Wah Mas Hasan kita mempunyai keperhatian yang sama.  Sewaktu saya baca
Republika hari ini (18/10/99) saya cukup tersenyum dengan permainan kata
dari Jacob Tobing tersebut, adalah dua orang tersebut yang sering saya
dengar mengucapkan kata-kata Revolusi yaitu Jacob Tobing dan Theo Safeii
dengan gaya bahasa dan tingkat intelegensi yang berbeda.

MARI MENARI MENGIKUTI IRAMA GENDANG merupakan kata yang indah dan dapat
kita implementasi kedalam berpolitik ataupun dalam bermasyarakat secara
umum, ancaman Revolusi seperti yang didengungkan oleh PDI.P saya harap
tidak hanya sebagai pressure omong kosong belaka tapi hal itu untuk
dilaksanakan sesuai dengan janjinya.
Ada pepatah mengatakan ANDA MENJUAL KAMI MEMBERI maka itu yang akan saya
lakukan bersama-sama dengan teman yang se-ide yaitu Jika PDI.P akan
melakukan Revolusi maka saya bersama teman-teman akan melakukan hal yang
sama seperti yang dilakukan oleh PDI.P, karena kebatilan harus dilawan
jika perlu sampai dengan DARAH PENGHABISAN, sebagai muslim wajib bagi
saya untuk memerangi kebathilan.

Salam
Zaki Tugiyo
(yg sedang menunggu REVOLUSI ... ANDA MENJUAL KAMI MEMBERI ..?)
----------
From: Abdullah Hasan
To: Millis Kuli-Tinta; Milis Indonesia
Subject: [Kuli Tinta] JACOB TOBING  &  AKBAR TANJUNG
Date: Monday, October 18, 1999 2:19AM

Jacob dan Akbar. Paling asyik mengamati kedua elite politik ini.
Keduanya
Batak. Tapi sikap "cool"-nya membuat mereka lebih Jawa dari yang priyayi
Yogya. Jauh dari sikap meledak-ledak horas-bah sumatera utara. Tenang ,
pelan, sabar, penuh perhitungan kalau harus melangkah.  Kalau harus
berkelit, Huh!. Bak jago Aikido atau Judo....

Saya kira PDIP telah merasakan Langkah kombinasi Master Akbar dengan
cukup
telak. Sulit menutupi dengan alasan yang bisa dibuat-buat. Kenyataan
yang
mloho atawa gamblang mempertontonkan, bahwa PDIP ( yang menang 30 %)
plus
opini media dan publik yang dahsyatpun loyo tidak mampu mengangkat
calonnya.
Guritno cuma nyaris 40 meter dibawah permukaan. Strategi ?
hmmm...(smile).

Sekarang marilah kita lihat bagaimana halusnya gaya Jacob memainkan
jurus
"Main Ancam". Didepan wartawan dia menegaskan : "Jika Mega tak terpilih,
gelombang massa pendukung Mega yang jumlahnya mencapai jutaan orang itu
akan
marah dan menuntut terjadinya revolusi". Jika gelombang massa itu benar2
terjadi, lanjut Jacob, PDI-P akan berupaya untuk menenangkannya. " Tapi,
perlu anda pahami bahwa tidak semuanya bakal membawa hasil. Sebab, upaya
menenangkan masa tersebut akan sia-sia , karena sangat bertentangan dan
tidak mencerminkan keadilan dan kepatutan yang diinginkan oleh rakyat.
Saya
tegaskan lagi. PDIP tidak menghendaki revolusi. Namun logika yang
terjadi
ditengah masyarakat tentunya sangat berbeda ".

Anda bisa lihat indahnya gaya Jacob mengancam orang banyak. Bagaimana
dia
mengancam masyarakat beradab. Cermati betapa manisnya dia
mengganti-ganti
kata rakyat dan massa PDIP.  Semuanya itu dikemas dengan kelembutan nada
kalimat pendeta tanpa dosa.

Perhatikan bedanya bila jurus yang sama yang dimainkan koleganya Theo
Syafei. Bekas tentara Orba yang terkenal mulutnya berkelepotan kebencian
(pada Islam ) ini, mengucapkan sehari sebelumnya : " Bagi warga PDIP
siap
menjadi korban. Korban berdarah-darah sudah biasa. Seribu atau duaribu
warga
PDIP menjadi korban tidak masalah. Yang penting revolusi berjalan!"

Ya. Kasar dan amat vulgar. Nekad, dan preman. Apa arti nyawa rakyat bagi
orang macam ini. Apalagi bila panik melihat kegagalan yang tidak
berhenti
menimpa. Dan panik kuatir kegagalan yang penghabisan, The Last Armagedon
:
Njungkel-nya Mega. Mestinya kan hara-kiri ? Kok narik-narik rakyat kecil
yang tak berdosa ?

Wassalam.
Abdullah Hasan.

______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke