Prek...
Selama 30 tahun lebih, sebenarnya, kita juga mengalami sebuah 'prek' yang
jauh lebih mengabaikan siapa saja, tak terkecuali, yang dilakukan oleh capo
lama. Bahkan, jangankan rakyat jelata, atau DPR yang mewakilinya, hingga ke
menteri atau panglima ABRI (saat itu) pun tak berkutik dengan 'prek'
tersebut, yang alih-alih mestinya panas karena di-prek-kan begitu,
masing-masing malah meniru nuansa 'prek' tersebut di lingkunagnnya
masing-masing. Jadilah berbagai prek pun muncul ke permukaan, tanpa kita
harus tahu mengapa. Prekk... !
Prek-nya Gus Dur, saya mengikuti detik demi detik acara tersebut,
selengkapnya kalimatnya berbunyi '... jika alasan untuk membubarkan Deppen
adalah alasan historis, maka saya bilang 'prek' historis...'. Mungkin tidak
tepat, tetapi kira-kira begitulah suasanannya.
Prek-nya Gus Dur bukan mem-prek-an anggota DPR, yang kemudian ditakutkan dan
ditafsirkan sebagai pengabaian keinginan rakyat, dalam hal ini DPR.
Saya saja bosan nonton teve saat itu, ketika sekitar 11 (?) fraksi, dengan
masing-masing mestinya satu orang menjadi 2 orang (karena pembicara pertama
menyilahkan pembicara temannya) untuk menyampaikan pendapat atau
pertanyaannya. Kecuali fraksi TNI/Polri yang langsung menanyakan 'setelah
bubar, lalu apa yang akan kita kerjakan selanjutnya', maka hampir semua
pembicara ngomongnya sama, yaitu 'menyesalkan pembubaran, bahkan menekan
pemerintah untuk dalam waktu paling lambat sekian hari untuk menghidupkan
departemen-departemen tadi'. Bayangkan, menunggu sampai 11 fraksi, mek... !
Prek...!
Maka kekuatiran saya, yang sejak jauh sebelum Gus Dur jadi presiden,
mengenai kemungkinan Gus Dur kehilangan kesabarannya, terjadilah. Komentar
pertama yang keluar adalah 'taman kanak-kanak', itu karena apa yang
diutarakan para legislator kita tak satupun ada kaitannya dengan tawaran
diskusi yang disampaikan oleh Gus Dur sebelumnya, mengenai alasan-alasan
beliau membubarkan departemen tadi. Seolah percuma saja susah-payah Gus Dur
menyampaikan argumentasi mengenai pembubaran departemen tadi, terlepas apa
itu benar atau salah.
Seharusnya, 'tawaran' Gus Dur untuk berdiskusi atas segenap alasan yang
dikemukakannya direspon dengan menguji alasan-alasan itu sehingga terbangun
sebuah arah pembicaraan yang kian mengerucut guna menemukan sebuah
kesimpulan.
Tetapi dasar rencana awalnya memang ingin mendebat asal debat, maka apa yang
disampaikan oleh Gus Dur sebelumnya tak satupun masuk dalam pendapat yang
mereka sampaikan.
Mungkin Gus Dur akan menjelma sebagai sosok yang sulit disentuh oleh kritik.
Tetapi satu hal sudah jelas, kritik sekeras apa pun ternyata bisa
dikemukakan, tanpa harus takut Gus Dur mengirim satuan intel untuk
mengecutkan hati pengritiknya. Dalam suasana yang terbangun seperti itu,
saya yakin, beliau yang ngaku 'belajaran' akan semakin arif.
Jika krisis moneter justru membuat rakyat Korea Selatan bersatupadu,
melupakan perbedaan pendapat yang jauh lebih keras dibanding negeri ini,
maka tidak di Indonesia. Pesta balum bisa dimulai, karena semua orang harus
mencuci piring dan bebenah lebih dahulu, oleh pesta tanpa aturan yang
ditinggalkan rejim sebelumnya. Dengan begitu, adakah kita membutakan hati
untuk tidak berperanserta dalam proses cuci piring dan benah-benah ini, agar
pesta segera bisa kita mulai? Masih mengeraskah hati kita dengan menyebut
mereka-mereka yang sedang berkiprah setengah mati di kabinet sebagai 'pihak
sana'?
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!