Telah terbukti sentralisasi kekuasaan dalam Negara kesatuan ini menjadikan terkumpulnya dana dan kekuasaan yang economic size-nya membuat semua orang tergiur untuk curang. Membongkar sentralisasi kekuasaan, bisa dengan desentralisasi atau otonomi. Tetapi itu sangat besar potensi untuk memusat kembali, dengan sedikit fine tuning peraturan. Diantaranya karena "kualitas intelektual" orang Pusat lebih canggih dari orang daerah. Jadi potensi kambuhnya sentralisasi masih sangat besar. Lalu terpikir federalisme, yang relatif lebih menjamin kemerdekaan berpikir bagi tiap negara bagian untuk menentukan yang terbaik bagi negara bagian tersebut. Tetapi kalau dipaksakan berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia, dengan kualitas human resources yang masih amat heterogen, potensi pengembangan yang tidak seirama antar negara bagian dapat menjadi penyulut baru kecemburuan antar negara bagian. Selain itu kebebasan gerak tiap negara bagian masih dibatasi oleh Pemerintah Federal, sehingga issue Pusat - Daerah masih berpotensi menimbulkan friksi. Pilihan paling tuntas adalah melakukan reorganisasi total, dengan menawarkan kemerdekaan bagi daerah yang menginginkannya. Yang ingin merdeka persilahkan, yang ingin federal boleh, yang ingin tetap kesatuan hayo aja. Berdasarkan jajak pendapat yang free and fair, disusunlah kembali bentuk kenegaraan yang sesuai dengan keinginan sebenarnya dari tiap daerah. Bagi daerah yang ingin merdeka, aturlah peralihan yang beradab, tanpa konflik. Bantulah daerah itu mempersiapkan kemerdekaannya, sesuai dengan permintaan mereka. Bagi yang ingin federal, kumpulkan dengan daerah lain yang juga ingin federal, lalu bantulah pembentukan pemerintah federalnya. Syukur kalau antar mereka dapat membentuk sendiri.Bagi yang ingin kesatuan, bantulah pembentukan dan peralihan kekuasaannya. Dengan mengikuti keinginan masing-masing daerah semua pihak harus bersikap "legowo", membantu dengan tulus tercapainya keinginan mereka. Antar negara baru ini, kembangkanlah hubungan setara yang non intervensi. Malah saling bantu dalam semangat persaudaraan yang tulus. Bukan seperti sekarang, demi kepentingan ini itu, demi sejarah, demi kebanggaan semu, demi gengsi dan sebagainya, mati matian dipertahankan Negara Kesatuan, yang oleh sebagian rakyat (di Aceh, Papua dan Timtim) dipandang tidak lebih dari penjajahan. Mengapa pembukaan UUD menyatakan "kemerdekaan adalah hak segala bangsa" tetapi dalam praktek "kemerdekaan adalah hak penguasa Jakarta"? Kalau Singapore, Swiss, Belgia, Monacco dan negara dengan sejumput wilayah dan sedikit rakyat itu berhak disebut BANGSA, mengapa Aceh, Papua, Timtim dan sebagainya tidak boleh menyebut dirinya :Bangsa? PERPISAHAN DAMAI, itulah kuncinya. Apa sih yang dikhawatirkan dengan perpisahan damai ini? -- On Sat, 14 Aug 1999 07:26:50 eg wrote: >Radikal discountinue adalah sebuah keputusan untuk stop tidak melanjutkan >proses yang lalu dan memulainya dengan proses yang baru. > >Radikal discontinue imrovement tidak harus dikonotasikan dengan revolusi >dalam artian fisik dan membawa korban jiwa dan hata benda. Keputusan >bank-bank pemerintah untuk mengurangi tenaganya atau PLN yang menghentikan >pembelian listrik swasta atau Pertamina yang menyetop pihak ketiga untk >mengangkut minyaknya atau proses manajemen haji yang berakibat pada >pengembalian ongkos naik haji hingga 3 juta itu adalah sebagian kecil >contoh-contoh radikal discontinue improvement yang bertujuan untuk >perbaikan. > >Habibie naik mengantikan Soeharto bagaimanapun juga sebenarya adalah sebuah >revolusi dan itu adalah radikal discontinue improvement. (bahwa hasilnya >lain, sebaiknya kita buka thread baru) Sekali lagi, apakah mungkin kita >memiliki harapan untuk memperbaiki proses tanpa harus mengganti >simpul-simpul kekuasaan yang akan mempengaruhi lingkungan dimana proses itu >diharapkan akan berubah menjadi lebih baik? > >eg >We have to pay for the freedom, anyway! > > > Get your FREE Email at http://mailcity.lycos.com Get your PERSONALIZED START PAGE at http://my.lycos.com ______________________________________________________________________ If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email; To subscribe: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
