Ah ini mah omongannya seorang Paranoid bung Dimpu (maksud saya si Arbi
Sangit), lha bigimana, PDI-P memerintah aja belon udah dikhayalkan
macem-macem. Ape kagak ngelindur tuh. Gue heran juga, apa yang memilih
kemaren itu semuannya non (30-an perosen lebih non semua....? atau ketepu
semua.....?  kodok semua.......? ) kok bisa-bisanye ngigau "Mereka Takut
Islam menang:"  . Lagian kejam amat memfitnah "para mereka" yang memilih
PDI-P bukan Islam..?      apa dasarnya...? (kecuali yang non lho) . Gue jadi
ingat beberapa bulan lewat ada yang bilang "itulah politik" ketika
ngomentari move idolanya, kok sekarang seperti lupa/tidak percaya sama
omongannya sendiri, yah ini yang namanya "POLITIK", segala keputusan adalah
kiat mereka untuk menang, kok diprotes .......? .

Saya anggap kemenangan PDI-P ini adalah kemenangan Demokrasi (Walau saya
tidak memilih PDI-P, karena saya punya pilihan subyektif sendiri), karena
semua Parpol sudah diberi start awal/kesempatan yang sama untuk
menarik/merekrut pendukung-pendukungnya. Beda dengan PEMILU
sebelum-sebelumnya. Dalam Pemilu terakhir kemaren ini, rakyat diberi
keleluasaan untuk memilih sesuai hati nuraninya sendiri (padahal waktu
kampanye santer banget fitnah kepada PDI-P, tapi) hasilnya .........
rakyatlah yang menang bukan para provokator atau pemerkosa agama yang menang
(pemerkosa agama = kelompok manusia yang memakai dalih agama untuk memfitnah
dan mencelakai kelompok manusia yang lain, setuju...? ). (partai saya jadi
partai gurem, tapi lumayan dapat 3 kursi di MPR). 

Karena itu sebagai manusia yang gentel, ksatria, kita terima saja hasilnya
itu seperti apa adanya. Jangan niru tindakan para "Dirty Politician" yang
sudah kalah masih berusaha njegal dengan move-move kotor memakai sentimen
agama/SARA, tanpa memikirkan nasip rakyat yang jadi tambah bingung dan
menderita akibat ulah/ambisi mereka.

Karena itu, sebagai rahayat "makin dewasalah cara berpikirnya, jangan lagi
SARA dipakai main-main/coba-coba, janganlah memakai SARA untuk memuaskan
napsu " (kalau dipakai untuk ber-DIALOG wah itu bagus sekali). Bagaimana
bangsa kita bisa maju kalau cara berpikirnya cupet skeptik, apriori dan
kuper terus, bawaannya curiga saja. Percayalah bahwa semua itu sudah ada
yang ngatur, kita jangan lagi mendahului kehendakNYA dengan menghasut,
memfitnah.......!       , biarkan alam mencapai keseimbangannya sendiri dan
satu lagi "percayalah bahwa Allah itu ada dan didekat DIA, kebenaranlah yang
akan menang dan bukannya kebathilan"

Paijo Mendhem (gak eruh moro-moro kok ngelindur ndik kene....?)

> -----Original Message-----
> From: Ahmad Dimpu [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Subject:      Re: [Kuli Tinta] MEREKA TAKUT ISLAM MENANG 
> 
> Kalau lagak suatu partai pemenang pemilu kayak begini,
> yah bagi umat Islam makin memperjelas siapa lawan
> siapa kawan.
> 
> Benar nggak sih?
> 
> --- Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > Mereka Takut Islam menang:
> > ( Wawancara dengan Arbi Sanit , Pengamat Politik UI
> > Bagaimana anda melihat kemenangan jago TNI di DPRD
> > DKI ?
> > - Ya, mereka ( PDIP-red) kalah. Ini terjadi karena
> > PDI-P tak mau menggalang partai lain.
> > Lebih disebabkan karena PDI-P tak melobi partai lain ?
> > - Benar. PDI-P tak melakukan kerjasama sehingga
> > kalah lari. Walau menguasai  kursi terbanyak, tidak lalu berdiam diri.
> Ini
> > politik.
> > Mengapa PDI-P bersikap seperti itu ?
> > - Karena mereka sombong. Ingin seenaknya.
> > Tapi kemudian melimpahkan suaranya ke TNI ?
> > -Ini kemunduran, melawan arus reformasi. Saya
> > melihat terjadi persekongkolan
> > antara PDI-P dengan TNI-Polri.
> > Latar belakangnya ?
> > - Mereka takut Islam menang.
> > Anda melihat Poros Tengah punya kans untuk menang ?
> > - Jelas dong. Mereka punya 32 suara, lebih besar
> > dari PDI-P.
> > Mengapa PDI-P lebih memilih TNI_Polri daripada
> > kelompok partai Islam ?
> > - Bagi PDI-P , lebih baik kembali ke status quo
> > daripada Islam yang menang.
> > PDI-P memang lebih mengutamakan kekuasaan daripada
> > memajukan bangsa ini.
> > Bukankah PDI-P selama ini bersuara sebagai gerbong
> > perlawanan terhadap status-quo ?
> > - Itu bohong saja. Itu untuk mengibuli rakyat agar
> > memilih PDI-P.
> > Drama di DPRD DKI Jakarta miniatur SU MPR mendatang ?
> > - Bisa jadi. Sangat boleh jadi PDI-P menghasilkan
> > Presiden Militer. Dan mereka sama sekali tidak merasa bersalah atas
> > kejadian itu. Malah merasa sebagai penyelamat.
> > Dengan begitu Indonesia Set back ?
> > - Memang orang PDI-P masih primitif. Lagaknya saja
> > mereka memperjuangkan demokrasi dan reformasi. Namanya saja partai
> > demokrasi, tapi kenyataannya partai dikatator.
> > 
> > mad ridwan.
> 

______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke