Bung Totot, I do appreciate for your finishing touch.
Sekarang itu bukan mozaik lagi namun sudah menjadi a perfect picture berkat
perfect information yang membuat informasi menjadi simetrik..
Saya sungguh merasakan manfaat bergabung di milis ini. Intelectual need saya
terpenuhi.
Just keep going... keep going.....
��
----- Original Message -----
From: <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 11 September 1999 15:46
Subject: [Kuli Tinta] Tentang "Surat Pernyataan RR" itu
Diskusi lanjutan Bali Gate bersubyek "Affordable risk RR", "Akhirnya", dan
"Siapa orang
yang sangat dipercaya itu?" -- terutama mosaik dari puzzle yang dirangkai
Bung Aswat, sekaligus quiz dari Bung Yap yang hadiahnya sudah
dilipatgandakan -- memancing saya untuk berbagi sedikit background
information mengenai "Surat Pernyataan RR" (bantahan mengenai "Catatan
Penting RR" -- yang biasa disebut "kronologis" atau "catatan harian")
Draft surat itu memang dibuat di kantor Adnan Buyung Nasution (ABN). Awalnya
Hotma Sitompoel (HS) -- pengacara Tanri Abeng (TA) dan A.A. Baramuli
(AAB) -- menghubungi ABN, mewakili kliennya, membicarakan kemungkinan
penyelesaian terbaik kasus BB. Ringkasnya, HS ingin bertanya kepada RR di
depan pengacaranya mengenai kebenaran "Catatan Penting RR". Bila tidak
benar, HS meminta RR membuat surat bantahan. Bila pernyataan semacam itu
tidak dibuat, kliennya akan mengajukan tuntutan hukum karena telah difitnah.
Akhirnya berlangsunglah pertemuan itu di kantor ABN. Yang hadir adalah HS,
RR, ABN dan tim, serta M. Assegaff (MA, yang rencananya bakal memperkuat tim
ABN sebagai pengacara RR). Sejak awal sikap RR mengenai "Catatan Penting RR"
memang serba mengambang -- dan itu sebetulnya menunjukkan betapa tertekannya
ia. Ketika dicecar ABN, RR bilang: "Sudah banyak yang lupa". Siapa yang
bikin itu? "Saya yang bikin, sekretaris saya yang ngetik". Apa isinya benar?
"Semua cuma berdasar ingatan saya". Apa semula dialami sendiri? "Sebagian
saya alami sendiri, sebagian tidak, cuma diceritakan orang lain".
Anda semua, yang telah menyaksikan langsung dengar pendapat Komisi VIII DPR,
tentu paham bagaimana lihai -- sekaligus menjengkelkannya -- RR ketika
mencoba berbohong.
ABN, yang sejak awal tidak mau terlibat dalam urusan "Catatan Penting RR"
(yang dianggap 'politis') dan ingin berkonsentrasi pada dakwaan pidana
kepolisian, berpendapat bila ada kebohongan dalam pernyataan itu -- sekecil
apa pun -- harus diralat. Yang mana yang bohong, yang mana yang benar, nanti
akan dibicarakan terpisah oleh ABN dan RR -- tidak bisa dilakukan di depan
HS. Sementara itu, ABN mengakomodir keinginan HS untuk membuat dulu draft
awal surat bantahan RR. Nanti detilnya -- bagian mana saja yang dibantah --
baru dipastikan setelah pembicaraan ABN dan RR selesai.
Tapi dalam pertemuan itu sudah tercium ada yang aneh. Sejak awal HS dan RR
mengaku tidak pernah berbicara dan bertemu. Sayangnya, di tengah diskusi RR
kelepasan ngomong kepada HS: "Seperti yang saya bilang kemarin!" ABN sempat
mendesak, tapi keduanya terus berkelit, sampai ABN lalu membiarkan misteri
itu tetap sebagai misteri.
Setelah draft surat bantahan itu selesai, seperti biasa, ABN meminta stafnya
menyimpan kopi (draft final, cuma 1), sementara dokumen/draft/coretan
lainnya segera dimusnahkan. Pertemuan usai, namun ketika RR pulang
(terakhir), ia meminta draft itu dari salah satu staf (lawyer) ABN. Untuk
apa? "Buat saya renungkan". Entah bagaimana ceritanya, RR akhirnya diberi
satu kopi.
Beberapa hari kemudian, MA mengirimkan e-mail kepada ABN berisi legal
opinion. Intinya meminta ABN agar RR sama sekali tidak membuat surat
bantahan. Di situ dibeberkan sejumlah alasan -- politis dan hukum.
Rencananya, sore itu MA akan bertemu ABN dan tim untuk membahas kelanjutan
soal tersebut. Tapi, guntur keburu menggelegar, karena sore itu juga Muladi
membacakan "Surat Pernyataan RR".
Bagaimana ceritanya surat itu bisa sampai ke istana?
RR rupanya terus-menerus ditekan. Kali ini giliran Kim Johanes Mulia
(KJM) -- belakangan menjadi operator beberapa bisnis AAB -- yang rajin
menelpon RR, konon bisa sampai 10 kali sehari. Sampai kemudian RR menyerah
dan mengatakan bahwa ia sudah punya draftnya. Draft yang dibuat di kantor
ABN itu kemudian diketik ulang oleh KJM dan ditanda tangani RR. Isinya
persis sama (termasuk salah eja nama RR), cuma judulnya diganti. Aslinya
"Press Release" (rencananya surat itu dibuat sendiri oleh RR, karena kantor
ABN tidak mau terlibat dalam urusan politis), kemudian diganti menjadi
"Surat Pernyataan".
Dari KJM surat itu diteruskan kepada AAB. Sang Penasihat Agung kemudian
menyerahkan surat itu kepada RI-1 dengan pesan singkat: "Dari ABN!"
ABN, tentu saja, marah besar, khususnya karena ketololan salah satu
lawyernya yang sampai memberikan kopi draft surat itu kepada RR. ABN
langsung memecat lawyer itu, tapi belakangan hatinya melunak. Terutama
setelah lawyer tolol tersebut mengaku lalai, bersalah, dan sungguh-sungguh
tidak punya niat jelek/jahat sedikit pun. Tapi "peringatan sangat keras"
tetap diberikan oleh ABN. Yang lucu, salah eja nama RR (Rudi, bukan Rudy)
ternyata berasal dari salah ketik staf ABN itu. KJM mengetik ulang surat itu
mentah-mentah, termasuk salah ejanya.
Seminggu kemudian, ABN mengadakan Press Conference, yang intinya menegaskan
bahwa kantor ABN hanya mewakili RR dalam menghadapi dakwaan pidana
kepolisian, dan tidak campur tangan dalam urusan yang bersifat politis.
Sorenya, RR datang ke kantor ABN. Kepada beberapa lawyer di situ, RR
menunjukan draft pernyataan berjudul "Analisis Skandal Bank Bali". Isinya
sangat bertolak belakang dengan "Catatan Penting RR" yang sudah lebih dulu
beredar. Pokoknya, dalam draft pernyataan itu, BI/Depkeu/BPPN tidak
bersalah, sejumlah pejabat tinggi negara tidak terlibat, dan sebagainya.
Kesimpulan draft pernyataan itu (bila harus dicari kesimpulannya) adalah:
ini adalah kejahatan tanpa penjahat! (Hehehe ... yang ini opini pribadi saya
...)
RR -- tampaknya benar-benar sudah lelah dan stress berat akibat
terus-terusan menjadi bola pingpong -- akhirnya mengaku bahwa draft
pernyataan ajaib itu dibuat atas "kerja sama" dengan KJM. Rencananya,
berdasarkan pernyataan itu, polisi akan mengeluarkan SP3 (Surat Penghentian
Penyidikan Perkara).
Besoknya, malam, ABN mengundang sejumlah teman dekatnya untuk meminta
pendapat soal kasus RR. Yang hadir di antaranya adalah Amir Sjamsudin, Karni
Ilyas dan Andi Mallaranggeng. Pertemuan informal itu berakhir dengan
pandangan bahwa sebaiknya ABN mengundurkan diri sebagai pengacara RR
karena -- antara lain -- ""RR tidak cukup tahan banting" dan "ABN bisa
menjadi korban dari ketidaktegasan RR". Dengan kata lain, meskipun semua
sepakat RR tidak bersalah, cuma korban, dan sangat membutuhkan perlindungan
serta bantuan hukum, namun "Abang terlalu berharga untuk RR".
Usai pertemuan, lewat tengah malam, anak-anak buah ABN menemui bossnya untuk
menyampaikan "Analisis Skandal Bank Bali" buatan RR. ABN tentu saja kaget,
tapi itu justru mengkristalkan keputusannya untuk mengundurkan diri.
Besoknya, Press Release pengunduran diri kantor RR sebagai penasihat hukum
RR dibuat. Sekitar pukul 16.00, ABN bertemu RR dan menjelaskan keputusan
itu. Dijelaskan, secara profesional ada tiga kenakalan RR yang menyalahi
prinsip saling-percaya dalam hubungan mereka, yakni beredarnya "Catatan
Penting RR", "Surat Pernyataan RR" dan "Analisis Skandal Bank Bali" tanpa
dikonsultasikan dengan penasihat hukumnya. Syukur Alhamdulillah, "Analisis
Skandal Bank Bali" nan ajaib itu tidak pernah beredar karena RR sudah keburu
meledakkan ranjau kasus ini dengan pengakuan jujurnya di Komisi VIII DPR.
Setengah jam kemudian, ABN berangkat ke Cengkareng untuk terbang ke Yogya.
Pukul 17.00, Press Release dibagikan kepada wartawan dan dikirim ke
media-media massa.
Semoga infomasi ini bisa mengembalikan segala sesuatu pada proporsinya.
Tempo hari saya menjadi "pembela fanatik" RR, dan sekarang saya melakukan
hal yang sama untuk ABN. Alasannya serupa. Seperti kepada RR, saya sangat
percaya ABN adalah profesional yang penuh dedikasi dan integritas.
Selamat berakhir pekan.
-----Original Message-----
From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 11 September 1999 9:23
Subject: Re: [Kuli Tinta] Siapa orang yang sangat dipercaya itu?
Draft surat itu diawali di kantor Buyung dkk --> Copy Draft itu dibawa RR
untuk direnungkan --> Buyung berpisah dengan RR --> Surat DIBAWA oleh
seseorang ke AAB* --> AAB dengan Mensesneg membawa surat itu ke RI 1 -->
Sidang Kabinet memutuskan untuk dibacakan --> Muladi membaca --> RR membuka
kesaksian di Sidang Komisi 8 --> Muladi dan Buyung bereaksi.
*) Mantan pengacara RR di RCTI menduga KJM adalah pembawa surat itu.
Ternyata OTB (Organisasi Tanpa Bentuk) itu memang ada. Kesimpulannya
KKN=OTB
��
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!