Antareja Bali, Dijadikan Komandan Satpam        


USAHA Antareja kembali ke grup Pendawa tidak semudah dan segampang yang ia rencanakan. 
Sebab, sewaktu akan masuk ke wilayah Amarta sudah dioyak para prajurit Pendawa yang 
berjaga di perbatasan. Untunglah, ia bisa lolos berkat bantuan Punakawan, Semar, 
Gareng, Petruk, dan Bagong. 
Seperti diceritakan sebelumnya, Antareja kena bujuk rayu 
Durna dan Sengkuni, ia mengkudeta supaya diangkat jadi raja muda, seperti kakaknya 
Gatutkaca. Sengkuni sudah ngajari unjuk rasa, dan ketika Antareja gagal kudeta, ia 
ingin Hastina membiayai gegernya. Tetapi, Hastina tidak mau. Dari itulah dia ingin 
comeback ke Amarta. 
Para punokawan itu dapat mengelabuhi penjaga istana dengan 
lelucon dan akalnya. Sehingga, ketika Antareja sudah menyusup ke Amarta, mereka tak 
tahu. Antareja sendiri dengan mudah dapat masuk istana. Meski kerabat istana sempat 
ndak sreg, namun ia diterima di pendapa.
Dengan merengek-rengek, Antareja minta 
diterima kambali jadi kelompok Pendawa. Ia tidak menuntut lagi dijadikan raja muda, 
tugas apa pun yang ia sandang diterima asal diterima dan diakui anak Bratasena. 
''Saya bunuhen saja, kalau dianggap berkhianat dan ditolak sebagai anak Pak Bratasena. 
Bunuhlah saya daripada tidak dinggap keluarga Pendawa,'' kata Antareja.
''Sudahlah, 
yang sudah jangan dipikir. Asal awakmu setia kembali kepada grup Pendawa, dan tidak 
kena ''bujuk'' Durna Cs,'' jawab Puntadewa.
Setelah dimusyawarahkan, Antareja diterima 
kembali jadi kerabat Pendawa. Namun, Kresna dalam batin kurang sreg. Ia ingin supaya 
Antareja diadili dan dikenakan sanksi hukuman. Namun karena kalah suara, Kresna 
menerimanya, meski dalam batin ngingit-ngingit suatu saat ingin menghukumnya.
Memang, 
niat Kresna kelak jadi kenyataan. Saat perang Bharatayuda, Antareja direkayasa disuruh 
mengambil kecik klungsu dengan cara menjilatnya. Dan, karena ada bekas telapak kakinya 
sendiri, maka matilah Antareja. 
Setelah diterima kembali jadi kelompok Pendawa, 
Antareja diberi tugas menjaga keamanan wilayah Amarta, namun bukan sebagai senopati. 
Ia cukup menjadi komandan satpam, t
menjadi satria Pringgadani. ''Biarlah, sementara Antareja jadi satpam, tukang jaga 
istana saja, untuk keamanan umum biar tetap dipegang Gatutkaca,'' ucap Puntadewa.
Sementara itu, di Pertapaan Andong Cinawi yang juga disebut pertapa Gambir Seketi, 
sang Begawan Sidekwacana sudah beberapa hari ini kelihat sedih. Sebab, cucu 
kesayangannya Endang Pergiwa dan Endang Pergiwati yang sudah menginjak dewasa mengoda 
dan bertanya ingin bertemu babaknya. 
''Eyang, kanjeng rama saya itu siapa? Di mana 
alamatnya, nanti tak carinya sendiri. Saya malu diejek teman-teman, katanya saya tidak 
punya ayah, katanya saya keluar dari batu,'' kata Endang Pergiwa.
''Jangan percaya 
omongan teman-teman mu itu, bapakmu ya saya ini. Mosok tidak percaya,'' jawab sang 
Begawan Sidikwacana.
Juga, kepada ibunya Dewi Semendang, selalu saja Pergiwa dan 
Pergiwati bertanya siapa babaknya dan di mana ia sekarang berada. Karena terpaksa, 
Dewi Sumendang menjelaskannya, bapaknya bernama Raden Harjuna, rumahnya di Madukara. 
Tetapi Dewi Sumendang wanti-wanti kalau penjelasan ini harus dirahasiakan, sebab kalau 
eyangnya mendengar akan marah.
Karena sudah jelas nama dan alamat bapaknya, Endang 
Pergiwa dan Endang Pergiwati dengan sembunyi-sembunyi mereka mempersiapkan bekalnya 
untuk mencari bapaknya. Mendengar informasi kalau kedua cucunya akan pergi mencari 
ayahnya, Begawan Sidikwacana memanggilnya. ''Jangan sembrana, Madukara itu jauh 
sekali. Dan, bapakmu itu mempunyai jabatan penting, sulit ditemui. Apalagi kamu ini 
wanita,'' kata sang begawan tua itu.
Namun karena sudah tekat, kedua cucunya tetap 
ngotot ingin berangkat. Karena sudah tidak mampu lagi menahan kedua cucunya berangkat 
menemui ayahnya, Begawan Sidikwacana merelakannya. Guna menjaga keamanan kedua 
cucunya, dipanggillah cantrik Janaloka untuk mengantarnya. Janaloka yang pada dasarnya 
naksir Pergiwa, seperti ''rindek asu digitek,'' semrintil saja.
''Sudahlah sang 
Begawan, saya bersumpah kalau nanti di tengah perjalanan ada apa-apa, saya siap 
melindungi dan tidak akan menganggunya,''ucap cantrik Ja
sampai ketemu kanjeng ramaku ya Kang Janaloka,'' kata Pergiwati.
Jalanan antara Andong 
Cinawi dan Madukara selain jauh juga melewati lereng gunung dan hutan belantara. Juga, 
melewati wilayah Hastina, Amarta, Pringgadani, dan Plongkowati. 
Sebagai lelaki 
normal, Janaloka yang beberapa hari berjalan bersama dua gadis cantik, tentu timbul 
pikiran neko-neko. Ketika sampai di tengah hutan Wanadirbaya, Janaloka mulai ngawur. 
Ia minta kakinya dipijiti. Karuan saja, Endang Pergiwa dan Endang Perhiwati 
menolaknya. Dasar orang licik, Janaloka tidak habis akal, ia mengancam dan 
menakut-nakuti     
''Awas kalau kalian tidak mau mijiti, tak tinggal sendirian lho di 
hutan, biar dimakan macan,'' kata Janaloka. Karena kedua gadis itu masih ingusan dan 
karena takut ia mau memijit Janaloka. 
Saat perjalanannya mereka memasuki wilayah 
Hastina, secara kebetulan ada rombongan prajurit Hastina yang patroli dipimpin Patih 
Sengkuni. Para prajurit keliling hutan karena ada laporan banyak kayu jati yang 
hilang. Konon, menurut laporan itu, pencuri kayu jati disponsori beberapa oknum 
keamanan dan pejabat pangreh praja.
Melihat ada dua gadis cantik, berjalan bersama 
seorang lelaki, Sengkuni matanya berkejap-kejab dan menegornya. Cantrik Janaloka 
mengaku kalau kedua gadis itu adalah istrinya.
''Istri gombal apa, wong tampang murahan punya istri dua cantik-cantik. Berikan saja 
dua gadis itu, biar jadi istri simpananku,'' kata Sengkuni.
Karena ''engkel-engkelan'' 
akhirnya tawuran. Janaloka dikeroyok puluhan prajurit Hastina kalah akhirnya gugur. 
Pergiwa dan Pergiwati yang melihat situasi demiiian segera hengkang melarikan diri. 
Tetapi prajurit Hastina tidak membiarkan begitu saja. Mereka mengejarnya sampai 
diperbatasan wilayah Pringgadani. 
Gatutkaca satria Pringgadani, yang saat itu sedang 
''nganglang jagat'' menjaga keamanan wilayah, melihat ada dua gadis berlari 
dikejar-kejar prajurit Hastina turun menolongnya. Perang tanding antara Gatutkaca dan 
prajurit Hastina tidak bisa dielakkan, hingga para prajurit Hastina kalang kabut 
dihalau Gatutkaca.
Usai ditolong, Pergiwa-Pergiwati cengengas-cengenges kepada 
Gatutkaca. ''Saya minta tolong ya Mas, antarkan saya menemui kanjeng ramaku Raden 
Harjuna di Madukara,'' pinta Pergiwa dan Pergiwati. Kontan, tanpa dipaksa Gatutkaca 
bilang ''ho-oh.''




______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke