bukannya mau mengacau... cumaaa apa ya? ini hanya salah satu contoh pengalaman seorang militer saja. kalau hal ini benar, maka siapa sebenarnya yang berkepentingan thd. tim-tim? buingun tenan reeek... yok opoooo yok opo... nek pasare bubar kerene gelut, lha nek negarane bubar siapa yang gelut? mBahSoeL ---------- Nasib Pasukan Yonif 406/CK Purbalingga Mau Pulang dari Timtim, Kapal Diberondong Falintil KANGEN ANAK: Komandan Yonif 406/CK Bojong Purbalingga Letkol Inf Sonny Widjaya tampak bahagia bisa berkumpul kembali bersama keluarga. Selama masa cuti sepulang dari Timtim, dia berencana pulang ke kampung halaman di Klaten.(Foto:Suara Merdeka/F10-45g) SITUASI terakhir di Bumi Loro Sae benar-benar tak bisa dilupakan para prajurit TNI dari Batalyon Infanteri (Yonif) 406/Chandra Kusuma (CK), Bojong, Purbalingga. Sebab, ketika dalam perjalanan pulang ke dermaga di Dili, mereka dikuntit terus oleh Falintil. Namun karena kesiapsiagaan TNI, Falintil hanya berani menempel. Begitu seluruh pasukan naik kapal dan bergerak menjauhi dermaga, Falintil memberondong kapal pengangkut pasukan itu. Bunyi peluru yang mengenai penutup badan kapal KM Lambelo yang mengangkut 912 personel pasukan Yonif 406/CK itu terdengar berdencingan. Namun tak satu pun menembus kulit kapal dari baja tebal itu. Komandan Yonif 406/CK Letkol Inf Sonny Widjaya yang turut serta bersama pasukan menuturkan mereka berangkat dari Pelabuhan Dili, Timor Timur (Timtim), Jumat (24/9) pukul 20.00, dengan tujuan Ujungpandang. Mereka baru tiba di Purbalingga pada Selasa (28/9) malam. Isak tangis sanak keluarga prajurit tak bisa dibendung. Para istri, anak-anak, dan para prajurit hanyut dalam suasana bahagia bisa bertemu kembali setelah berpisah 9 bulan. Namun dari keseluruhan 986 personel, dua gugur dalam pertempuran melawan Falintil. Yakni Prada Abdul Malik (19) asal Demak dan Prada Dwi Mulyanto (19) asal Purworejo. Keduanya prajurit yang baru saja masuk batalyon itu dan langsung diberangkatkan ke Timtim. Abdul Malik dimakamkan di Kabupaten Vikuekue, sedangkan Dwi dimakamkan di Kupang. Pertempuran yang menyebabkan gugurnya dua prajurit itu terjadi beberapa hari menjelang penarikan dari Timtim, tepatnya 16 September. Pertempuran dua jam (15.30-17.30) itu baru bisa diakhiri setelah dikirim pasukan berkekuatan 150 personel mem-back up pasukan kecil itu. ''Dalam pertempuran di Kecamatan Osu, Kabupaten Vikuekue, itu pasukan kami berhadapan dengan satu kompi Falintil yang dilengkapi sekitar 100 pucuk senjata. Mereka berada di ketinggian, sedangkan kami di bawah. Setelah kami bombardir mereka dengan pelempar bom, baru kami bisa mengevakuasi para korban,'' kenang Sonny. Bukan Berperang Bapak tiga anak, yakni Sinta Wijaya (12), Dimas Wicaksono (5), dan Wisnu Maganda (3), itu mulai bertugas di Timtim jauh hari sebelum terjadi kemelut, 9 Januari 1999. Kedatangan mereka ke sana bukan untuk berperang, melainkan tugas pembinaan wilayah. Mereka mengajari warga Timtim membuat kursi, menggunakan traktor untuk mengolah sawah, dan lain-lain. Tetapi ternyata orang Timtim tak pernah mau belajar. Ketika mengikuti pembekalan seperti itu, mereka mau datang karena diberi makan. Namun setelah berada di rumah mereka tak mau mempraktekkan. Meski diberi bantuan traktor, orang Timtim tetap menggunakan tenaga kerbau untuk membajak sawah. ''Mereka hanya tahu orang pandai kalau sudah sekolah. Setelah lulus sekolah mereka harus menjadi PNS, tanpa tes masuk. Padahal di sekolah sebenarnya mereka tak bisa mendapat nilai bagus. Nilainya katrolan semua. Kalau nilainya jelek, mereka mengancam guru,'' ujar suami Sri Hartini itu. Sonny yang asli Klaten menuturkan, sejak awal proses jajak pendapat tim Unamet tak berlaku fair. Dalam proses perekrutan staf lokal, pengemudi, atau penerjemah, semua orang prokemerdekaan. Padahal semestinya orang prointegrasi juga ambil bagian. Akibatnya, dari 4.000 staf lokal tak satu pun berasal dari prointegrasi. ''Selama tahap pendaftaran, orang prointegrasi dipersulit. Katanya, mereka harus melengkapi diri dengan surat ini-itu. Sedangkan prokemerdekaan dengan mudah didaftar tanpa persyaratan apa pun,'' ujar Sonny yang pernah bertugas ke Filipina, Pakistan, dan Malaysia. Akibatnya, kata dia, dalam pelaksanaan jajak pendapat tak satu pun orang prointegrasi bisa masuk ke tempat pemilihan. Mereka hanya bisa menjadi penonton. Di ratusan TPS, banyak orang buta huruf diajak prokemerdekaan masuk ke bilik dan dipilihkan opsi merdeka. Di markas Falintil, jumlah pendaftar diperbesar. Ada yang dua kali mencoblos dan anak belum umur ikut mencoblos. Akhirnya, hasil jajak pendapat menunjukkan 94.388 orang memilih otonomi dan 344.580 orang memilih merdeka. ''Padahal, prediksi kami fifty-fifty. Tapi karena kecurangan-kecurangan itu ya hasilnya seperti itu.'' Tidak Puas Sonny membantah kabar yang menyatakan TNI memaksa penduduk Timtim mengungsi. Dia juga membantah ledakan pengungsi itu karena mereka takut menjadi sasaran tembak TNI. Arus pengungsi besar-besaran, kata dia, karena penduduk tak puas atas hasil jajak pendapat. Mereka tak mau bertahan di Timtim, sebab Interfet lebih memihak prokemerdekaan. ''Pikiran mereka, kalau tetap di Timtim pasti dibunuh. Jadi mereka mengungsi karena faktor keselamatan jiwa terancam dan tidak puas atas hasil jajak pendapat. Bukan karena takut peluru nyasar. TNI tak pernah menembak orang yang tak jelas statusnya. Kami hanya berperang melawan Falintil,'' tegas dia. Dengan masuknya pasukan Interfet, seluruh kelompok prokemerdekaan turun dari gunung. Mereka bergabung dan menjadi guide bagi Interfet, dewa penyelamat mereka, untuk menangkap penduduk prointegrasi. Setiap penduduk prointegrasi dicap sebagai milisi. Padahal tidak semua. Sepertinya hal itu usaha pembersihan terhadap kelompok prointegrasi agar tak menyulitkan di kemudian hari. ''Kalau Interfet masih seperti itu, congkak dan berat sebelah, pasti akan mendapat perlawanan kelompok prointegrasi. Beberapa kelompok seperti Mati Hidup Demi Integrasi (Mahidi), Besi Merah Putih, dan Aitarak bersatu dalam Pasukan Prointegrasi (PPI). Kalau kelak kembali ke Timtim dimusuhi, mereka akan berperang,'' katanya. Sonny menuturkan pasukan PPI sama sekali tak diberi bantuan senjata oleh TNI. Mereka mempunyai senjata rakitan. Peluru terbuat dari jeruji dan potongan baja yang digergaji. Peluru itu dikemas dan dimasukkan ke dalam tas. Mesiunya pentol korek api. Jadi kalau mau menembak, mereka merokok dulu. ''Api rokok disundutkan ke mesiu dan meledak. Jeruji dan potongan baja itu sekali tembak bisa mengenai 4-5 orang sekaligus. Jadi bukan M16 atau senjata standar TNI yang lain.'' Cepat atau lambat proses perdamaian di Bumi Loro Sae itu, ujar Sonny, tergantung pada Interfet. Sepanjang mereka tak memihak, kemelut akan segera terselesaikan.(Arief Noegroho-45g iklan milis: WOJO SETO MAILING LIST langganan: [EMAIL PROTECTED] brenti: [EMAIL PROTECTED] tanya: [EMAIL PROTECTED] dolin: http://www.egroups.com/list/wjseto ______________________________________________________________________ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI dengan mengirim e-mail kosong ke alamat; Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
