Hastina Enggan Mendanai ''Geger Antareja''

DENGAN mudah Resi Mayangkara mengusir roh jahat Dasamuka yang nempel di raga Antareja. 
Antareja pun pulih seperti biasa. Tak bikin geger lagi. Para kerabat Pandawa senang 
bukan main. Mereka segera dapat berharap satria saudara Gatutkaca itu bakal menjadi 
kerabat yang baik setelah dihasut Sengkuni.
Namun, harapan mereka meleset. Sebab, 
Antareja yang sudah eling itu tidak mohon maaf kepada kerabat Pendawa atau kembali ke 
Amarta. Malah minggat lagi, terbang ke Hastina, menemui Durna dan patih tengik 
Sengkuni.
''Pak Sengkuni, yok apa kok panggah belum diangkat jadi raja muda seperti 
adikku Gatutkaca. Padahal saya sudah ngamuk, ngrusak, unjuk rasa, dan sebagainya? Apa 
latihan saya unjuk kebolehan itu tidak cukup. Apa saya belum matang disebut aktivis? 
Apa saya belum layak jadi politisi? Kan saya sudah banyak menimbulkan intrik dan huru 
hara?'' ucap Antareja.
Apa jawa Sengkuni? ''Ngamukmu mungkin masih kurang, menurut 
ukuran seorang aktivis hak-hak pribadimu, ngamukmu itu baru sepuluh persen. Jadi, 
harus mbok tingkatkan. Sudah, istirahat sana di taman sari. Nanti tak ajari lagi 
membuat geger dan ngamuk yang canggih,'' kata Sengkuni.
Tanpa banyak komentar Antareja 
langsung menuju ke tamansari dituntun Dursasana. Di tamansari, Antarejo dijamu dan 
dilayani putri-putri dan dayang cantik. 
Pandita Durna dan Patih Sengkuni segera 
menghadap Prabu Duryudana, di paseban agung itu juga ada Basukarna. Sengkuni 
melaporkan keadaan Antareja yang sekarang sedang istirahat di tamansari. Sengkuni 
minta petunjuk bagaimana tindakan selanjutnya. Mengingat bagaimanapun Antareja yang 
sangat potensial diadu domba itu harus dimanfaatkan.
''Kita kurang koordinasi. Mosok 
kita para Kurawa kalau bicara saling bertentangan, satu ngalor satunya ngidul,'' 
sergah Basukarna mendengar laporan Sengkuni.
''Saya minta Mas Basukarna kalau bicara 
jangan ceplas-ceplos gitu, harus bisa menahan tabiat,'' tegur Duryudana.
''Betul lho 
sinuhun. Saya ini sangat prihatin dan tak tahan lagi melihat teman-teman Kurawa kalau 
bicara sak enake dewe,'' kata Basukarna. ''
sering kebablasen, hanya berharap-harap menonjolkan diri.''
Sengkuni dan Durna yang 
mendengar celotehan Basukarna segera menyanggah. ''Lho bukannya begitu Adi Basukarna. 
Kita ini harus tanggap sasmita. Begitu ada peluang dan kesempatan kita pergunakan. 
Lha, kalau nunggu rapat dan diskusi and koordinasi, ya ndak jalan-jalan. Wong sampeyan 
sering pelesir dan mematikan handphone gitu, lho,'' kata Sengkuni.
Mendengar 
pembicaran yang saling membela diri itu Prabu Duryudana tersinggung dan kurang minat 
lagi memikirkan soal Antareja, apalagi membiayai peningkatan unjuk rasa dan kekisruhan 
antarejo. Karena rajanya sudah demikian, Durna dan Sengkuni diam saja. 
Kini nasib 
Antareja ngambang. Di Hastina sekarang ini tak diperhatikan lagi. Bahkan beberapa hari 
terakhir ini hanya makan tidur, tidak pernah ditemui Sengkuni atau Durna. Hanya 
pelayan putri saja yang setiap waktu mengirim makanan.
Keadaan Antareja yang 
mengenaskan itu sebenarnya terus dipantau eyangnya Antaboga. Bahkan, eyang Antaboga 
telah resmi menerima laporan dari Nakula dan Sadewa, utusan Bratasena. Supaya diakan 
penyelesaian, bagaiman supaya Antareja kembali ke  Pendawa lagi.
''Kerabat Pendawa 
bingung menghadapi. Diminta supaya Pukulun Antaboga turun tangan,'' kata Nakula. Kisah 
ini sangat populer jika dipentaskan dengan lakon Antareja Bali.
''Oke-oke kalau 
begitu. Saya akan mengajak dia kembali ke Pendawa, cucuku itu memang masih lugu 
sekali,'' kata Antaboga.
Karena kelasnya dewa, Antaboga dalam waktu singkat saja 
sampai di tamansari Kadilenggeng, tempat Antareja nginep di Hastina. Dijelaskan kepada 
Antereja, soal sikap Kurawa terhadap dirinya yang hanya mempermainkan saja.  Tetapi, 
Antareja panggah mbengal. ''Saya di sini enak kok eyang, tak kurang apa-apa makan 
minum tidur melulu, tak kerja,'' kata Antareja. 
''Awakmu itu ditipu Kurawa. Hanya 
dijadikan alat untuk menghancurkan Pendawa. Sadarlah, dan kembali ke Pendawa,'' kata 
Antaboga.
Sepeninggal eyangnya, Antareja mikir juga. ''Iya... ya. Aku di sini nggak di 
bayar, nggak diajarin ilmu lagi. Cuma suruh
dan ditemani putri-pitri cantik. Kalau begini terus, bisa bebal diriku,'' katanya.
Segera setelah itu dia ngamuk, merusak segala seuatu yang ada di depannya. Prajurit 
jaga, para pengawal istana semuanya dihajar babak belur. Sengkuni segera menemui 
Antareja. ''Jangan ngawur gitu, kalau ada masalah dibicarakan dong. Jangan lantas 
ngamuk, emosi kaya gitu. apa maksudmu,'' kata Sengkuni.
''Sudahlah, saya akan kembali 
ke Pandawa, mengabdi kepada babakku Bratasena. Saya mbok bohongi saja kok,'' kata 
Antareja terbang sambil mengarahakn hantamannya ke arah Sengkuni.
Semula Sengkuni 
ingin mencegah. Tetapi, dia sudah tidak punya alasan lagi menyegahnya. Sebab, Prabu 
Duryadana sudah tidak mau memberi proteksi lagi, nggak sudi mendanai lagi Antareja 
nggasak Amarta. Selain itu, Sengkuni juga takut ketika akan dijotos Antareja yang 
ingin bali pulang ke Amarta.
Dengan leluasa Antareja kembali ke Amarta. Tetapi, sampai 
di perbatasan Amarta, ia ditolak masuk di Amarta oleh Gatutkaca dan Abimanyu, serta 
Setyaki.  Sebab. sudah ada perintah kalau Antareja datang supaya diusir. 
Kini, 
Antareja bingung. Mau ke Hastina malu, akan masuk di Amarta ditolak. Akan ke manakah 
dia?


______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke