Membaca paparan data dan analisis Bung Mawardi, saya harus
mengatakan bahwa itu sebagai sebuah spekulatif analisis mungkin
saja bisa terjadi.

Namun, sebuah spekulasi pula bahwa format AR di ketua MPR dan AT
di Ketua DPR justru sebenarna merupakan bagian dari strategi PDIP
untuk mengejar targetnya. Cobalah kita mencermati hasil
pemilihan-pemilihan itu. Sejelek-jeleknya PDIP maka mungkinkah
KKG memperoleh suara yang sangat tidak sebanding dengan jumah
anggotanya kalau hal itu memang tidak direncanakan?. Kelihatan
jelas bahwa target mereka sebenarnya adalah PKB. Sejelek-jeleknya
PDIP maka mungkinkah mereka setuju musyawarah untuk mufakat untuk
mendukung AT menjadi Ketua DPR kalau tidak karena sebuah
strategi? Dalam hal ini, logika saya jelas berbeda dengan Andi
Malarangeng, Eep, Arbi Sanit, Afan Gafar, Fachry Ali,  dan para
pengamat yang lain karena saya bukan pengamat politik namun
hanya seorang neter biasa.

Kini, orang seperti halnya Bung Mawardi telah menempatkan PDIP
harus diberi tempat karena ia mewakili porsi terbesar pemilih. AR
sendiri mengatakan bahwa PDIP sebagai partai pemenang Pemilu
tidak boleh ditinggalkan. demikian pula dengan Abdilah Toha.
Mengapa mereka harus merasa untuk  mengikutkan PDIP kalau proses
demokrasi itu dibiarkan berjalan secara natural?  Bahwa akhirnya
nanti PDIP tidak memperoleh tempat satupun maka itu harus
diterima sebagai sebuah proses demokrasi.

Situasinya mungkin memang akan menjadi agak lain seandainya misal
PDIP telah menempatkan wakilnya sebagai ketua di DPR atau MPR.
Alasan untuk tidak meninggalkan PDIP tentunya sudah tidak relevan
toh karena demokrasi menghendaki demikian. Padahal sejak awal
memang PDIP hanya memasang satu target yaitu RI 1. Nah, apakah
keberhasilan AR di Ketua MPR dan AT di Ketua DPR justru merupakan
keberhasilan dari strategi PDIP agar dengan demikian nanti orang
akan berpikir bagaimana dengan PDIP?

Sebenarnya, kehendak untuk tidak meninggalkan PDIP itu (karena
mengingat PDIP memperoleh porsi suara terbesar) adalah sebuah
usaha untuk mengatur demokrasi. Kalau memang benar kedaulatan ada
di tangan rakyat maka biarkanlah nanti rakat yang menilai
bagaimana proses demokrasi yang sedang terjadi di MPR itu
dijalankan leh wakil-wakil mereka. Kinipun kita sudah melihat
bagaimana 4 fraksi menolak pertanggungjawaban presiden, 1
menerima, dan yang lainnya tidak tegas untuk menentukan sikap.
Itu semua adalah demokrasi yang diamati oleh rakyat di luar
gedung MPR. Bahwa nanti seandainya realita didalam gedung berbeda
dengan realita di luar gedung maka biarkanlah itu menjadi sebuah
tahapan belajar bagi bangsa ini.

Bagi PDIP, saat ini posisinya adalah nothing to loose. Seandainya
toh nanti PDIP tidak memperoleh tempat sama sekali maka mereka
akan menyerahkan kepada rakyat untuk menilainya disamping
tentunya mereka akan menjadi oposisi yang kritis. Disamping itu,
seandainya toh PDIP akhirnya tidak memperoleh tempat karena
proses yang demokratis maka itu jauh akan lebih baik dibanding
mereka harus memperoleh tempat karena tekanan atas perasaan untuk
tidak meninggalkan PDIP yang memperoleh porsi terbesar dalam
pemilu lalu. Biarkan itu menjadi bagian dari pendidikan politik
bangsa ini dan gambaran saat ini mengenai pembangunan demokrasi
di Indonesia.

��

----- Original Message -----
From: <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 06 October 1999 16:08
Subject: [mimbarbebas] Presiden IV : Habibi, Gusdur, atau Mega ?



Sejak awal sidang MPR, sebenarnya sudah dapat dibaca peta politik
fraksi-fraksi MPR. Bahkan sebelum sidang pertamapun sudah ada
tanda-tandanya. Beberapa hari menjelang sidang, sudah terbentuk
tim
tujuh dibawah pimpinan Yusril Ihsa Mahendra. Tim ini
mempersiapkan
draft tata tertib agar sidang MPR berlancar lancar tidak seperti
KPU.
Tim tujuh mewakili partai-partai besar minus PDIP. Pada awalnya
PDIP
bergabung tapi kemudian nyempal dan membuat draft sendiri. Dalam
sidang
MPR, draft buatan tim 7 ditolak PDIP. Kemudian keputusannya
ditempuh
melalui voting dan PDIP kalah. Kekalahan PDIP ternyata beruntun
beberapa kali sampai akhirnya bermuara pada pemilihan ketua MPR.
Dari sini dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Dari perolehan suara calon Ketua MPR, terlihat adanya 2 kubu
besar
di MPR yaitu PDIP/PKB (Matori) dan non PDIP (Amin), serta kubu
TNI yang
netral. Kubu non PDIP adalah gabungan poros tengah dan Golkar.
2. Isu-isu sebelumnya menggambarkan bahwa poros tengah tidak
kompak,
dan Golkar sudah pecah (Golkar putih dan hitam). Siapa yang tidak
percaya, kalau isu itu disebarkan sendiri oleh orang-orang dalam.
Di
sisi lain, PDIP dengan merangkul PKB yakin akan menang. Rupanya
PDIP
telah termakan isu sehingga lengah dan berakhir dengan kekalahan.
3. Koalisi Golkar dan poros tengah yang dipelopori Amin, Gusdur
dan
Akbar bukanlah main-main. Terbukti dengan pengumpulan suara yang
siginifikan kepada Amin di MPR (dan juga kepada Akbar di DPR).
Dipastikan koalisi ini akan berlanjut sampai ke pemilihan
presiden,
sebagai bagian dari power sharing diantara mereka.
4. PDIP terperanjat melihat kekompakan poros tengah dengan
Golkar. PDIP
mencoba mengubah strategi dengan merangkul Golkar melalui
dukungan
kepada Akbar pada pemilihan ketua DPR, walaupun terpaksa harus
mengorbankan jagonya (Sutarjo). Tentu dengan harapan agar kelak
Golkar
dapat mendukung Mega pada pemilihan presiden.

ANALISA KEDEPAN
Saya kira strategi PDIP sudah terlambat. Sebab, sebelum Amin
membentuk
poros tengah, ia telah mencoba mendekati PDIP tetapi sikap PDIP
yang
kaku dan arogan membuat Amin patah arang dan bahkan berbelok
merangkul
Golkar yang sebelumnya dimusuhi. Golkar dengan jumlah kursi 120
masih
memerlukan teman, dan ajakan poros tengah pasti disambutnya.
Gabungan Amin dan Gusdur merupakan simbol persatuan umat Islam
Indonesia (terutama Muhamadiyah dan NU), maka poros tengah ini
diperkirakan akan mampu mengumpulkan suara Islam yang tersebar di
berbagai fraksi, termasuk TNI, Golkar dan PDIP.
Dukungan Golkar terhadap pencalonan Habibi kian surut karena
banyaknya
masalah yang tidak dapat diselesaikannya. Mungkin Golkar tidak
berterus
terang mencabut pencalonan Habibi sebagai capres, tetapi saya
perkirakan suara Golkar akan mengalir ke Gusdur. Nasib Habibi
mungkin
akan sama seperti Ginanjar di MPR (mendapat 10 suara).
Seandainya suara Golkar terpecah kepada ketiga calon (Habibi,
Gusdur
dan Mega) karena loby-loby pendukungnya, suara poros tengah plus
PKB
dan sebagian Golkar, TNI, utusan Golongan dan Daerah cukup untuk
mengantarkan Gusdur ke kursi RI-1.
Gusdur memiliki kelebihan dibanding kedua calon lainnya. Ia dapat
diterima oleh berbagai golongan termasuk golongan non muslim.
Jika Gus
Dur terpilih sebagai presiden, saya perkirakan ia akan meloby
semua
fraksi untuk memilih Mega sebagai wakil presidennya. Gusdur
sangat
dekat dengan Mega sehingga ia tidak mungkin akan meninggalkan
Mega
begitu saja.
Pasangan Gusdur - Mega cukup ideal, karena semua partai besar
sudah
terwakili di lembaga tinggi negara, dan cita-cita Gusdur untuk
rekonsiliasi nasional akan mudah dilaksanakan. Gusdur tinggal
memikirkan bagaimana supaya TNI/Polri tidak membuat masalah,
memikirkan
kesehatan fisiknya (yang membuat banyak orang meragukan
kemampuannya)
serta belajar berbicara yang tidak membingungkan orang banyak
orang.
Apalagi ?

Salam, Marwadi A





______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke