ah,
pusing aku.
tolong dong bagi yang ahli di per-konglomerat-an aku ini
diajari biar bisa mikir dikit. paling tidak mampu memahami
istilah "rekayasa" demi berlangsungnya proyek golden-key
karena kesandung TANZIL.
juga jadi tahu dengan pasti apa yang dinamakan KKN.
sehingga jadi mahfum dengan adanya "tukar" bos proyek
dari golden-key menjadi Banten java... ach.. lupa aku...

trims, yes...

------------

"Kami Tak Terima Sesen pun''

Kredit Macet Keluarga Kalla Rp 1,3 Triliun
JAKARTA - Keluarga Kalla secara tegas membantah munculnya pemberitaan
kredit macet salah satu perusahaan di bawah bendera NV Kalla di BPPN
senilai Rp 1,3 triliun. Kredit itu sebenarnya hanya di atas kertas dan
mereka tidak pernah terima uang sepeser pun dari Bapindo.

Presdir PT Banten Java Persada (BJP) Achmad Kalla menegaskan hal itu
kepada wartawan, di Jakarta, kemarin. Namun dia mengakui BJP -saat itu
Preskom dijabat Yusuf Kalla- dalam proses kesepakatan pemberian kredit
ada rekayasa guna menuntaskan kasus Golden Key Group yang melibatkan
Eddy Tanzil.

"Kredit yang diberikan Bapindo hanya di atas kertas. Jadi Rp 1,3
triliun itu tidak berbentuk uang. Ceritanya, kami membeli aset yang
dikuasai Bapindo dengan kredit dari mereka, dan akan kami bayar mulai
2003. Gampangnya kami beli barang dengan mencicil,'' tutur Achmad
Kalla.

Dia juga menolak dikatakan telah melakukan praktek KKN dengan direksi
Bapindo, sehingga mendapatkan aset Golden Key tanpa ada lelang
terbuka. Sebab, tawaran untuk membeli aset yang nilai sebenarnya hanya
Rp 250 miliar itu dijawab BJP dengan pengajuan proposal. "Kami baru
dapat jawaban setelah setahun.''

Achmad Kalla mengungkapkan, tahun 1995 Bukaka Corporindo -pemilik 60
persen BJP- mengadakan due diligence dan mendapatkan nilai proyek
Golden Key ini sebesar kurang lebih Rp 250 miliar. Yaitu eks PT
Hamparan Rejeki, eks PT Dinamika Era Jaya, eks PT Graha Swakarsa
Prima, eks PT Pusaka Warna Polyethylene, dan PT Cilegon Multi Wahana
Service.

Setelah mendapatkan persetujuan dari Menperindag dan Menkeu, pihaknya
bernegosiasi dengan Bapindo sebagai leader bank sindikasi (Bapindo,
BDN, Exim, dan BBD).

Dalam negosiasi tersebut, katanya, ditemui kesulitan yaitu nilai
kredit dan bunga Eddy Tanzil adalah Rp 1,3 triliun dan Bapindo pada
saat itu ingin mengadakan rekapitalisasi dengan membersihkan kredit
yang macet.

Rekayasa

Achmad Kalla mengatakan, untuk mengatasi kesulitan itu, ditempuh jalan
penyelesaian yang disebutnya sebagai rekayasa. Yaitu sisa aset Golden
Key diambil alih sesuai dengan nilai kredit Eddy Tanzil, tetapi akan
dibayarkan selama 20 tahun tanpa bunga dengan grace period 5 tahun.

"Dengan bunga berbunga, net present value yang semula Rp 250 miliar
akan kita bayar 20 tahun lagi menjadi Rp 1,3 triliun. Setelah saya
hitung-hitung, bunganya sekitar 10 persen. Jadi, perhitungan dengan
metode future value,'' jelasnya. Dikatakannya, kontrak ditandatangani
dan proyek seluruhnya diserahkan pada bulan Juli 1997.

Menurut Kalla, untuk mengambil alih proyek tersebut, dibentuk PT
Banten Java Persada dengan rencana awal menyelesaikan proyek acrylic
fibre. Dia mengaku sampai saat ini telah merogoh sekitar Rp 30 miliar
untuk proyek yang kini mencapai tahapan 90 persen.

Proyek ini, katanya, total nanti memakan dana Rp 100 miliar. Pada saat
proyek tersebut diambil alih tahun 1997, penyelesaian proyek tersebut
baru mencapai 65 persen. Hanya sampai sekarang pabrik tetap belum
berproduksi, karena industri kimia sedang kesulitan sangat berat.

"Sebenarnya, jika kondisi membaik, empat bulan lagi proyek ini akan
selesai, tetapi sementara kami hentikan karena harga produk yang
sangat jatuh dari 1.900 dolar per ton menjadi 900 dolar. Kalau kami
paksakan diteruskan akan merugi,'' katanya.

Ketika didesak wartawan mengapa kredit ini masuk ke BPPN kalau tidak
macet, Kalla menyatakan proyek ini tidak macet dan pembayaran
cicilannya pun baru tahun 2003. Seharusnya tidak masuk ke BPPN, tetapi
konsultan Bapindo tetap memasukkan ke BPPN.

Menurut dia, kemungkinannya konsultan tersebut tidak mengetahui
mengenai latar belakang penyaluran kredit ini yang sebenarnya
bertujuan Bapindo bersih akibat kredit Eddy Tanzil. Yang jelas,
katanya, kalau ada perubahan terhadap kesepakatan yang sudah
ditandatangani dengan Bapindo dulu, BJP lebih baik memilih
mengembalikan aset dan dia akan mengklaim biaya yang telah dikeluarkan
selama ini.

Saat ini soal posisi dan status utangnya sedang dikaji konsultan
keuangan independen, agar dapat memberikan rekomendasi penyelesaian
utang yang dapat disetujui kedua belah pihak.(D1-23t)




-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke