Bung Totot,
Saya tidak menganggap opini Anda berbeda dengan "mainstream" dimilis ini. Dengan bekal 
informasi Anda yang lebih komprehensif itu, opini Anda sungguh suatu pengayaan 
(enrichment) dari visi yang selama ini tergambar dimasyarakat.

Adapun saya mencoba melihatnya dari kemungkinan lain, justru beranjak dari keinginan 
yang sama agar kasus ini jangan bernasib seperti kasus-kasus yang sebelumnya.

Saya bahkan coba merefleksi kasus ini dengan referensi kasus Suryajaya yang sampai 
sekarang masih to be continued. Dapatkah kita melihat RR melalui jendela Edward 
Suryajaya?
  
--

On Mon, 6 Sep 1999 23:02:23    totot indrarto wrote:
>Bung Dave (juga Pak Amin dan Bung Fatah)
>
>Saya jadi malu membaca surat Anda. Saya, yang selama ini cuma anggota pasif
>di sini, akhirnya terpancing berkomentar soal Bali Gate semata-mata karena
>merasa masyarakat sudah terlampau jauh menghukum RR. Saya merasa, Anda akan
>terbuka menerima opini saya yang berbeda dari "mainstream" di milis ini.
>
>Itu sebabnya saya tidak menanggapi terlalu jauh posting balik dari Pak Amin
>Riza dan Pak Abdul Fatah. Padahal saya masih setia di sini, membaca dengan
>seksama semua pendapat yang berseliweran, dan kadang gatal tangan juga untuk
>sedikit memberi tanggapan balik. Hehehe ....
>
>Buat saya semuanya sangat jelas: ada kolusi atau "konspirasi politik"
>tingkat tinggi yang telah berhasil membobol kas negara dengan dalih program
>penjaminan pemerintah, dan kemudian mencuri sebagian besar uang rakyat itu
>untuk kepentingan pribadi dan kelompok mereka. RR, sang korban, malah
>dituduh sebagai dalangnya.
>
>Terus terang, akal sehat saya menolak spekulasi semacam itu, karena RR tidak
>memiliki motif dan tidak mendapat keuntungan apapun dari pembobolan kas
>negera itu. Buat apa ia mengorbankan reputasi, merusak "anak" yang sudah
>dirawat dengan baik selama dua generasi, dan bahkan menghancurkan hidupnya
>setelah ini, hanya untuk "nothing"?
>
>Meskipun begitu, mungkin saja ada kesalahan/pelanggaran yang dilakukan RR
>dalam masalah teknis perbankan menyangkut keabsahan perjanjian cessie BB -
>EGP, soal off balance sheet, dan lain-lain. Dimensi ini mestinya bisa
>terungkap dalam penyidikan yang dilakukan Polri. RR sudah ditanya polisi dan
>menjawab panjang lebar hingga menghabiskan waktu pemeriksaan sampai 11 jam.
>Tapi sayang, konstruksi kasus yang dibangun polisi, menurut kawan dari
>kantor pengacara RR, tidak cukup kuat buat menyeret Direksi BB dan EGP ke
>meja hijau. Alias, bakal macet lagi seperti kasus perbankan lain yang
>disidik Polri sejak dulu.
>
>Saya sedang mencari 'inside information' secara detil mengenai soal itu.
>Tapi saya menduga pelanggaran teknis itu terjadi karena BB/RR berada dalam
>tekanan. Penyebabnya, EGP memiliki bargaining position/power yang jauh lebih
>kuat dari BB/RR. Bagaimana mungkin kita yang sudah 30 tahun lebih
>bersama-sama hidup dalam "dunia serba ketakutan" tidak mampu memahami soal
>ini, dan berlagak seolah-olah segala sesuatunya selalu berlangsung normatif.
>
>Yang pasti, ketika merasa tekanan sudah melampaui batas daya tahan, RR
>mengadu kepada Ketua Bapepam Jusuf Anwar (JA). JA adalah "pater" pertama
>yang dijadikan tempat "pengakuan dosa" RR. Alasannya mungkin karena BB
>adalah public company, dan RR mengetahui secara persis bahwa banknya tengah
>mengalami pendarahan serius. JA-lah orang yang meminta RR untuk membuat
>laporan tertulis. Laporan Harian RR itu kemudian menyebar setelah RR
>dikontak seorang Mayjen (purn) bernama Hartoyo yang awalnya bermaksud
>membantu, tapi malah menggiring RR ke Amin Arjoso (AA), Dimiyati Hartono,
>dan Kwik Kian Gie.
>
>Ketika RR menginginkan Adnan Buyung Nasution (ABN) untuk membelanya, ABN
>sedang berada di Australia dan tidak bisa dikontak. Hartoyo dan AA malah
>bilang kepada RR: "Abang tidak bakal mau membela Anda, karena dia kan
>orangnya Habibie". Akhirnya, RR -- meskipun kemudian memakai juga ABN --
>memberi kuasa kepada AA dan kawan-kawan dari Kantor Pengacara Dimiyati
>Hartono & Rekan. (Anda percaya RR mau melakukan ini dalam keadaan "normal"?)
>Dari sini persoalan kemudian melebar masuk ke wilayah high politics.
>
>Itulah sebabnya saya menganggap RR hanya korban. Terbukti, tuduhan dan
>tekanan kepada RR malah semakin melencengkan kasus ini dari fokusnya. Yaitu,
>bahwa ada kolusi atau "konspirasi politik" tingkat tinggi yang telah
>berhasil membobol kas negara dengan dalih program penjaminan pemerintah, dan
>kemudian mencuri sebagian besar uang rakyat itu untuk kepentingan pribadi
>dan kelompok mereka.
>
>Siapa mereka? Begitu terang benderang: EGP, Otoritas Moneter, Tim Sukses
>Habibie, dan bahkan Sang Napoleon sendiri, yang konon telah mengirimkan memo
>kepada Menkeu. RR? Siapa itu RR? Siapa korbannya, dalam permainan secanggih
>ini, sama sekali tidak penting. Tidak ada RR dan BB, kan masih ada Indra
>Widjaja dan BII. Atau, siapa sajalah bisa jadi korban "keganasan" mereka
>....
>
>Menurut saya, Bung Dave, Anda dan teman-teman masih boleh bangga punya
>mantan boss semacam RR, seorang bankir sejati yang penuh dedikasi dan
>integritas.
>
>Salam,
>
>totot indrarto
>
>
>
>
>
>______________________________________________________________________
>Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
>dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
>Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
>Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>


Get your FREE Email at http://mailcity.lycos.com
Get your PERSONALIZED START PAGE at http://my.lycos.com

______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke