Kalau kita mengamati perkembangan situasi ekskalasi masa
akhir-akhir ini dan perkembangan demokrasi yang menolak Habibie
(bukan berasal dari parpol) maka saya khawatir bahwa penyulut
sumbu itu justru keputusan voting apakah Pidato Habibie ditolak
atau diterima.

Demo harian yang semakin besar di depan lantai bursa yang menolak
Habibie juga menjadi indikator. Orang boleh mengatakan bahwa itu
sebagai sebuah bentuk teror atau konsiprasi parlemen jalanan untk
mempengaruhi sidang MPR seperti sinyalemen Dawam Rahardjo.

Marilah masa PDIP kita kesampingkan dahulu.

Kini mahasiswa kayaknya adem-adem saja. Namun dalam kondisi
seperti ini justru seperti api didalam sekam. Unjuk rasa kekuatan
mereka ketika Presiden Habibie menyampaikan pertanggungjawaban
kiranya bisa menjadi ukuran bagaimana kekuatan mereka bila
bersatu nanti. Kini, Semua berbicaa mengenai masa PDIP. Namun,
sebenarnya jumlah mhs dan rakyat di Jakarta ditambah kekuatan
para profesional itu tidak kalah dahsyatnya untuk membentuk
people power. Tuntutan mereka (PDIP tidak termasuk) cuma satu
yaitu menolak Habibie menjadi Presiden.

Namun di sisi lain, MT Arifin mengatakan bahwa saat ini sdah ada
konsentrasi 3000 masa di Kebayoran Baru dan 10.000 masa yang akan
masuk ke Jakarta.

Seperti kita telah mengetahui, penerimaan pidato Habibie adalah
sebuah test case keberhasilan Voting pemilihan Presiden Habibie.
Oleh karena itu, voting tu nanti akan menjadi test case pertama
apakah sumbu itu akan disulut atau tidak.

��




______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke