI." Pada akhir siaran persnya, T. Don Zulfahri memohon kepada Allah agar mencucuri rahmat dan hidayah-Nya kepada Tgk. Bantaqiah, istri dan para muridnya yang telah lebih dulu berpulang ke pangkuan-Nya AGAM Mengutuk Angkatan Gerakan Aceh Merdeka (AGAM) juga mengutuk keras tindakan sadis pembunuhan tokoh karismatik dan pemimpin agama Aceh Barat Tgk.Bantaqiah dan isteri serta 30 pengikut lainnya oleh pasukan militer TNI dalam suatu penyergapan di lembah Gunung Singgah Mata, Beutong Ateuh, Aceh Barat Sabtu siang lalu (24/7). Demikian diungkapkan AGAM melalui Biro Penerangan Wilayah Pase Ismail Saputra (Abu Is) dalam suatu percakapan telepon dari tempat persembunyiannya. Menurut Abu Is, Tgk, Bantaqiah sama sekali bukan anggota AGAM/GAM. Dia adalah pemimpin karismatik dan tokoh agama di Aceh Barat selain juga pimpinan salah satu pesantren di kawasan pedalaman di Gunung Singgah Mata. Jadi tak ada alasan pasukan TNI menghabisi nyawa tokoh karismatik Islam bersama isteri dan puluhan santrinya itu. "Kami dari AGAM dan juga barangkali seluruh lapisan rakyat Aceh benar-benar mengalami luka hati yang mendalam dan entah cara bagaimana melampiaskan rasa pilu diselimuti duka atas perlakuan penembakan dan pembunuhan tokoh Islam Aceh dan pimpinan pesantren Tgk.Bataqiah beserta isteri dengan puluhan santri yang tak berdosa yang tewas ketika masih menuntut ilmu, terutama Agama Islam," ujar Abu Is dengan rasa haru yang mendalam. Dia lagi-lagi mempertanyakan, kenapa pihak militer TNI sampai hati menembak habis pimpinan pesantren dan isteri serta puluhan santri yang tak berdosa itu tanpa ada rasa prikemanusiaan sedikitpun, sementara mereka jelas tak punya senjata karena bukan anggota AGAM, sayap militer GAM. Abu Is juga membantah keras keterangan Danrem 012/TU Kol CZI Syarifuddin Tippe yang menyebutkan, bahwa dari tangan para korban disita empat pucuk senjata api AK-47, AK-56, pistol Colt 38 dan FN-45 dan sejumlah peluru. "Sebagai orang pesantren, mereka jelas tidak punya senjata api. Namun kalau ada, bagaimana pasukan TNI mendapatkan," ujar Abu Is dengan nada bertanya. Kepada pihak TNI dia juga mengimbau agar tidak gegabah dalam melakukan aksi penembakan. Warga sipil, terutama kaum agama dan para santri yang tak tahu apa-apa harus dibedakan karena mereka bukan anggota AGAM. Karena, kalau tidak, jelasnya, warga sipil Aceh, termasuk anak sekolah akan ikut dibabat habis sehingga akhirnya lebih berharga jiwa binatang ketimbang jiwa rakyat Aceh. "Bagaimanapun, orang Aceh pasti tak mau menerima perlakuan seperti itu dari pihak TNI," katanya. (tim) ----------end---------- _____ <http://clickhere.egroups.com/click/604> click here <http://clickhere.egroups.com/img/000604/BA1087.gif> Click Here! eGroups.com home: http://www.egroups.com/group/al-aneuk_teknik <http://www.egroups.com/group/al-aneuk_teknik> www.egroups.com <http://www.egroups.com> - Simplifying group communications
______________________________________________________________________ If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email; To subscribe: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
