wah si Gigih ini ternyata nggak nangkep essensi dari posting saya tsb
----------
From: GIGIH NUSANTARA
To: [EMAIL PROTECTED]
Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [Kuli Tinta] SI KRISTEN JACOB TOBING CURANGI PARTAI ISLAM
Date: Friday, August 13, 1999 2:01PM
--- Izrin Agus <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> melihat permasalah ini jangan melihat dari satu sisi
> saja lihatlah secara
> keseluruhan, saya pikir wajar-wajar saja penulis
> menggunakan subject seperti
> ini jika melihat tingkah laku yang dilakukan si
> Jacob (Batak) Tobing karena
> yang selalu dirugikan atau untuk dikadali oleh
> beliau itu adalah Partai
> Islam.
>
> SARA itu adalah grey area yang diciptakan oleh Orde
> Baru, sehingga
> ditimbulkan sangat tabu untuk dibicarakan atau
> didiskusikan tapi disaat ini,
> di zaman keterbukaan lebih baik dibicarakan secara
> terbuka karena hal itu
> bukan hal yang tabu untuk dibicarakan.
>
> Regards
> ----------Grey Area.
Yang jadi masalah dari pembicaraan aslinya adalah mengenai 'stembus
accord' versi radiogram PPI, yang sudah dianulir berdasarkan rapat
pleno.
Jika kita arif, dan ingin agar ketentraman semu yang sangat labil saat
ini (kasus bank bali membuat harga rupiah meluncur deras ke bawah, yang
antara lain membuat harga kertas ikut naik, sehingga majalah Arek
tertunda lagi) perlu dijaga baik-baik, maka polemik seputar SA tersebut
lebih baik dibicarakan dalam konteks, mengapa SA seperti itu bisa
terjadi. Juga apakah SA versi itu efektif, dan benar-benar berhasil
sesuai dengan isinya. Jika memang harus didiskusikan, maka prosedur
seperti apakah yang berjalan di PPI tersebut, dan lain sebagainya, dan
lain sebagainya.
Tetapi alih-alih membicarakan kisah SA-nya sendiri, imbuhan 'si
kristen' jelas akan mengajak diskusi menuju ke arah yang berbeda.
Lihatlah tanggapan Martin Manurung, yang lebih tertarik ke masalah
'judul', yang memang kebangeten.
Ketika perasaan ketidaksetujuan ini meruyak, maka ada yang menambahnya
dengan 'grey area' yang 'SARA' itu. Ditambah dengan 'ciptaan ORBA' dan
lain sebagainya, maka esensi soal SA akan berangkat ke mana-mana.
Judul yang 'si kristen' lalu diembel-embeli di belakanganya dengan
'islam', mau tak mau memang berakibat membuka 'meja' diskusi baru. Dan
ketika menu baru ini diperdebatkan, maka sudah aku pastikan, tak akan
pernah ada titik temu. Bayangkan, kalau menu yang Agama ini sampai jadi
bahan debat, apa masing-masing rela, kalau keyakinannya yang mereka
imami sejak usia yang sangat dini, dan menjadi muara dari semua doa,
harapan dan cita-cita di hampir setiap detiknya itu dientengkan oleh
pihak lain, yang notabene berbeda keyakinan?
Saya berpendapat, se-grey-area-pun yang namanya SARA, untuk bangsa yang
tiap hari makin ringkih, tipis, gamang dan mudah retak ini,
sebaiknyalah ditunda lebih dahulu. Bagaimana pun ada pekerjaan berat
lain yang harus mendapatkan porsi lebih banyak.
Jika Anda sabar menunggu Soeharto jatuh selama tiga dasawarsa, mengapa
kita ingin cepat-cepat selesai untuk hal-hal yang sebenarnya tidak
seberapa itu ? bahkan memberatinya dengan muatan-muatan yang justru
menambah musuh?
Jika cuma SA versi PPI yang keliru itu jadi soal, maka pemosting
mestinya cuma perlu satu orang lawan, yaitu Yakob Tobing saja. Dengan
melebarkannya menjadi 'si kristen', berapa banyak ia kuat menampung
lawan-lawan baru?
Bersahajalah.
_________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Bid and sell for free at http://auctions.yahoo.com
______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!