Saya ingin melanjutkan sebuah imel(bagus) dari rekan Zamrud mengenai
arogansi wangsa ustralia. Saya juga minta maaf kepada penulis orisinil imel
ini, karena ada beberapa bagian imel(yang pasti akan diprotes rekan netter
lain) saya potes/del tanpa mengurangi tekanan dalam imel ini. 

Bung Papua, jangan marah gitu dong, sebenarnya yang jancukan itu
pemimpin-pemimpin kita serta bangsa penjajah yang diluar sana. Mereka itulah
yang harus kita kethaki kepalanya. Sesama rakyat ndak usahlah saling
gondokkan apa lagi ngomong ngawur tentang "penjajahan Jawa" "Irian yang
malang", "Acheh yang berduka" dll. Itu semua bukan ulah kita, itu ulah
pemimpin kita yang masih keturunan kadal, yang suka kolusi dengan bangsa
penjajah diluaran untuk mengyengsarakan kita-kita ini rahayat kecil. Bung
Papua jangan sok mengaku sebagai orang Irian. Ayah saya bekerja sebagai guru
daerah terpencil(setelah pensiun) di Irian selama lebih dari 12 thn. Adik
saya pun mengikuti ayah saya mengabdi sebagai guru didaerah terpencil nun
jauh di Merauke sana instead of bekerja di Jawa(walau dia sarjana dari
Jawa). Karena itu justru kamilah saksi dari ketidakadilan pemimpin kita yang
korup dalam membagi-bagi rejeki dengan rakyat Irian.

Yang patut kita salahkan/hujat itu adalah para kadal-kadal yang diatas sana.
Juga para bangsa penjajah yang laksana burung bangkai hendak mencabik-cabik
kesatuan bangsa kita. Bung jangan terprovokasi oleh mereka (atau bung
sebenarnya ingin memprovokasi kita disini .....?   )

Apakah bung Mengira kalau Irian lepas, Acheh lepas terus mereka akan baik
jadinya ....?   belum tentu bung, karena mereka selanjutnya bakal dikuasai
oleh bangsa penjajah yang rakus serta pemimpinnya yang korup. Sebagai
contoh, bung lihat tetangga kita PNG, apakah dengan adanya tambang emas
terbesar di dunia OK TEDY bangsa PNG makmur .....?    ada tambang
Bougenville yang maha besar terus membawa kemakmuran rakyat PNG .....?
bego kalau dijawab iya, tapi kalau mau bilang tambang-tambang itu tambah
bikin makmur ustrali, amrik baru saya setuju. Karena memang mereka inilah
yang menikmati semua itu. Cobalah bung ke ustrali, lihatlah disana begitu
banyak tambang kaliber dunia, ada Queensland Coal, Hammersley Iron, Blair
Athol, dll  terus apakah bangsa aborigin jadi makmur ......?  enak hidupnya
.....?   

Makanya "PERTAHANKAN KESATUAN BANGSA" sambil kita tunggu datangnya pemimpin
yang KKN-phobiis, yang anti terhadap KKN. Saran saya yang bisa dilakukan
sekarang ya persiapkanlah revolusi pembentukan Indonesia Baru (bukan pake
perang saudara atawa kekerasan lho ya) tapi dengan cara belajar jadi rakyat
yang waras, jangan jadi rakyat yang memble, yang dibodohi sama pemimpinnya
mau saja. Punyailah sikap kritis(bukan kriting abis), aktif/proaktif
terhadap kejanggalan pembangunan dll .....!
Jangan mudah terprovokasi sama bangsa penjajah, mereka inilah biang keledai
dari segala kerusakan/kesusahan rakyat (bung jangan mendewakan mereka lho,
bahaya digobloki terus nantinya....!)

Dah itu saja nanti nge-down loadnya lama.

Paijo Somestupid
(yang emoh jadi kadal maupun yang suka dikadalin)

> ----------
> From:         Zamrud Data Center
> Subject:      FW: [ITB] Fw: [fisip] Fw: [ex28] Melawan Arogansi Australia
> 
> Sekedar perbandingan dengan posting bung yang lalu.
> 
> ----- Original Message -----
> From: Miladinne Inesza Lubis 
> Sent: Wednesday, September 08, 1999 6:49 PM
> 
> -----Original Message-----
> From: Apriadi Setiawan 
> Date: Wednesday, September 08, 1999 10:45 AM
> 
> -------------------------------------------
> MELAWAN AROGANSI AUSTRALIA
> 
> Beberapa hari ini terakhir ini tingkah laku Australia yang menerapkan
> standard ganda dalam hubungannya dengan Indonesia semakin kentara. Apalagi
> jika yang digunakan sebagai ukuran adalah kepentingan Australia di Timor
> Timur.
> Paruh kedua tahun 1975 adalah musim panas yang berkepanjangan di Timor
> Timur. Bukan karena cuaca, melainkan karena suhu politik sudah mendekati
> titik didih. Fretilin yang miring ke Kiri berhadapan dengan UDT, Kota,
> Apodeti dan Trabalista yang sangat antikomunis. Dalam waktu singkat
> aliansi
> UDT cs kewalahan menghadapi kegarangan Fretilin yang bersenjata lengkap
> warisan dari Tropas, pasukan khusus Portugal. Pasukan Tropas bersama-sama
> para pejabat Portugal sudah hengkang lebih dahulu ke pulau Atauro dan
> kemudian tanpa tanggung jawab kabur meninggalkan bumi Loro Sae yang berada
> diambang perang saudara.
> Ketika Portugal meninggalkan Timtim, saat itu keadaanya sangat mirip
> dengan
> sekarang. Cuma bedanya, waktu itu Fretilin yang diatas angin, sedangkan
> sekarang, untuk sementara, kelihatannya kubu Aitarak, Besi Merah Putih dan
> Mahidi yang menguasai keadaan. Selebihnya sama. Pembunuhan terjadi
> dimana-mana. Pengungsi membanjiri wilayah perbatasan dengan Timor Barat.
> Situasi saat itu sebenarnya jauh lebih runyam. Hawa perang dingin terasa
> di
> sekujur belahan bumi. Amerika baru saja keok tunggang langgang dari medan
> perang Vietnam. Bisa dibayangkan semangat antikomunis di dada Amerika saat
> itu sedang panas-panasnya. Amerika, yang di dukung sepenuhnya oleh
> Australia
> langsung gerah melihat kemungkinan Timor Timur akan menjadi tempat
> kongkow-kongkow kekuatan komunis.
> Sementara itu, Indonesia terkenal sebagai sebuah negeri yang berhasil
> membabat kekuatan komunis dengan sekali gebuk. Bayangkan, kekuatan komunis
> ketiga terbesar di dunia saat itu, di sikat habis tanpa ampun dalam
> bilangan
> bulan. Maka mulailah Amerika dan Australia "main mata" dengan Indonesia.
> Itulah sebabnya, tak berapa lama setelah Presiden Ford dan Menlu Kissinger
> mengakhiri kunjungan resmi ke Jakarta, pasukan "sukarelawan" Indonesia
> masuk
> ke Timtim dengan sandi "Operasi Komodo".
> Perdana Menteri Australia Gough Whitlam juga langsung "menyambut baik"
> keberhasilan Indonesia "mengendalikan" perang saudara di Timtim saat itu
> dan
> akhirnya menjadi satu-satunya negara yang secara terbuka mengakui Timtim
> sebagai wilayah sah Indonesia.
> Maksud saja menuliskan sedikit "kilas balik" ini hanya sekadar untuk
> menunjukkan bahwa Australia nyata-nyata ikut "membidani" integrasi Timtim
> kedalam wilayah Indonesia.
> 
> Itu satu.
>  
> Lantas, masih segar dalam ingatan kita bahwa hingga bulan April kemarin
> itu,
> John Howard secara gamblang menegaskan bahwa Australia lebih suka melihat
> Timtim sebagai bagian dari Indonesia. Dengan kata lain Australia bersikap
> "pro-integrasi".
> Tetapi begitu melihat "angin kemerdekaan_ bertiup lebih kencang, Australia
> langsung "banting setir" dan kini berlagak pahlawan yang paling berjasa
> ikut
> memerdekakan Timtim. Bahkan Australia kini sangat menggebu-gebu ingin
> mengirim pasukan sukarelawan ke Timtim. Katanya untuk menyelamatkan rakyat
> Timtim dari pembantaian yang dilancarkan kubu pro-integrasi yang kalap
> karena merasa dicurangi secara terang-terangan oleh UNAMET.
> Sikap yang sangat "kurang ajar" yang kini diperagakan Australia terus
> berlanjut. Kamis lalu (2 September 1999) bendera Sang Merah Putih yang
> berkibar gagah di halaman Konsulat Jenderal Republik Indonesia diturunkan
> dan di bakar. Masih belum cukup rupanya. Gedung Konsulat RI di Darwin,
> Australia Utara, rusak parah setelah diserang oleh sekitar 100 orang
> kelompok anti-Indonesia di negara kanguru itu, Senin (6 September 1999)
> petang kemarin.
> Aksi demonstrasi berlangsung brutal, bahkan para demonstran yang terdiri
> dari warga keturunan Timtim dan Australia tiba-tiba menyerang secara
> membabi
> buta di luar batas kewajaran. Delapan orang diantaranya berhasil masuk ke
> gedung konsulat dengan memanjat pagar dan selanjutnya menghantam dengan
> batu
> sembilan mobil milik konsulat dan staff.
> Menurut staff konsulat kita disana ".. mereka melempar kaca-kaca jendela
> dan
> pintu gedung dan menimbulkan kerusakan yang cukup parah," Mereka juga
> berhasil menurunkan bendera RI dan membakarnya. Para pengunjuk rasa dengan
> leluasa merusak aset dan kebanggaan rakyat Indonesia itu. Di antara para
> penyerang itu, ada yang mencoba untuk memasuki gedung, namun gagal karena
> pintu-pintu konsulat RI semuanya sudah dikunci. (KOMPAS, Senin, 6
> September
> 1999 "Konsulat RI di Darwin Rusak Parah")
> Pada hari yang sama, Konsulat RI di Perth juga "dikepung" oleh para
> demonstran bule Australia yang di sokong oleh para warga keturunan Timtim.
> Pengepungan berlangsung sejak pukul 09.00 s/d 17.00. Para demonstran
> merencanakan untuk terus "mengepung" Konsulat RI di Perth paling tidak
> selama seminggu ini. Slogan-slogan yang dipajang pun cukup membuat dada
> membara, misalnya "Jakarta- Indonesia, how dare you threaten my
> Australia".
> Sehari sebelumnya seorang yang tidak dikenal melempar telur busuk ke
> Gedung
> KJRI di Sydney. Selain itu, para staff KBRI Canberra seringkali menerima
> ancaman dan teror melalui telepon. Dalam seluruh insiden yang sangat
> menginjak-injak kedaulatan Indonesia ini -- karena terjadi di dalam
> "wilayah
> kedaulatan" Indonesia, yaitu kompleks perwakilan diplomatik Republik
> Indonesia _ tidak terlihat upaya serius dari pemerintah setempat, termasuk
> pasukan pengamanan untuk memberikan perlindungan dan pengamaman yang
> memadai
> terhadap perwakilan diplomatik Indonesia tersebut.
> Atas dasar kenyataan ini maka sangat sulit bagi kita untuk tidak
> berprasangka buruk, bahwa aksi-aksi tersebut merupakan bagian dari
> skenario
> pemerintah Australia untuk terus "menekan" Indonesia.
> Selain tekanan yang bersifat fisik tersebut, The Age, 7 September 1999
> memberitakan bahwa " .. Union will ban postal and telecomunications at
> Indonesian businesses in Victoria, including the consulate, and may place
> bans on Indonesian ships Austalia wide. They have also backed the
> Australians East Timorese Association's appeal to all Australians to
> boycott
> Bali as a holiday destination ... ". Selain itu terdapat berita lainnya
> bahwa pemerintah Australia akan menghentikan bantuan (AUSaid) kepada
> Indonesia.
>  
> AKSI-AKSI AUSTRALIA INI JELAS SUDAH SANGAT KETERLALUAN DAN AROGAN !!
>  
> Lebih kurangajar lagi, Menlu Australia Alexander Downer diberitakan marah
> besar (absolutely outraged) ketika mendengar Dubes Australia John McCarthy
> cedera ringan karena mobilnya ditembaki oleh milisi di Timtim hari Senin
> kemarin. Menurut Downer, kejadian itu berlangsung di depan hidung Polri
> yang
> bertugas menjaga keamanan. Oleh karena itu Downer akan "menegur" dengan
> keras pemerintah Indonesia.
> SIMBOKNIANCUK !!! Ketika para diplomat Indonesia di Australia dikepung dan
> diteror, Downer diam saja, pura-pura tidak tahu. Ketika Sang Merah Putih
> yang berada di DALAM WILAYAH KEDAULATAN INDONESIA (kompleks Konsulat RI)
> di
> turunkan dan di bakar, tak sepatahkatapun keluar dari moncong si Downer
> sialan ini. Ketika petugas keamanan Australia yang seharusnya siap siaga
> di
> depan Konsulat tak kelihatan batang hidungnya sama sekali pada saat
> insiden
> terjadi, anjing Australia itu malah tidak berkomentar sedikitpun.
> Kini, setelah Dubesnya diteror dan gedung Konsulat Australia yang baru di
> buka di Dili dikepung oleh para milisi, langsung saja Dingo satu ini
> menggonggong.
> Terus terang begitu saya mendengar penembakan terhadap Dubes Australia
> itu,
> naluri purba saya langsung mensyukuri terjadinya insiden tersebut.Bahkan
> saya sangat menyayangkan, kenapa tembakan itu meleset dan kurang jitu.
> Untung saja, saya buru-buru berusaha "mengendalikan" naluri purba
> tersebut,
> karena jelas kurang sehat kalau diterapkan dalam percaturan hubungan
> internasional. Karena jika naluri purba itu bebas berkeliaran maka hal itu
> berarti, saya akan sama "tak beradabnya" dengan dingo-dingo Australia itu.
> Namun demikian saya tetap MENDUKUNG SEPENUHNYA aksi-aksi dari sekitar 500
> massa yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pemuda Jakarta (FKPJ) dan
> Barisan Rakyat Pembela Merah Putih (BRPMP) yang pada hari Senin (6
> September
> 1999) sekitar pukul 10.00 pagi mendatangi Kedutaan Besar Australia Jalan
> Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Kedatangan para patriot pembela
> tanah air ini adalah untuk bertemu dengan Dubes Australia John McCarthy
> guna
> menyatakan protes rakyat Indonesia atas pembakaran bendera Merah Putih di
> gedung KJRI Melbourne Australia.
>  
        ****del******
> TUNJUKKAN BAHWA INDONESIA ADALAH BANGSA YANG BESAR DAN PUNYA HARGA DIRI !!
        *****del*****
> Merdeka !!!
> 
> Banteng Suropati
> 
> 
> 

______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!









Kirim email ke