Ini yg disebut: "Marahnya kok telat?"
Apakah mereka itu baru bangun dari tidur? Atau tdk mengerti apa yg
sebenarnya ditawarkan/dikerjakan presiden transisi BJ Habibie itu? Kenapa
waktu di awal2-nya tdk mau meng-counter-nya? Sdh nasih menjadi bubur baru
berlagak galak.
Aneh-aneh mmg pejabat2 kita ini. 


Berita dari Media Indonesia On-line

Jumat, 17 September 1999 

DPR Panggil Habibie Jelaskan soal Timtim 
BERITA UTAMA 


----------------------------------------------------------------------------
----

KUPANG (Media): DPR segera memanggil Presiden BJ Habibie untuk menjelaskan
sikap pemerintah mengeluarkan opsi jajak pendapat Timtim dan kehadiran
pasukan multinasional di Timtim pascajajak pendapat. 

"Pimpinan MPR/DPR-RI sudah bersepakat untuk memanggil Presiden Habibie
Senin (20/9) guna menjelaskan sikap pemerintah," kata Wakil Ketua
MPR/DPR-RI Fatimah Achmad di Kupang kemarin. 

Fatimah Achmad dan enam anggota Komisi VI DPR-RI serta Menteri Kesehatan
Farid Anfasa Moeloek berada di Kupang untuk melihat dari dekat kondisi para
pengungsi Timor Timur yang berada di barak-barak pengungsian di Kupang. 

Fatimah mengatakan keputusan pimpinan MPR/DPR-RI memanggil Presiden BJ
Habibie itu untuk menjelaskan secara langsung sikap pemerintah mengeluarkan
opsi serta kehadiran pasukan multinasional di wilayah bekas jajahan Portugis. 

"Pimpinan DPR memang sudah mengadakan konsultasi dengan pemerintah
menyangkut masalah Timtim ini beberapa waktu lalu, tetapi melalui pleno
DPR-RI, kami minta penjelasan pemerintah secara langsung untuk mengetahui
latar belakang dan duduk persoalan yang sesungguhnya," kata Fatimah. 

Dalam hubungan dengan itu, lanjut Fatimah Achmad, pimpinan MPR/DPR-RI
bersepakat untuk mendengar penjelasan pemerintah hari Senin (20/9) pekan
depan mengenai kasus Timor Timur. 

Meskipun opsi penentuan nasib Timtim yang diumumkan pemerintah tanpa
dikonsultasikan terlebih dahulu dengan DPR, namun Fatimah mengatakan bahwa
pemanggilan Habibie untuk menjelaskan masalah Timtim itu tidak terlambat. 

"Kami tidak terlambat memanggil pemerintah (Presiden BJ Habibie) untuk
menjelaskan masalah Timtim secara keseluruhan, baik menyangkut opsi jajak
pendapat maupun kehadiran pasukan multinasional di Timtim," katanya. 

Ketika ditanya mengenai kekhawatiran penundaan SU-MPR 1999 akibat berbagai
macam gejolak yang muncul saat ini, Fatimah mengatakan pihaknya belum
menerima kabar mengenai penundaan SU-MPR dari KPU "Sampai sejauh ini, kami
belum menerima surat resmi dari KPU mengenai penundaan SU-MPR, karena yang
menentukan jadi tidaknya pelaksanaan SU-MPR itu adalah KPU," ujarnya. 

Fatimah Achmad pada kesempatan itu menyerahkan bantuan kemanusian dari
DPR/MPR-RI sejumlah Rp 50 juta kepada para pengungsi Timtim di NTT melalui
Gubernur NTT Piet Alexander Tallo. (Ant/X-2) 

 


----------------------------------------------------------------------------
----

Hak cipta � 1997-1998 Media Indonesia  



Terima kasih


Daniel H.T. <[EMAIL PROTECTED]>


______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke