Saya sih tidak membela AS yang memang merasa berhak jadi polisi dunia, walaupun sudah 
dua tahun ngutang uang iuran PBB....

Tetapi saya tidak melihat logikanya, mengapa AS ingin supaya Indonesia rusuh habis2an. 
Bukan karena mereka secara tulus peduli dengan kita, tetapi bukankah mereka sendiri 
yang rugi, kalau Indonesia hancur?

1. Investment mereka di Indonesia kan besar.
2. Kalau Indonesia rusuh2 dan menyebabkan banyaknya       pengungsi, akan mengganggu 
stabilitas negara    tetangga, karena mereka akan ngabur ke sana. Seperti    orang 
Aceh yang selama ini banyak ngabur ke Malaysia    dan Timtim yang banyak ngabur ke 
Aussie. Sedangkan AS    butuh Indonesia dan ASEAN untuk mengimbangi kekuatan    Cina 
di Asia (kata seorang mantan dubes AS utk    Indonesia dalam hearing di Konggres tahun 
lalu).
3. Makin banyak orang Indonesia sengsara dan miskin,    makin banyak pula PBB & IMF 
minta sumbangan dari AS.
4. Kalau kita hancur, utang kita yang bermilyar2 dollar    kepada mereka tidak 
terbayar. Bukan karena mereka    berbaik hati meminjamkan uang, tetapi karena       
lama-lama bunganya makin banyak.
5. Sebelum krisis, Indonesia merupakan salah satu market    AS terbesar di Asia. 
Sekarangpun merk2 dari AS    McDonald, Coca Cola, Pizza Hut dll masih merambah    
Indonesia. Rugi kan kalau hancur? Marketnya besar lho    di Indonesia.
6. Sepertinya di negara2 barat (kecuali Aussie..), tidak    gampang pemerintahnya 
mengirim pasukan ke luar       negeri. Memang pemerintah AS dan UE masih berambisi    
menjadi polisi dunia. Tetapi rakyatnya sudah muak.    Bagi rakyatnya, setiap nyawa 
warganegara sangat    berharga (terbalik dengan kita, orang sedang       duduk2/makan 
roti bisa tertembak tentara iseng....),    jadi kalau pemerintahnya mau mengirim 
tentara, bukan    tanpa perlawanan dari rakyatnya. Apalagi setelah    Kosovo (yang by 
the way, apapun alasan mereka    "menyelamatkan" etnik Albania yang mayoritas Muslim,  
  menurut saya patut kita hargai), rakyatnya makin    alergi mengirim pasukan ke luar 
negeri, selain mahal    biayanya, nyawa tentara mereka terancam.
7. Kalau rejim otoriter menindas dan membunuh rakyatnya    sendiri (contohnya 
Indonesia), negara2 yang menjual    senjata ke kita akan diomeli oleh parlemen dan    
rakyatnya sendiri. Akibatnya, seperti yang sudah2,    mereka akan memaksa 
pemerintahnya untuk menghentikan    latihan militer dan penjualan senjata ke kita. 
Rugi    kan, kalau tidak bisa menjual senjata?

Jadi kesimpulan saya, bukan karena mereka benar2 tulus, tetapi karena alasan egois 
mereka juga tidak ada untungnya Indonesia hancur...

Bagaimana komentar yang lain? 

Salam reformasi,

Indra S.

 ---- [EMAIL PROTECTED] wrote: 
> Bung Yap,
> 
> Kenapa Cohen mesti khawatir? Jangan-jangan maksudnya bertemu Mega untuk 
> menyarankan nggak usah mencalonkan diri aja deh, biar aja Habibie-Wiranto 
> yang jadi, supaya Indonesia rusuhnya jangan tanggung-tanggung, supaya AS dan 
> sekutu-sekutunya punya alasan buat kirim Interfet lagi dalam jumlah yang 
> jauh lebih besar, supaya pasukan Australia bisa makin leluasa menyalurkan 
> nafsunya membakar hidup-hidup orang Indonesia non-Timtim ...
> 
> Reva Renaldo
> 
> 
> >From: "Yap C. Young" <[EMAIL PROTECTED]>
> >Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
> >To: [EMAIL PROTECTED]
> >Subject: [Kuli Tinta] William Cohen
> >Date: Wed, 29 Sep 1999 11:25:22 JAVT
> >
> >Dalam kunjungan di Jakarta, Cohen dijadualkan akan bertemu dengan Presiden
> >habibie dan Menhankam/Panglima TNI, Jendral Wiranto. Dia juga akan bertemu
> >dengan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarno Putri dan perwakilan
> >beberapa LSM.
> >
> >+ Apa William Cohen tidak khawatir dicap Promeg dan Orla?
> >
> >Yap
> >


---------------------------------------------------
Get free personalized email at http://www.iname.com

______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke