Ini saya ambilkan dari milis lain yang ditulis Lion.
Ada komentar ?
LION -- Amien Rais dan Poros Tengah yang Mencurigakan (3)
Fri, 27 Aug 1999
Setelah mungkin kucing tertawa karena melihat ada capres dari sebuah
parpol yang bernama PAN, yang hanya mampu memperoleh 7,5 persen suara,
tetapi naga-naganya capresnya tetap berambisi menjadi presiden,
sebagaimana saya singgung dalam bagian pertama posting ini. Sekarang,
mungkin ada lagi orang yang mengigau. Apa pula ini? Dalam sebuah
wawancaranya, ketika Amien disinggung bahwa ada kecurigaan Poros Tengah
diadakan untuk mendukung Habibie, Amien menjawab: "Kalau ada anggapan
poros tengah dibuat untuk mendukung Habibie, itu mengigau. Sulit
mencari kesalahan yang lebih fatal dari pendapat seperti itu!" (Oposisi
No. 55, 22 Agustus 1999). Perkembangannya sekarang?
Amien Rais menemui Habibie di kediamannya di Patra Kuningan. Itu berita
yang kita peroleh beberapa waktu lalu. Terus kenapa? "Tidak ada
apa-apa," jawab Amien Rais. "Hanya silahturahmi biasa," kata Ketua PAN
dan pemrakarsa Poros Tengah itu. Dan yang disebut "tidak ada apa-apa,
dan hanya silahturahmi biasa" itu ternyata membutuhkan waktu selama
sekitar tiga jam lebih, dan berupa pembicaraan empat mata antara kedua
tokoh tersebut. Jadi, percayakah Anda bahwa pertemuan itu merupakan
pertemuan biasa? Tidak ada tendensi politiknya?
Wajarlah orang pun sangat curiga, bahwa maksud kedatangan Amien itu
jelas-jelas mempunyai maksud politik tertentu. Apakah itu dalam rangka
mendukung Habibie? Bisa saja "ya." Tetapi bukankah, dalam banyak kali
wawancara, terutama di media-media cetak, dalam rangka diadakan Poros
Tengah, Amien Rais dengan tegas-tegas mengatakan bahwa dia menolak
Habibie dan Megawati sebagai calon presiden? "Habibie No, Mega No!" dan
judul-judul sejenis dari wawancara dengan Amien berkenan dengan Poros
Tengah, yang diberitakan di beberapa media cetak, yang belum lama ini
bisa kita baca. Jadi, bukankah tidak mungkin Amien sekarang malah mau
mendukung Habibie?
Bukan Amien namanya kalau omongannya tidak bisa dipegang. Pada awal
pembentukan Poros Tengah saja, Amien mengatakan bahwa diadakan Poros
Tengah adalah untuk mencairkan pertentangan politik antara kubu Habibie
dengan Megawati. Katanya, Poros Tengah akan mengajak Habibie dan
Megawati untuk duduk berunding, guna memecah kebekuan pertentangan di
antara mereka, sehingga akan dicapai solusi yang terbaik bagi bangsa
dan negara.
Namun dalam hitungan hari, dia sudah berubah bicaranya. Katanya, Poros
Tengah menolak Habibie dan Megawati sebagai calon pimpinan bangsa ini.
Lepas dari tulus tidaknya maksudnya, bagaimana bisa mereka akan
mengajak kedua tokoh itu berunding, dengan Poros Tengah sebagai
"mediatornya," kalau belum-belum sudah mengambil sikap bertolak
belakang dengan mereka?
Di dalam buku "Membangun Politik Adiluhung" (Zaman, 1998) yang berisi
kumpulan tulisan-tulisan Amien Rais, terdapat beberapa bagian yang
berisi pendapat Amien tentang Habibie. Misalnya di bawah bagian yang
berjudul: "Cendekiawan Salon Memang Masih Ada dalam Masyarakat" halaman
117, terdapat beberapa paragraf yang berbicara soal hubungannya dengan
Habibie dan memuji-mujinya. Saya kutip untuk Anda:
<Kutipan dimulai>
** "Dengan Pak Habibie saya cukup dekat. Tiga kali saya diajak ke Timur
Tengah: Iran, Uni Emirat Arab dan Arab Saudi. Pak Habibie pernah
mengatakan: 'Pak Amien itu kan ahli Timur Tengah. Siapa tahu saya perlu
wawasan-wawasan Anda.'
Ketika saya ikut ke Iran, sedikit-banyak saya membantu Pak Habibie.
�Tentang persepsi rakyat Iran yang sangat bangga terhadap revolusinya.
Saya katakan pada Habibie, apapun pandangan mengenai revolusi itu
(revolusi Islam, -- Lion) ada baiknya kita ikut bangga dengan revolusi
Iran.
� Habibie itu orang yang saleh. Puasa Senin-Kamisnya tidak pernah
lepas, kecuali ketika sangat lelah atau tidak makan sahur. Shalatnya
tepat waktu. Bahkan setiap di pesawat terbang, tidak pernah membaca
majalah, tapi al-Quran. Saya kira itu merupakan kesalehan yang built in
dalam diri Habibie.
Buat saya ini menarik. Sebagai pakar teknologi yang puncak, dia tidak
meninggalkan sikap kesalehan itu. Komitmennya terhadap rakyat banyak
juga tidak dibuat-buat . �"**
<Kutipan diakhiri>
Jadi, pantaslah kita sangat curiga dengan manuver Amien Rais yang
bertemu dengan Habibie dan melakukan pembicaraan "rahasia" empat-mata
selama lebih dari tiga jam itu. Ditambah lagi dengan mencuatnya skandal
Bank Bali. Pernahkah kita dengar Amien mengecam Habibie? Satu katapun
tidak! Lepas dari bersalah-tidaknya Habibie. Turut terlibat, atau
tidaknya Habibie dalam skandal Bank Bali. Sebagai presiden Habibie
harus bertanggung jawab, tidak "lepas tangan" seperti sekarang ini.
Sebaliknya, Amien malah balik mengecam PDI Perjuangan, yang menurutnya
tidak etis, karena katanya, mempolitikkan skandal Bank Bali. Kemudian
mencoba mengalihperhatian umum dengan mengatakan bahwa PDI Perjuangan
ternyata telah terlibat money politics, karena menerima bantuan
ratusan miliaran rupiah dari berbagai kalangan pengusaha konglomerat
(terutama dari grup Lippo). -- tanpa bukti yang memadai
Apa yang dikomentari Amien ini, mempunyai warna sikap yang mirip sekali
dengan watak Orde Baru yang juga diwarisi pemerintahan Habibie. Yakni,
bukannya memasalahkan substansinya, tetapi malah menyalahkan pihak yang
"membongkar" suatu skandal/kejahatan. Seperti kasus Ghalib, bukannya
Ghalib yang diusut (secara benar dan tuntas), malah ICW yang
membongkarnya yang dijadikan sasaran tembak. Demikian juga dengan
skandal Bank Bali dengan PDI Perjuangan yang memprakarsai
pengungkapannya secara tuntas, bukannya skandal itu dengan orang-orang
penting (termasuk Habibie) yang diduga keras terlibat itu yang dituntut
agar diusut, Amien malah menyalahkan PDI Perjuangan.
Sepertinya, dengan semakin tersudutnya kubu dia bersama dengan kubu
Habibie (yang mungkin saja merupakan satu kesatuan), perlahan-lahan
kedok reformasinya mulai terlepas. Perlahan-lahan Amien kembali ke
habitatnya.
Tempo hari Amien jugalah yang paling rajin menghujat Golkar. Bahkan
beberapakali pernah mengusulkan agar Golkar dibubarkan saja dan
dilarang ikut Pemilu. Sebagai kompensasi dari dosa-dosa politiknya,
kata Amien ketika itu. Tetapi apa yang terjadi setelah hasil pemilu
diumumkan?
Masih segar dalam ingatan kita, tokoh-tokoh PAN, termasuk Amien Rais
sendiri pulalah yang memberi semacam tawaran kepada Golkar untuk
berkoalisi dengan PAN, dengan satu syarat utama: Golkar harus mencabut
pencalonan Habibie sebagai presdien! Ketika itu pulalah orang menaruh
curiga, bahwa di balik itu secara tidak langsung kubu PAN hendak
mengatakan Golkar bisa diterima PAN asalkan Amien Rais mengganti posisi
Habibie sebagai capres dari hasil koalisi tersbut. Sebab, kalau
syaratnya agar Golkar melepas Habibie. Siapa lagi penggantinya kalau
bukan capres dari PAN?
Ironisnya Golkar pun menolak tawaran tersebut. Bahkan PAN dianggap
tidak tahu diri, karena sudah posisi tawarnya lemah (kalah jauh dari
Golkar), tetapi bisa-bisanya mereka yang memberi syarat. Hal yang sama
juga pernah ditawarkan PAN kepada PDI Perjuangan. Kata mereka agar PDI
Perjuangan bisa pro aktif untuk mendekati PAN, karena bagaimanapun,
posisi Amien Rais masih signifikan dalam menentukan capres dari parpol
tertentu. Rupanya setelah kalah sikap mereka yang terlalu percaya diri
masih belum hilang. Setelah menerima penolakan-penolakan ajakan itu,
dan melihat kenyataan perkembangan yang ada, barulah mereka menutup
mulut mereka.
Tetapi rupanya tidak lama. Sebab sekarang mereka mulai bersuara lagi,
setidaknya tokoh yang bernama Amien Rais itu. Setelah menggandeng
parpol-parpol berasas Islam, Amien mulai bersuara lantang lagi dengan
Poros Tengahnya itu. Seolah-olah posisi Poros Tengah sudah solid dan
paling kuat, dia mulai pasang harga lagi. Katanya, Poros Tengahlah
yang paling kuat posisinya (dilihat dari jumlah perolehan kursi --
padahal itu belum tentu, karena PKB sudah hampir pasti tidak mau
bergabung) ketimbang Golkar, maupun PDI Perjuangan. Oleh karena itu
kedua parpol itu harus melakukan pendekatan dengan Poros Tengah untuk
memuluskan jalan mereka di Sidang Umum MPR nanti. Sesuatu pernyataan
yang sebenarnya kontradiksi dengan pernyataannya kemudian, yakni bahwa
dia menolak Habibie, maupun Megawati. Bahkan PPP yang merupakan bagian
tak terpisahkan dari Poros Tengah sudah dengan tegas mengemukakan
kriteria utama capres mereka, termasuk kriteria: putra (baca:
laki-laki) terbaik dan beragama Islam. Suatu penyampaian kriteria yang
langsung menggeser Megawati. Bagaimana bisa, sekarang malah katanya
Poros Tengah hendak memberi tawaran seperti itu?
Saya menduga bahwa dibentuknya Poros Tengah tidak lepas dari maksud
terselubung mereka untuk memperkuat posisi Habibie sebagai capres, dan
Amien Rais sebagai alternatifnya. Yakni apabila posisi Habibie
benar-benar tidak bisa lagi dipertahankan akibat dari berbagai skandal
dan tregedi yang terjadi (seperti skandal Bank Bali). Amien Raislah
yang akan dimajukan. Habibie adalah calon utama. Itu skenario A. Kalau
gagal, sudah disiapkan skenario B, yakni Amien Raislah sebagai
presidennya. Yang penting mereka sebuah berasal dari satu grup dan satu
aliran.
Indikatornya ada. Antara lain adalah sudah terang dan jelas setidaknya
tokoh-tokoh penting di Poros Tengah, seperti Hamzah Haz dan Yusril Ihza
Mahendra adalah pendukung utama Habibie. Bahkan salah satu Ketua DPP
PAN sendiri, Dawam Rahardjo adalah pendukung setia Habibie. Kita akan
bertambah yakin, kalau melihat sebagian besar tokoh-tokoh di Poros
Tengah, tak terkecuali Amien Rais, itu adalah orang-orang ICMI yang
selama sekian tahun mempunyai Ketua Umum yang bernama B.J. Habibie.
Bersambung
LION -- Amien Rais dan Poros Tengah yang Mencurigakan (4 -- habis)
Sun, 29 Aug 1999
Dalam sebuah wawancaranya dengan tabloid Oposisi edisi Nomor 55, 1999,
Dawam Rahardjo salah satu Ketua DPP PAN dan juga tokoh ICMI, dengan
tegas dan lugas menolak Megawati dan mendukung mati-matian Habibie,
dengan alasan untuk menyelamatkan bangsa ini, agar tidak dipimpin oleh
orang yang tidak mampu. Ketika didesak bahwa penolakan terhadap Habibie
sangat deras, Dawam meng-counter-nya dengan mengatakan, walaupun banyak
rakyat yang menolak, semuanya tergantung dengan Sidang Umum MPR. Suatu
pendirian yang mirip pemikiran rezim Soeharto: "Masa bodoh dengan suara
sesungguhnya dari publik, yang penting apa maunya penguasa. Semuanya
mudah dibelok-balik dalam sidang umum yang akan 'disandiwarakan. ' "
yang akan dibayar dengan miliaran rupaih per kepala, seperti banyak isu
yang santer beredar itu.
Di tabloid Siar yang dikenal sebagai media Islam garis keras, Dawam
pernahmemberi komentar terhadap kelompok yang antiHabibie (yang disebut
dengan istilah "benci" Habibie) yang dikait-kaitannya dengan faktor
agama lagi. Dawam berkata, orang-orang yang tidak suka Habibie adalah
orang-orang Kristen, atau kelompok nasional-sekuler yang ditunggangi
Kristen, yang ingin mengmarjinalkan Islam. "Jadi, orang yang benci
Habibie itu karena benci pemerintahannya tetapi karena keIslamannya."
Itu hanya sebagian kecil dari sikap orang-orang yang dari Poros Tengah,
yang kadangkala, barangkali, kelepasan ngomong, sehingga membuka kedok
mereka sendiri. Bahwa sebenarnya mereka adalah para pendukung Habibie
dengan alternatif Amien Rais, seperti yang saya sebutkan di atas.
Pokoknya orang-orang ICMI yang harus berkuasa di negeri ini! Itu yang
barangkali menjadi prinsip mereka.
Dengan terus membawa sentimen agama, ada dugaan pula kehendak kuat
mereka mengubah UUD 1945 adalah dengan menjadikannya sebagai suatu
konstitusi yang membawa negara ini ke suatu "negara agama." Partai
Bulan Bintang, misalnya, yang paling antusias mengembalikan Piagam
Jakarta (Jakarta Charter) yang menekankan unsur agama Islam, sebagai
pengganti UUD 1945 sekarang. Demikian juga Amien Rais dalam sebuah
tulisannya mengatakan, "Kita harus ikut bangga dengan (menangnya)
revolusi Islam di Iran." (Lihat tulisan ini bagian ketiga). Jadi,
semangat mengubah konstitusi yang mereka cetuskan cenderung ke
konstitusi yang mengarah ke unsur "negara Islam." Sekarang posisi
mereka belum terlalu kuat. Jika kelak kekuatan mereka menjadi kuat dan
sudah menentukan (solid), sikap-sikap sebenarnya yang selama ini
terbenam (tetapi sekali-sekali kelihatan, karena ada yang tidak tahan
menahan omongan) akan bermunculan satu per satu. Dan mereka inilah yang
tergabung dalam Poros Tengah!
Untuk memperkuat posisi Poros Tengah tersebut, Amien Rais mencoba
merayu PKB dengan mencalonkan Gus Dur sebagai presiden, sebagaimana
dikumandangkan Amien Rais. Karena kalau PKB berhasil diajak bekerja
sama dengan "imbalan" mencalonkan Gus Dus sebagai presiden, barulah
perolehan kursi dari "tim" Poros Tengah itu signifikan. Tanpa PKB
jumlah kursi yang mereka miliki masih belum bisa berbicara banyak. Di
samping harapan pada Utusan Golongan/Daerah.
Tetapi rupanya strategi, atau rayuan Amien Rais ini tidak laku di mata
para tokoh PKB. Di sela-sela rapim yang dilangsungkan di Hotel
Penisula, Jakarta, Minggu, 15 Agustus lalu, Ketua DPP PKB Khofifah
Indar Parawansa, berkomentar "Selama rapim berlangsung, persoalan poros
tengah memang tidak dibahas. Kami memandang bahwa poros tengah bukan
merupakan kekuataan riil. Karena itu tidak perlu diresponsi. Cuekin
saja." PKB menganggap pencalonan Gus Dur oleh Amien Rais dengan
mengatasnamakan Poros Tengah hanya merupakan manuver politiknya (dengan
Poros Tengah) karena situasi politik yang cenderung menguntungkan PDI
Perjuangan, dan membahayakan posisi Habibie, atau klik mereka. Nanti
setelah situasi berubah, kelompok poros tengah itu akan berubah lagi
sikap. PKB tetap menghormati hasil pemilu yang memenangkan PDI
Perjuangan. Sangat tidak realistis kalau PKB ngotot mencalonkan Gus Dur
sebagai capres. Padahal perolehan suara PKB di bawah 20 persen. Begitu
secara garis besar yang diutarakan pihak PKB tentang suara-suara dari
Poros Tengah itu.
Agak aneh terjadi, tempo hari ketika Amien Rais (dan Poros Tengahnya)
mencalonkan Gus Dur sebagai capres. Gus Dur berkata bahwa dia terima
saja pencalonan itu, tetapi dia sendiri tetap memegang Megawati sebagai
capres mendatang. Alasannya karena PDI Perjuangan yang menang dalam
pemilu. Tetapi, Amien cs rupanya tetap ngotot. Seperti mata gelap,
setiap kali Gus Dur berkata seperti itu (tetap mencalonkan Megawati),
Amien selalu dengan cepat muncul, dengan mengulangi komentarnya bahwa
pencalonan Gus Dur tetap berlaku. Padahal mungkin saja, komentar Gus
Dur yang mengatakan dia menerima, tetapi tetap mencalonkan Megawati
sebagai pemenang pemilu, merupakan sindiran buat Amien cs. Tetapi
mereka tidak mau tahu, menutup mata dan telinga, dengan tetap terus
mendorong Gus Dur yang mereka maksudkan dijadikan pion politik klik
mereka. Bila saatnya tiba, situasi politik berubah, Gus Dur akan
ditendang.
Komentar Gus Dur yang terus-menerus mengatakan menerima pencalonan
capres tetapi tetap memegang Megawati karena dia berasal dari capres
yang memenangkan pemilu, rupanya sempat menggusarkan sebagian orang di
Poros Tengah. Terutama orang-orang PAN. Karena respon Gus Dur seperti
ini bisa membuyarkan skenario dan strategi kelompok Poros Tengah. Salah
satunya adalah Dawam Rahardjo dari PAN, yang dengan geram berkata
kepada wartawan, bahwa yang mengacaukan upaya politik Poros Tengah
adalah Gus Dur. Karena, menurut dia, Gus Dur terus-menerus mengatakan
bahwa dia tetap memegang Megawati.
Tetapi, rupanya kegelisahan dan kegerahan kelompok Poros Tengah
terhadap sikap Gus Dur tidak bertahan lama. Belum lama ini Gus Dur,
seperti biasanya, memberi komentar yang terkesan mencla-mencle. Dia
berkata, bahwa dia siap dicalonkan sebagai presiden, dan tidak lagi
mendukung Megawati.
Manuver politik Gus Dur ini, seperti biasa, terkesan sekali plin-plan
dan membinggungkan banyak orang. Benarkah kini Gus Dur sudah melepaskan
Megawati dan tergiur dengan rayuan kelompok Poros Tengah dengan "calon
presiden" itu?
Saya kira Gus Dur tidak akan sebodoh itu. Bagaimana pun antara kelompok
NU dan Muhammadiyah (yang dipersonifikasi dengan Amien Rais) sebenarnya
tetap berseberangan. Apakah Gus Dur mau begitu saja menyebrang ke Poros
Tengah yang nota bene dinahkodai oleh tokoh Amien Rais (yang banyak
tidak disukai di NU) itu? Padahal kelompok ini sebenarnya masih rapuh,
selama belum ada dukungan dari kelompok lain, seperti dan terutama dari
PKB. Walaupun bergabung, parpol-parpol Islam ditambah PAN (yang
mengaku) sebagai parpol nasionalis, tetap tidak cukup kuat dalam SU MPR
nanti, kalau tidak mendapat dukungan dari Utusan Golongan/Daerah, TNI,
PKB, dan sebagainya.
Jadi, komentar Gus Dur yang terakhir ini pun bisa jadi sebenarnya
menyelubungi maksud-maksud tersembunyi Gus Dur, yang merupakan adu
strategi dalam melayani strategi dan manuver kelompok para oportunis
yang bernama Poros Tengah itu, yang hendak memperalatkannya.
Menyikapi sikap PKB yang tetap tidak mau mencalonkan Gus Dur sebagai
presiden, dan tetap pada pendirian mendukung Megawati sebagai capres
pemenang pemilu, Gus Dur berkata yang namanya politik itu bisa
berubah-ubah. Demikian pula kemudian dari PKB (Matori Abdul Djalil)
berkata seperti itu. Khofifah Indar Parawansa berkata, ya memang bisa
berubah, bisa saja nanti PKB malah mendukung Gus Dur. Bingung? Ya,
memang membingungkan. Tetapi, cermati makna lain yang terkandung di
dalam pernyataan-pernyataan itu.
Mereka mengatakan yang namanya politik bisa berubah-ubah. Itu adalah
kenyataan. Jadi, mereka tidak usah bicara begitu kita juga tahu, bahwa
sikap para politisi itu memang bisa berubah-ubah. Apalagi dengan para
oportunis politik di negara ini. Tetapi yang disebut berubah-ubah itu,
bisa saja merupakan sindiran tidak langsung dari Amien Rais yang suka
berubah-ubah dalam mengeluarkan pernyataan-pernyataannya. Atau lebih
intinya adalah, kalau memang sikap politik bisa berubah-ubah. Maka,
mungkin juga Gus Dur itu akan kembali ke sikapnya semula (yang
sebenarnya) bahwa dia akan mencalonkan Megawati lagi.
Pernyataan-pernyataan Gus Dur, seperti menerima pencalonan Poros Tengah
supaya dirinya menjadi presiden, dan sebagainya, diduga juga semakin
upaya untuk mendinginkan suhu politik. Permainan Poros Tengah itu
dilayani Gus Dur, sehingga suhu politik dalam hal bursa calon presiden
itu sekarang memang agak mendingin. Kemungkinan lain adalah agar pihak
PDI Perjuangan, jangan terlalu percaya diri, sehingga lupa daratan
dengan kekuatan mereka sendiri. Dengan begitu, mereka diharapkan bisa
instrospeksi dan melakukan konsolidasi lebih lanjut.
Dalam beberapa kesempatan Amien Rais dengan tegas membantah
kecurigaan-kecurigaan bahwa manuver politiknya Poros Tengah hanya akan
berujung pada pencalonan Habibie sebagai presiden, dan alternatif
dirinya sendiri sebagai presiden. Apakah penegasan Amien ini merupakan
jaminan?
Seperti yang saya katakan, semakin lama omongan Amien ini susah
dipegang. Beberapa waktu lalu, sewaktu masih terjadi perhitungan suara
sementara pemilu, tetapi sudah mutlak-pasti PAN tidak akan mampu meraih
sampai 10 persen suara. Amien Rais sendiri berkata bahwa dia menerima
kekalahannya, dan akan menjadi kelompok oposisi. Mengenai pencalonannya
sebagai presiden oleh PAN, dengan kalahnya PAN, maka peluang itu
menjadi sangat kecil. Tetapi, kata Amien, semua bisa berubah kalau
suara rakyat menghendaki. Kata-kata bersayap seperti ini yang akan bisa
jadi kita dengar lagi nanti, sebagai "perubahan" dari penegasannya yang
menyangkal bahwa kelompok Poros Tengah itu sebenarnya mempunyai tujuan
untuk mengegolkan Habibie sebagai presiden mendatang, atau malah
dirinya sendiri sebagai alternatif.
Bila situasi politik berubah, dengan menguntungkan kelompok Poros
Tengah, dan kemudian Habibie, atau dia sendiri dengan terang-terangan
(dicalonkan) sebagai presiden, Amien akan berdalih bahwa itu merupakan
perwujudan dari suara rakyat juga. Penegasannya yang menyangkal
kecurigaan di atas, tetap diragukan ketulusan dan kebenarannya: "Sekali
menipu seumur hidup orang tidak akan percaya."
Demikianlah kita sekarang membaca, seolah-olah terjadi ketidakserasian
di antara kelompok Poros Tengah dalam hal pencalonan Gus Dur sebagai
capres mereka. Seperti yang dikatakan oleh Zarkasih Noor dari PPP, atau
Yusril Ihza Mahendra dari PBB, bahwa sebenarnya belum ada kesepakatan
bulat Poros Tengah mencalonkan Gus Dur. Seolah-olah itu kehendak semata
dari Amien Rais dan beberapa kawannya di Poros Tengah. Sedangkan yang
lain masih belum menentukakan sikap. Yang janggal adalah apabila memang
belum ada kesepakatan tentang hal itu, kok bisa-bisanya Amien cs di
Poros Tengah itu lancar-lancar saja melakukan manuver mereka
mencalonkan Gus Dur dengan mengatasnamakan Poros Tengah? Kenapa mereka,
yang mengatakan belum ada kesepakatan itu hanya diam saja melihat Amien
cs mengatasnamakan Poros Tengah seperti itu?
Jawabannya adalah mungkin seperti yang saya sebutkan di atas. Bahwa ini
pun merupakan strategi kelompok Poros Tengah, yakni apabila situasi
politik berubah, Poros Tengah akan dengan mudah membanting kemudinya
sesuai dengan situasi pada waktu itu. Misalnya dengan membuang Gus Dur,
dan mencalonkan Amien Rais. Bukankah pencalonan Gus Dur itu bukan
merupakan kesepakatan bulat Poros Tengah, seperti yang diutarakan oleh
Zarkasih dan Yusril itu? Sehingga Poros Tengah mengindari diri dari
kecaman sebagai kaum munafik, mencla-mencle, oportunis, dan sebagainya.
Pesan saya: berhati-hatilah dengan Poros Tengah dengan komandonya yang
bernama Amien Rais itu! Sangat mencurigakan! Ingat bagaimana "stuktur"
dan terdiri dari orang-orang macam apa saja yang ada di sana (baca
bagian pertama tulisan ini)! Ingat, pernyataan dan sikap-sikap mereka
yang beberapa kali dilontarkan, yang malah bertentangan dengan apa yang
mereka sebutkan sebagai perjuangan mereka menuju era reformasi dan
demokrasi!
Tempo hari Amien Rais dengan tegas-tegas mendukung dwi fungsi ABRI,
pendukung kebijakan pemerintah dengan "mobil nasional" Timor, mendukung
aksi kekerasan militer di Timor Timur, dan sebagainya. Yang setelah
situasi politik berubah, sikapnya juga berubah 180 derajat,: menentang
semuanya. Anda tidak percaya kalau Amien dulu pendukung dwi fungsi
ABRI, mobil Timor, dan sebagainya itu? Saya akan membeberkan
bukti-bukti yang berupa tulisan-tulisannya tentang itu, di posting saya
yang lain. ***
Salam
Lion
------------------------------------------------------------
This e-mail has been sent to you courtesy of OperaMail, a
free web-based service from Opera Software, makers of
the award-winning Web Browser - http://www.operasoftware.com
------------------------------------------------------------
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!