SARAN untuk para Penalists dan hadirin di pertemuan PIJAR Indonesia:
Penyebab keadaan beberapa daerah dewasa ini, karena:
1. sikap operasional ABRI yang kasar dan sangat kurang mempelajari
kebudayaan daerah tempat operasi itu dilakukan
2. keserakahan Pemerintah Pusat atas hasil dari bumi daerah-daerah
3. banyak pemimpin daerah yang "mbebek" pemerintah pusat; artinya tidak
berani memberikan kritik-membangun untuk kebaikan daerahnya.
Jalan keluarnya :
1. operasi ABRI harus disesuaikan dengan kebudayaan daerah, tanpa
mempergunakan kekerasan, kecuali jika sudah tidak ada jalan musyawarah
pada dasarnya setiap suku di Indonesia adalah sangat baik, hanya
pimpinannya saja yang "kurang ajar" ) dengan syarat:
2. pembagian hasil daerah 60:40 atau 70:30 = daerah-pusat.
3. pimpinan daerah serahkan putra asal-daerah, kecuali memang rakyat daerah
tsb. memilih suku lain ( mungkin yang sudah tinggal lama di daerah tsb. dan
dinilai baik oleh rakyat daerah tsb. )
4. Pemerintah Pusat hanya mengurus pertahanan nasional, hubungan luar negeri
dan membuat kebijaksanaan nasional berdasarkan kepentingan daerah-daerah.
Timor Lorosae:
1. agar PIJAR menganjurkan Pemerintah Indonesia yang baru nanti dan
pengusaha serta golongan dari perguruan tinggi Indonesia memberi bantuan
untuk pembangunan kembali Timor Lorosae
2. pemerintah Indonesia membantu Timor Lorosae untuk menjadi anggota ASEAN
Karena yang terpenting adalah "the man behind the gun", maka untuk semua
pemimpin pusat dan daerah agar bekerja atas dasar HATINURANINYA.
Semoga saran saya tsb. dapat disampaikan kepada para panelists dan hadirin
di pertemuan PIJAR.
Terima kasih,
J.Sujanto
ayah Eski Sujanto
----- Original Message -----
From: Martin Manurung <[EMAIL PROTECTED]>
To: Kuli Tinta List <[EMAIL PROTECTED]>; HKBP Mailing List
<[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 14 September 1999 23:57 PM
Subject: [Kuli Tinta] Fw: [kdpnet-id] PIJAR: Undangan Diskusi ttg Timor
> FYI, in case you interested
>
> Martin Manurung
>
> -----Original Message-----
> From: KdP Net <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
> Date: 15 September 1999 2:49
> Subject: [kdpnet-id] PIJAR: Undangan Diskusi ttg Timor
>
>
> >PIJAR Indonesia
> >Jl. Pedati Gg. Y1 No. 22A (RT 4/10) Jatinegara, Jakarta Timur 13330
> >INDONESIA
> >Tel/Fax: +62-21-8198729 mailto:[EMAIL PROTECTED] http://www.pijar.net/
> >--------------------------------------------------------------------
> >
> >
> >Yang Terhormat
> >KdP Netters
> >
> >
> >Salam demokrasi
> >
> >PIJAR Indonesia bekenan mengadakan diskusi "Timor Timur Pasca Referendum:
> >Antara Nasionalisme dan Kemanusiaan" pada:
> >
> >Hari/Tanggal: Jumat, 17 September 1999
> >Waktu : 19.00 WIB
> >Tempat : PIJAR Indonesia Jl. Pedati Gg. Y1 No. 22A (Rt 4/10)Bidaracina,
> >Jatinegara, Jakarta Timur
> >Pembicara : - Joel Rocamora (Penulis buku "Nasionalisme Mencari Ideologi"
> >dari Institute for Popular Democracy Philippines)
> > - Jhonson Panjaitan SH (Pengacara Xanana Gusmao dari PBHI)
> > - Bonar Tigor Naipospos (Direktur Solidaritas Indonesia
untuk
> >Penyelesaian Damai Timor/Solidamor)
> > - Syaiful Bahri (Ketua Umum PB PMII, Pencetus Posko Bela
> >Negara)
> >
> >Referendum (jajak pendapat) untuk menentukan nasib Timor telah usai
dengan
> >kemenangan telak di pihak pro-kemerdekaan. Hasil akhir jajak pendapat
> >tesebut mestinya makin membuat terang jalan bagi proses berdirinya negara
> >Timor Leste yang independen. Namun menyusul pengumuman hasil referendum
> >tersebut, gelombang kekerasan melanda seluruh pulau mengakibatkan ribuan
> >orang tewas dan terpaksa mengungsi.
> >
> >Hasil jajak pendapat memberi pelajaran berharga bagi semua pihak. Bagi
> dunia
> >internasional, gelombang kekerasan yang tak bisa dihentikan itu merupakan
> >cermin kegagalan dalam mengantisipasi situasi Timor pasca referendum dan
> >kegagalan dalam membaca arah perpolitikan elite dalam negeri Indonesia.
> Bagi
> >Indonesia, kekerasan yang terjadi di Timor makin membuat rumit peta
> >perpolitikan nasional, khususnya jika kategori yang dipakai adalah
reformis
> >dan pro-status quo.
> >
> >Terbukti tak hanya tentara yang memiliki semangat penguasaan atas
wilayah,
> >namun kelompok oposisi (termasuk mahasiswa) juga ikut mewarisi semangat
> buta
> >penguasaan atas Timor. Mestinya kaum oposan yang mengaku anti dwifungsi
> >tentara menghindarkan diri dari paham integralistik dan menyadari bahwa
> >selama ini terjadi praktek kekejaman pemerintah Indonesia melalui TNI di
> >Timor yang menyebabkan makin terkristalisasi perlawanan rakyat Timor
untuk
> >memisahkan diri dari RI.
> >
> >Kekhawatiran elit politik Indonesia yang saat ini sebagian besar dikuasai
> >kelompok nasionalis dan ultra-nasionalis bahwa pemisahan diri Timor akan
> >menyulut efek domino pada provinsi lain, masih perlu dikaji kebenarannya.
> >Kalaupun itu yang diprediksi bakal terjadi, harus diingat bahwa bukan
Timor
> >sebagai penyebabnya, melainkan ketimpangan ekonomi dan ketak-adilan
politik
> >serta kurangnya penghormatan atas indigenous people yang mendorong
> >separatisme. Apalagi dunia multipolar saat ini makin memungkinkan
> intervensi
> >asing untuk mendorong separatisme bagi kepentingan pemilik modal.
> >
> >Sekarang semangat nasionalisme seolah terangkat kembali, setelah
sebelumnya
> >banyak orang melupakan sebagai akibat pragmatisme. Australia menjadi
target
> >baru kecaman dan kebencian. Terlepas dari kepentingan domestik dan
> >kepentingan luar negeri negara tersebut yang menimbulkan kecurigaan
rakyat
> >Indonesia, masyarakat Australia melakukan tekanan dan kecaman pada
> >pemerintahnya dan pada pemerintah Indonesia lebih didasarkan atas
> penyesalan
> >mengingat negara tersebut terlibat penuh dalam membantu invasi Indonesia
ke
> >Timor. Australia dan Amerika memang berkepentingan pada invasi Indonesia
ke
> >Timor tahun 1975 dengan motivasi menyelamatkan Timor agar tak jatuh ke
> >tangan komunis.
> >
> >Tragedi yang saat ini berlangsung di Timor menimbulkan pertanyaan
menggoda,
> >bagaimana seandainya jika situasi Timor terjadi pada provinsi lain di
> >Indonesia. Siapkah wacana nasionalisme kita mengantisipasi hal tersebut.
> Hal
> >ini bukan mengada-ada, mengingat potensi pemisahan diri sangat besar
akibat
> >kesenjangan ekonomi dan perlakuan politik yang berbeda-beda pada tiap
> >provinsi. Akankah Indonesia jatuh dalam perang saudara jika separatisme
itu
> >menular ke daerah-daerah lain.
> >Banyak pihak kini miris menyaksikan perluasan isu Timor yang makin
> >menguatkan kengerian dunia internasional pada bangsa Indonesia.
Sebenarnya,
> >apakah tepat menempatkan isu Timor Leste sebagai ujian bagi nasionalisme
> >Indonesia. Proporsionalkah nasionalime yang saat ini disuarakan dalam
> >hubungannya dengan pemisahan diri Timor? Apakah nasionalisme Indonesia
> masih
> >jalan di tempat, alias senantiasa memandang daerah-daerah lain dari
> >perspektif integralistik? Benarkah semangat nasionalime yang ada saat ini
> >dapat membawa Indonesia ke arah persatuan yang makin erat antar sesama
> >provinsi? Bukankah perlakuan dan pola penanganan konflik di masing-masing
> >daerah terlihat berbeda dan bahkan jika ditinjau dari segi ekonomi,
> terlihat
> >gap yang potensial menimbulkan kecemburuan?
> >
> >Benarkah ada upaya dari elit tentara untuk mengambil keuntungan dari
> >mencuatnya isu nasionalisme untuk menguatkan justifikasi tentara
mengambil
> >alih kekuasaan? Apakah masih relevan nasionalisme dihadapkan pada
kenyataan
> >globalisasi yang menghapus sekat-sekat negara? Yang lebih penting dan
> >seharusnya menjadi wacana baru bagi bangsa Indonesia: mana yang lebih
> >didahulukan ketika rasa nasionalisme dihadapkan pada rasa kemanusiaan dan
> >hak asasi manusia, khususnya hak menentukan nasib sendiri bagi setiap
> >bangsa?
> >
> >Kami mengundang Anda untuk menghadiri diskusi tersebut. Atas perhatiannya
> >kami ucapkan terima kasih.
> >
> >Jakarta, 13 September 1999
> >
> >
> >Sulaiman Haikal
> >Koordinator
>
>
> ______________________________________________________________________
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!