Ketika pidato pertanggungjawaban Habibie ditolak oleh MPR, saya lihat
anggota fraksi PDI-P bergitu bergembiranya. Dimyati Hartono, Solichin GP,
nampak begitu bergembira. Barangkali mereka merasa puas bisa memenangkan
voting itu. Dengan demikian, kans Habibie (secara moral) sudah habis. Akan
tetapi, jika dicermati lebih lanjut, seharusnya mereka MENANGIS. Kenapa?
Dengan tergusurnya Habibie dari bursa capres, dapat dipastikan bahwa suara
PKB bakal lari dari Mega. Karena, PKB tidak mungkin _melawan_ Gus Dur.
Seharusnya, PDI-P membiarkan pidato itu diterima dan Habibie mencalonkan
lagi. Pada pemilihan tahap pertama, Gus Dur dapat disingkirkan dengan cara
memberi sumbangan suara (secara rahasia) pada Habibie sehingga tinggal 2
kontender. Pada tahap berikutnya, kans PDI-P akan lebih besar dibanding
kans Habibie. Toh ada 60 suara PKB. Belum lagi Poros Tengah yang tidak
akan solid. Minimal banyak yang abstain.
Banyak orang yang berfikiran seperti itu. Bahwa penasehat Mega tidak bisa
bermain catur, sehingga seluruh daya hanya dipusatkan untuk menyingkirkan
Habibie sejak awal pemilihan. Tidak pernah mereka fikirkan bahwa
menghadapi Gus Dur justru lebih berat dibanding menghadapi Habibie.
Demikian pula waktu Yusril mengundurkan diri dari pencalonan. Aneh sekali
bahwa hal itu disambut dengan kegembiraan oleh fraksi PDI-P. Semestinya
hal itu disambut dengan UMPATAN. Kenapa? Jauh lebih mudah mengalahkan
Yusril daripada mengalahkan Gus Dur. Andaikata Yusril ikut, bisa saja
sebagian suara PDI-P dialihkan ke Yusril supaya Gus Dur tersingkir. Baru
tahap selanjutnya Mega mengalahkan Yusril. Nggak tahu lah, kenapa para
politisi kawakan yang mengelilingi Mega tidak bisa memahami taktik seperti
ini. Mereka terlalu membenci Habibie sehingga tidak paham bahwa lawan yang
lebih tangguh itu justru bukan Habibie.
WAM
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!