Dalam soal TNI saya sependapat dengan Bung Gigih.

Marilah kita melihat itu dalam perspektif sejarah. Jaman
Kemerdekaan, TKR dan BKR itu juga TP saling bahu membahu dengan
rakyat untuk melawan penjajah.

Setelah kemerdekaan, beberapa yang dulu ikut berjuang melawan
penjajah merasa tidak puas lalu memberontak. TNI harus menghadapi
mereka. Ketika, perusaaan-perusahaan asing dinasionalisasi
beberapa TNI mulai menjalankan peran sipil. Tidak semuanya jelek,
ada juga yang baik. Awal sukses Ibnu Sutowo di Plaju Sungai
gerong hingga membawa Indonesia memiliki bargaining position yang
kuat di APEC adalah contoh yang baik dan sekaligus menjadi awal
dwi fungsi itu. Namun penyelewengannya adalah contoh yang jelek.
Salah satunya untuk mendukung proyek Taman Mini yang dibela oleh
Pak Harto karena ditentang keras oleh Mhs.

Jaman Soekarno, ketika Indonesia memainkan peran sentral dalam
gerakan Non Blok, TNI adalah kekuatan angkatan bersenjata
terbesar di Asia Tenggara.  Kekuatan peran Soekarno dalam gerakan
Non Blok telah membahayakan kepentingan blok barat. Di sisi yang
lain obsesi Soekarno yang anti kolonialisme dan  anti
imperialisme telah mengabaikan pembangunan ekonomi Indonesia dan
lebih mengutamakan sisi pembangunan politiknya untuk mewujudkan
obsesinya yaitu sosialisme ala Indonesia. TNI terpecah antara
yang mendukung Soekarno dan yang menentangnya. Beberapa perwira
TNI yang datang ke Kuala Lumpur (sebelum peristiwa G30S) ketika
Indonesia sedang konfrontasi dengan Malaysia adalah salah satu
artifak perpecahan  itu. Juga pasukan tanpa tanda pengenal dan
Demo mhs yang diback up oleh TNI juga artifak dari perpecahan
itu.

Dalam kaca mata saya perpecahan itu menjadi tiga kelompok. Mereka
yang telah dibina oleh PKI, mereka yang tetap pada konstitusi
patuh kepada Pangti, mereka yang ingin menggeser Soekarno dengan
dukungan kekuatan dari luar.

Ketika akhirnya Soekarno berhasil digeser dan Soeharto
menggantikannya maka peran TNI berubah lagi. Visi utama
pembangunan ekonomi Soeharto hanya bisa diwujudkan kalau
stabilitas politik dalam negeri terwujud. Itulah obsesi pertama
dimana TNI harus membantu sang Jendral untuk mewujudkan
obsesinya. Doktrinnya cukup jelas, siapa yang menentang
pembangunan harus diamankan. Liem Sioe Liong dan Bob Hasan adalah
sebagian dari partner Soeharto sejak di Semarang yang akhirnya
menjadi lokomotif pembangunan yang harus dilindungi keamanannya.
Bayangkan perwira TNI berpangat kolonel mengawal salah satu
konglomerat yang disebut sebagai lokomotif pembangunan itu. Nah,
Soeharto sebagai Pemimpin Negara dan sebagai Jendral memiliki
sumber kekuasaan ganda untuk memerintah. Militerisasi jabatan
Gubernur, Bupati, atau jabatan sipil lainnya merupakan penjabaran
dari visi pembangunan ekonomi Soeharto. Juga, backup TNI kepada
Golkar adalah salah satu strategi untuk mewujudkan stabilitas
keamanan itu. Kekejaman demi kekejaman, dan kekerasan demi
kekerasan terus terjadi karena doktrin stabiltas itu. Marsinah,
Wiji Tukul,  dan para aktivis serta korban yang lain adalah
artifak pembangunan ekonomi Orba dan tidak akan pernah jelas
siapa pembunuhnya selama rezin tidak berganti.

Selama perkembangan Orba 32 tahun itu pula visi TNI mulai
terbentuk yaitu mengamankan pembangunan, Sehingga, visi ini juga
tertanam pada diri setiap prajurit, termasuk harapan untuk
menjadi penjabat dan penguasa. Apa yang telah dilakukan oleh para
prajurit itu di lapangan dalam menghadapi berbagai kasus
sebenarnya mencerminkan visi itu. Bagaimana mungkin seorang
prajurit menghajar orang yang sudah tidak berdaya padahal orang
itu tidak membahayakan keselamatan dirinya? Apakah milier dididik
seperti itu? Bagaimana mungkin TNI harus membunuh atau menyakiti
rakyat sipil yang sebenarnya memperjuangkan apa yang sebenarnya
menjadi harapan mereka?

Kini, menurut Sudrajat, TNI harus memilih di jabatan sipil atau
militer agar tidak menimbulkan distorsi dalam pengembalian peran
TNI. Tampaknya, keterpurukan mereka pada titik yang paling rendah
dalam perjalanan sejarah TNI telah memberi hikmah yang sangat
berharga mengenai apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang
seharusnya tidak dilakukan. Namun, buah dari reformasi di tubuh
TNI itu tidak akan bisa dipetik dalam jangka waktu dekat. TNI
memang kumpulan dari individu-individu yang memiliki keinginan
duniawi. Perbedaan tu ada dan perpecahan itu memang pernah
terjadi. Generalisasi dan membuat cap jelek kepada TNI sebagai
lembaga adalah tidak bijaksana, namun meniadakan fakta
ketidakbenaran para oknum dan pimpinannya juga tidak bijaksana.
Bagaimanapun juga kita tetat membutuhkan TNI seperti apa yang
mereka selalu ucapkan dalam Sapta Marga dan Sumpah Prajurit,  TNI
yang menumbuhan rasa aman dan tenteram dan bukan TNI yang
menumbuhkan sara takut dan kekerasan. Mudah-mudahan, Wiranto
nanti diganti oleh orang lapangan yang mempunyai wawasan dan bisa
berpikir.


----- Original Message -----
From: GIGIH NUSANTARA <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 01 October 1999 17:51

Dikapak-kapakno TNI jik paling isok dicekel,
luwih-luwih cumak level DKI thok. Timbang ngakeh-akehi
pasulayan. Ngono disik, wong isih akeh sing kudu
ditandangi lan didandani. Yo pra ?




______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke