--- bRidWaN <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Rekan2,
>
> Saya ingin melemparkan isue disini, apakah
> betul atau apakah mungkin PDIP dan Golkar
> bersatu atau bekerja sama atau berkoalisi ?
>
Secara organisatoris, sulit. Sejak awal sudah terjadi semacam
pengelompokan, model-model kubu, bak minya dan air.
Pada posting saya yang sudah lumayan lama, saya pernah membuat
kalkulasi, yang saya rasa masih cukup relevan, sebagai berikut :
Bahwa habibie pasti jeblok, nggak ketulungan. Beberapa skandal, yang
sebenarnya banyak diacak-acak oleh Baramuli yang kesetanan untuk
numpang tempat, kalau-kalau, siapa tahu, Habibie jadi. Si Baramuli
melihat bahwa mesin politik Golkar ibarat kendaraan yang mesin maupun
rodanya, sungguh tidak seimbang. Yang nyetirnya juga rada-rada tidak
sepenuh hati, untuk nengantar calon pengantin menuju ke singgasana
pelaminan. Padahal tahu betul, si Baramuli ini merasa kalau bukan
Habibie, siapa yang suka sama kelakuannya tersebut.
Sebagai Ketua DPA benar-benar sangat menjijikkan. Jika 'penasehat'-nya
saja seperti itu, tahu sendirilah seperti apa kualitas nasehat yang
keluar dari mulutnya. Lebih-lebih jika yang diberi nasihat kelasnya
masih seperti si Pandir, lalu di sekelilingnya penuh durna, jadilah
wajah republik ini benar-benar berantakan tak ketulungan.
Mestinya, ya mestinya, negeri yang sudah benar-benar tak berharga ini
layak untuk lebih bersikap arif, sabar, dan tekun. Kehidupan negeri ini
tak bisa sama sekali tegak, tanpa sokongan dari masyarakat bangsa dunia
lain.
Siapa yang tak sebel, kalau kemudian para petinggi negeri ini masih
mengira mereka ini memimpin negeri yang masih komplit harta dan
sumberdayanya. Sikap pongah, dan sok-sokan gaya Baramuli cs. malah bisa
merubah keinginan membantu lepas dari kemelut bangsa-bangsa lain
menjadi tak suka. kalau cuma sekedar lepas tangan, masih untung.
Bayangkan kalau mereka ikut main menggoda-goda? Dolar yang sudah anteng
di level 7-rebu tiba-tiba harus melejit lumayan tinggi. Jangan mengira
ini cuma soal ekonomi, demand-supply, saja.
Karena penasihat model Baramuli yang diam-diam dengan cs-nya bikin
acara Tim Sukses, serta main maling-malingan yang sangat menjijikkan,
maka wajar, di dalam tubuh partai Golkar akan muncul perasaan antipati.
Lebih-lebih partai ini sudah kena cap pro-SQ dan non-Reformis, berkat
masih adanya jejak langkah 'monster Orba'. Selain itu, partai Golkar,
yang mendendangkan 'paradigma baru', dengan sejumlah tokoh yang ingin
bersih dari masa lalu, demi persiapan pemilu 2004 (yang 1999 terbukti
tidak sukses), pasti akan mengalami proses kristalisasi habis-habisan.
Kesempatan sidang umum MPR adalah panggung yang paling relevan untuk
mempagelarkan apa yang mereka sebut 'paradigma baru'.
Kepemihakan kepada ordo-reformasi, yang memperoleh dukungan rakyat,
adalah sebuah hal yang bersifat mutlak. Jika grup Habibie berantakan,
corang-moreng, seperti bisa dilihat pada kasus-kasus yang akhir-akhir
ini mencuat, maka memilih mendukung Habibie adalah sebuah blunder
besar.
Pembinaan kelompok-kelompok yang melapisi Habibie, dengan Baramuli
sebagai ujung-tombak, dan tim sukses di lapis-lapis berikutnya,
setidaknya banyak mengurangi dukungan terhadap habibie ini dari
kalangan partai Golkar. Itung-itungan politiknya sudah bisa ditebak,
bahwa jika Habibie sukses, maka pihak-pihak sekeliling Habibie itulah
yang punya 'invoice' untuk menagih, bukan sebangsa Marzuki Darusman,
Eki Syahrudin, bahkan macam Akbar Tanjung seklaipun. Jadi, mengapa
harus merelakan masa depan partai ini hanya untuk mendukung sekelompok
pemain-pemain politik yang semakin banyak tidak disukai ini?
Maka, akan ada semacam sebuah kristalisasi di tubuh Partai Golkar, yang
di pihak lain justru melecut partai PDI Perjuangan untuk semakin solid.
Komponen-komponen di Poros Tengah pun juga akan mengalami situasi yang
serupa. Ini bukan karena ada yang main mata dengan Habibie yang
rivalnya Mega saja, tetapi juga banyak tokohnya yang semakin sulit
dimengerti mau kemananya. Banyak yang sudah tidak lagi setia dengan
komitmen awalnya, selain di tubuh poros tengah ini justru terdiri dari
para pendekar-pendekar utama, yang masing-masing sudah memiliki bakat
'lebih jago dari yang lain'. Simak saja omongan Amien Rais, Hamzah Has,
serta Yusril, di level atas. Lalu dengar juga sikap-sikap dari level
yang di bawahnya, seperti Faisal Basri.
Maka kemungkinan golongan-golongan yang sudah jijik di dalam tubuh
Golkar, dan sejumlah partai di Poros Tengah akan menghasilkan sebuah
gelombang yang sangat besar, bergabung dengan kekuatan yang kian solid,
berkat kiprah Mega yang kian diperhitungkan (terlepas benar atau salah,
sederhana atau tidaknya). Gelombang besar inilah yang saya perkirakan
akan muncul, dan jadi sandaran utama untuk Indonesia Baru.
Bukan PDI Perjuangan dan Golkar yang akan bersatu. Tetapi mereka-mereka
yang punya concern dengan masa depan negeri ini, yang akan bersatu. dan
itu bukan monopoli PDI Perjuangan serta Golkar saja.
Gigih
_________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Bid and sell for free at http://auctions.yahoo.com
______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!