Lha wong .....
Alasan untuk menjegal Mega sudah cenderung tidak rasional kok.  emosional.  
Jadi untuk apa ditanggapi segala macam omongan seperti itu?

Coba saja, 
Ada yang bilang Mega tidak cocok jadi presiden krn kelebihan berat badan, karena dia
bukan doktor.  Yg ngomong begitu seorang doktor tamatan Jerman lho.
Sekarang jadi mentri terus enggak becus ngurusi departemennya.  
Berita terakhir, beras bantuannya untuk masyarakat miskin di Sumatera Barat
ternyata sudah berjamur, tidak layak konsumsi.  akhirnya 
ya masyarakat seetempat mengembalikan beras bantuan tersebut.

Lain lagi bilang karena Mega wanita.  Isyu yg kurang cerdas karena di-counter oleh 
sebagian masyarakat yang lain.  Tidak kurang dari seorang mentri peranan wanita 
akhirnya harus menjilat ludahnya sendiri.  
Kalau begitu ya untuk apa ditanggapi?

Katanya kudu debat publik.  Lha begitu ada debat, kok debat kusir, kekanak-kanakan.
Masakan yang ditanya urusan rokok, terus Amien Rais dan Yusril saling "mengejek", 
satunya bilang anda kan bukan pakar hukum tata negara, satunya membalas, bahasa 
Inggris anda belepotan, anda jauh di bawah saya.  
Debat kok kayak anak kecil rebutan permen, 
padahal calon presiden.

Soal caleg PDI-P yang anda wawancarai:
informasi ini kan sepihak dari anda.  Saya juga bisa bikin wawancara yg lain.  
Siapa yang bisa membuktikan kebenarannya atau mengkonfirmasikannya ?
Yang kedua,  informasi (bila benar), kan hanya dari satu orang saja.
Sampel kurang representatif untuk mewakili keseluruhan populasi.
Jadi, "isyu" anda ini saya kira kurang cerdas.  Tolong bikin isyu yang agak cerdas
dengan data yang diterima dan diketahui semua orang.  

"Isyu" anda ini mirip isyu Lippogate dimana datanya cuman daftar penyumbang yang 
sangat amatir.  Anak SMA juga bisa bikin.  Atau mungkin "isyu" ini anda bikin setelah 
belajar dari manuver murahan seperti itu?



-----Original Message-----
From:   Zaki Tugiyo [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
Sent:   Friday, October 01, 1999 2:04 PM
To:     [EMAIL PROTECTED]
Subject:        [Kuli Tinta] Re: Pelacuran Politik

Saya punya cerita menarik, pada suatu hari lupa tanggal dan hanya ingat
harinya (kayak judul lagu dan pengakuan Rudy Ramli) saya berbincang
dengan salah seorang caleg jadi DPRD dr PDI.P (sekarang sudah diangkat)
dialognya kurang lebih :

Zaki        = Kenapa sih kok Mega diam seribu bahasa kayak orang ooonn?

Caleg PDI.P = Mega bukannya tidak bisa ngomong dengan lingkungan luar
              karena kalau dia ngomong akan selalu dicari-cari
kesalahnya
              gitu lho masalanya ....

Zaki        = Saya pikir disinilah diperlukannya kecerdasan, karena kalo
              takut untuk dicari kesalahannya bukannya dengan 
              dihindari namun dengan "Berbicara yang benar" tentunya 
              tidak akan ditemukan kesalahannya.

Caleg PDI.P = Tapi ya memang udah typicalnya seperti itu, gimana lagi
..

Zaki        = Berarti Bapak berprinsip ....?
              pokoke ... ke .... ke... ke .. Megawati gitu Pak.. ?

Caleg PDI.P = Ya abis udah cinta sih ....(abis cantik sih ...)

Ya gitulah gambaran tentang masyarakat kita tapi walau bagaimanapun kita
harus tetap menghargai cara berpikirnya ...

Zaki Tugiyo
(yg selalu bersikap kritis dan rasional)

______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!









Kirim email ke