Pemerintah sudah menyatakan bahwa status hukum Pak Harto akan diumumkan dalam waktu yang tak terbatas karena ada masalah mendesak yang harus lebih diprioritaskan, yaitu masalah Timtim. Sebenarnya hal itu secara samar-samar sudah terbaca sebelumnya oleh paling sedikit indikator Muladi yang selalu berubah sikap dalam hal pendekatan yang hendak digunakan untuk mengadili mantan Presiden RI tersebut. Yuridis -> Politik (yuridis sub sistem) -> Yuridis Murni -> (kini) Tidak Jelas!. Kini, setelah Timtim menyita perhatian maka kapasitas mereka tersedot kesana. Menarik untuk dicermati adalah perencanaan kerja atau agenda pemerintahan. Kalau kita melihat Tap MPR yang harus dilaksanakan oleh pemerintahan HBB, penuntasan kasus-kasus KKN memperoleh perhatian khusus agar diselesaikan. Disamping itu, isu tersebut juga merupakan isu utama reformasi yang melengserkan Presiden Soeharto. Artinya, ini harus diprioritaskan. Di sisi yang lain, mungkin saya salah, penyelesaian Timtim tidak diprioritaskan penyelesaiannya dalam 2 tahun masa transisi hingga pemerintahan hasil pemilu 1999. Namun, dalam yang terjadi adalah penawaran opsi dan pengumuman hasil jejak pendapat sebelum SU MPR dimana Presiden HBB harus mempertangungjawabkan kebijaksanaan pemerintahannya. Kini, kita melihat fakta bahwa masalah opsi dan jejak pendapat membawa akibat yang luar biasa dan bahkan mungkin luput dari prediksi pemerintahan HBB. Penundaan satus hukum mantan Presiden Soeharto yang memperoleh prioritas sesuai dengan Tap MPR hanya salah satu saja. Masih sangat banyak kasus yang lain dan tampaknya juga akan di tunda atau bahkan menyublim berkaitan dengan kapasitas sumber yang terbatas itu. Sebuah spekulasi mengenai penawaran opsi dan agenda jajak pendapat itu tentu saja mudah muncul. Seandainya saja hasil jajak pendapat itu dimenangkan oleh kelompok pro integrasi maka itu akan menjadi credit point yang akan mengangkat popularitas Presiden HBB baik didalam maupun diluar negeri. Apapun hasil jejak pendapat, seperti telah banyak dibahas dan didiskusikan, akan membawa Timtim ke kondisi unstable equilibrium. Di TV kita telah melihat bagaimana kekuatan milisi bersenjata yang mengadakan apel itu. Apakah mereka akan diam seandainya mereka kalah? Apakah situasinya tidak akan seperti sekarang? Artinya, seandainya toh kelompok pro integrasi yang menang maka kapasitas sumber pemerintahan presiden HBB juga akan diserap untuk menyelesaikannya meskpipun ia memperoleh credit point. Dengan demikian, apapun hasil jejak pendapat itu, penuntasan kasus KKN akan ditunda. Pakar Samego berulang kali di media elektronik mengatakan bahwa inilah saatnya untuk memperbaiki citra politik Indonesia di dunia internasional. Sayang sekali, Pakar Jimmly, dan Pakar Dewi Fortuna belum terdenar suarana yang kemungkinan besar kurang lebih sama. Disamping itu, tampaknya Bung Pakar Samego menepis pandangan bahwa sebuah stategi pada dasarnya adalah sebuah perencanaan yang komprehensif dan integrarif dimana berbagai kemungknan diantisipasi sebelum putusan erbaik diambil. Secara matematik tidak bisa dibantah bahwa optimalisasi sistem total adalah lebih baik dibanding optimalisasi sub-subsistem. Optimalisasi sebuah sub sistem akan cenderung mempengaruhi atau merusak sub sistem yang lain. Paling sedikit, profesornya presiden HBB telah memberi contoh bagaimana prioritas pembangunan ekonomi telah merusak perkembangan sub sitem politik, sosial, dan budaya bangsa. Seandainya Presiden HBB masih memiliki hati nurani dan integritas pribadi maka saya percaya bahwa landasan visi kebangsaan beliau akan mendorongnya untuk berefleksi atas apa yang telah dilakukannya untuk bangsa ini. Maka, besar kemungkinan bahwa belau tidak akan bersedia untuk dipilih menjadi presiden lagi. (Diakhiri dengan ucapan didalam hati: "s e m o g a") �� (Lebih suka Penyelesaian mendahului Masalah) ______________________________________________________________________ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI dengan mengirim e-mail kosong ke alamat; Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
