mBak Titiek,
Ali Sadikin tidak mau dimakamkan di TMP karena dia tidak mau bersanding
dengan para koruptor. Itu dikatakan ketika Orba masih berkibar lho.
Nah tahun lalu hal itu telah menjadi polemik dan akhirnya muncul siapa yang
yang berada dibelakang pengusulan nama-nama itu. Masih ingat polemik
pengangkatan 45 anggota DPA? Akhirnya kita memang harus memaklumi.
Obral Bintang Maha Putra apalagi terhadap individu-individu yang telah
memperoleh citra jelek di masyarakat memang menjadi motivasi negatif bangsa
ini untuk berbakti kepada tumpah darahnya. Ini berbahaya bagi generasi
penerus!
Kalau Om beDoer kemarin mempermasalahkan kata kerja aktif dan pasif maka ini
adalah contoh yan pasif dimana Presiden Habibie dikendalikan oleh individu
atau kelompok tertentu untuk menetapkan siapa yang berhak untuk memperoleh
Bintang.
Seorang pemimpin dalam posisi mengendalikan bukan dikendalikan. Kepala
pemerintahan adalah seorang pemimpin negara. Ia harus mengendalikan
pembantu-pembantunya untuk mewujudkan tujuan-tujuan neara. Bila tidak maka
conflict of interest akan terjadi. Kita tidak mengetahui apa yang terjadi
dalam koalisi internal organisasi pemerintahan terutama dengan para Menko.
Namun, kalau kita mencermati ouput yang dihasilkan didalam pembuatan
keputusan dan kebijaksanaan maka kalimat pasif itu memang pantas digunakan.
Fakta sudah tergelar dan pilihan harus dibuat Bedol pemerintahan adalah
solusi untuk memperbaki!
��
----- Original Message -----
From: Titiek Darmono <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 18 August 1999 01:44
Subject: [Kuli Tinta] Taman Makam Pahlawan (TMP)
Sahibul hikayat, dengan pemberian bintang maha putera seratusan lebih,
berarti mereka memenuhi syarat untuk dimakamkan di TMP. Baca perlahan-lahan
Taman ...Makam...PAHLAWAN !!!! kelak akan bertambah seratusan lebih.
Amaaaan...dalam arti kelak mereka tidak akan digusur,
sekalipun lokasinya diperlukan untuk mall ????/kantor ???? atau lain-lain.
Nah yang jadi persoalan, yang ingin saya sampaikan pada rekan-rekan untuk
mendapatkan tanggapan atau komentar adalah untuk hal-hal sebagai berikut :
1. Apakah mereka2 itu pantas dikategorikan sebagai pahlawan ???, baik yang
sekarang mendapatkan bintang maha putera/puteri atau apalah na - manya
ataupun (maaf) yang sudah lebih dahulu dikebumikan.
Karena yang saya ketahui, yang dimakamkan disana disamping sipil, sebagian
besar adalah para Jenderal yang juga tidak kita ketahui kadar
kepahlawanannya sampai dimana. Mau contoh ???, Bisa kita lihat seperti
misalnya "KORUPTOR" Pertamina Tahir, yang tinggalan accountnya diperebutkan
oleh Pemerintah RI vs Isteri kedua almarhum vs anak2nya dari isteri pertama,
dan banyak lagi contoh lainnya.
2. Yang kedua yang ingin saya persoalkan, kalau memang TMP hanya untuk para
Jenderal (yang belum tentu seorang pahlawan) dan sebagian kecil sipil,
kenapa namanya tidak diganti saja menjadi "TAMAN MAKAM PERWIRA". Tetap sama
berinisial TMP tapi mempunyai arti/konotasi yang berbeda/lebih netral, dari
pada sudah jelas2 orang tersebut koruptor atau penghianat bangsa, tapi
dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.
Tanggapan maupun komentar atas uneg2 saya tersebut di atas sangat saya
nantikan, barangkali saja bisa jadi bahan dan dibaca oleh pemerintah untuk
meninjau kembali kebijaksanaannya yang kurang pas dengan keadaan dewasa ini.
Sehingga jangan sampai ada kata2 TMP ON SALE seperti halnya MAHA PUTERA ON
SALE....he...he...he.(Pelecehan ?).
Bye,
Titiek D.
_______________________________________________________________
Get Free Email and Do More On The Web. Visit http://www.msn.com
______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!