Membaca ribut judul yang kurang bagus tentang Jacob Tobing, biarlah saya
ketikkan tulisan dari Zaim Uchrowi di Republika pagi ini. Tulisan tersebut
bisa jadi contoh bagaimana menyampaikan uneg-uneg secara "cool".
Menyampaikan isi hati secara kurang baik, cuma menimbulkan debat memperkeras
hati menambah permusuhan. Cara yang tepat, bisa menimbulkan pendekatan,
paling tidak sedikit...........

Wassalam.
Abdullah Hasan.

Jacob Tobing dan Isu Sara :

Kemarin seorang pengurus partai Islam menelepon saya . " kok begitu sih
Jacob Tobing, " Katanya. "Kenapa?" tanya saya. " Dia berupaya menjegal
stembus accord partai-partai Islam" katanya pula. " Wah,' pikir saya, "
bisa-bisa saya terseret dalam isu Islam-non Islam."

Selama ini saya mencoba mengambil jarak dari isu tersebut. Saya terlanjur
percaya bahwa kebenaran bisa berada dimana-mana. Nilai Islam yang
kebenarannya sangat saya yakini, bisa berada pada masyarakat Muslim,
masyarakat Kristen, bahkan masyarakat atheis sekalipun. Sebaliknya, sikap
dan praktek kekafiran juga bisa berada dimana-mana. Termasuk dimasyarakat
yang menggunakan label Muslim sekalipun. Bila nilai dan label itu
bertabrakan, saya jelas akan berpihak pada nilai.

Kemarin, telepon itu mengganggu saya. Telepon itu seperti hendak
membenturkan label dengan nilai. Menghadapi posisi demikian, mungkin lebih
enak kalau saya "lari". Menghindar dari isu tersebut. Cara yang demikian
dilakukan intelektual kita , dengan dalih menghindari SARA.

Tapi kenyataannya, semakin dihindari masalah tersebut makin meruncing.
Tragedi Ambon -tepatnya adalah pembantaian warga Muslim disana- adalah
contoh betapa menutup-nutupi masalah  SARA hanya akan melahirkan petaka yang
tak menguntungkan siapa pun. Maka, mengapa kita tidak membahasanya secara
terbuka ?

Dengan pertimbangan itu, sayapun akan melayani ajakan berbincang penelepon
tersebut. Dikatakannya pada saya, stembus accord partai-partai Islam
sebenarnya memperoleh lebih dari 55 kursi. " Tapi Jacob terus ngerjain agar
perolehan hanya cuma 38 kursi" katanya. Langkah itu disebutnya bakal
menguntungkan partai 'merah", terutama PKP yang perolehan suaranya secara
riil sangat sedikit.

"Sebentar" kata saya, "persoalannya islam-non islam atau ada yang lain ?". "
Yang pasti ia tidak fair" katanya, " Petunjuk teknis KPU jelas menyebut cara
perhitungan yang dipakai adalah cara yang telah disepakati partai-partai
yang melakukan stembus accord itu sendiri. Jacob main akal-akalan sendiri ."
"Ia menunjuk sejumlah kasus perilaku Jacob. Antara lain saat ia membuat
radiogram tanpa dasar usai pemilu yang lalu. Juga keterlibatan Jacon dalam
pemenangan GOlkar yang sering disebut2 "kotor" dalam beberapa pemilu silam.
Perilaku yang disebutnya menunjukkan rendahnya etika politisi kita secara
umum.

Saya tidak tahu persis bagaimana Jacob bermain. Tapi, kasus ini cukup untuk
mengingatkan kita , bahwa "system" bangsa ini masih jauh dari rampung.
Banyak persoalan teknis yang tak tergarap. Kita bahkan seperti melupakan
hal-hal teknis demikian. Akibatnya, celah-celah permainan politik pun
terbuka lebar tanpa dibatasi oleh koridor etika. Para pemain politik lalu
menggunakan segala cara. Termasuk cara yang berbahaya : mempertentangkan
Islam non-Islam.

Bukan hanya seputar perebutan kursi yang digoyang isu demikian. Kasus
Indosat-pun tak luput dari goyangan isu ini. Kebetulan, sudah sekian
lamaBUMN ini dipimpin oleh profesional Kristen. Parapak, Tjahjono, serta
Herman Simanjuntak. Dulu menterinya adalah Jop Ave. Kini kepemimpinan
Tjahjono dopersoakan.  Dia , oleh para penyerangnya, dianggap harus
bertanggung jawab atas kerugian negara hingga mencapai triliunan rupiah.

Disaat sedemikian, muncul kasak-kusuk lagi. Pendukung Dirut menyebutkan,
"penyerang menggunakan isu SARA". Sebaliknya, kubu lawan ganti melempar
tudingan. " Mereka sengaja menyebut kami menggunkan isu SARA untuk menutupi
kebusukannya".

Begitulah  bila politik ditegakkan dengan menginjak-nginjak teknis.
Semestinya, persoalan apapun harus dikembalikan untuk dinilai secara teknis.
Sekarang Jacob atau Tjahjono telah menjadi sorotan. Ia harus dibela bila
menurut ukuran teknis is benar. Bila sebaliknya, mereka sedikitnya harus
dicopot segera. Meskipun seandainya mereka bernama Muhammad Jacob atau Ahmad
Tjahjono.


Note : Radiogram Jacob kontroversial (kedua)  itu telah dicabut kemarin.
 AH )


______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!







Kirim email ke