IT TAKES COURAGE. Ketika Kwik 'Quick' Kian Gie dipertemukan Marzuki 'Kiki' Darusman dalam sebuah seminar nasional, saya pikir akan ngomong tentang Texmaco, sehingga ketika diberitahu acara tayangan TVRI itu saya sempat tanya apakah Sinivasan dan Laksamana 'Laks' Sukardi juga akan ada diforum itu. Ternyata nggak, tetapi kemudian juga ternyata yang dipaparkan jauh lebih luas daripada sekedar Texmaco. Intinya kedua tokoh ini berbagi porsi, Kiki bertekad melaksanakan law enforcement dalam menegakkan law and order, sementara Quick bertekad melaksanakan transparansi. Transparansi dan law and order diyakini (termasuk oleh IMF) sebagai dua pilar untuk mengakhiri krisis, dan sekaligus bagian penting dalam menegakkan keadilan. Forum diskusi itu juga menghadirkan point penting tentang sikap Pemerintah yang bertekad menggeser paradigma, dari penyelenggara menjadi fasilitator kegiatan masyarakat. Pemerintah tidak lagi berpretensi mampu melakukan segalanya, tetapi masyarakatlah yang diharapkan melakukan itu, atas dukungan infrastruktur dan suprastruktur dari Pemerintah. Tetapi karena kurangnya PR dari Pemerintah tentang pergeseran paradigma ini, masyarakat belum paham maksudnya, sehingga terkesan saling menunggu pihak lain melakukan sesuatu. Misalnya masyarakat menuduh Pemerintah lamban dan nggak punya program yang jelas, sementara Pemerintah merasa telah melakukan fungsi fasilitatornya. Dalam kasus debitor kakap misalnya, apa yang dilakukan Pemerintah adalah membuka transparansi tentang status kredit itu dan segala implikasinya, sementara diharapkan action dari masyarakat. Tetapi anehnya, setelah dipublikasikan luas (berarti sudah transparan), masyarakat nggak melakukan apa apa. Transparansi dan publikasi telah dilakukan dengan membuka long form, mempublikasikan data kredit Prayogo 'Barito' Pangestu, Tommy 'Humpuss-Timor' Soeharto dan terakhir Marimutu 'Texmaco' Sinivasan. Dan masih akan berlanjut dengan kisah yang lebih bombastis tentang para bankir yang melahap habis simpanan masyarakat untuk membiayai jaringan bisnisnya, untuk kemudian ditutup dengan BLBI atau KLBI, plus kisah bagaimana BLBI itu sendiri ikut terlahap mereka juga dengan dilarikan keluar negeri. Kalau dulu Teten 'ICW' Marzuki membuka cerita Andi 'rekening' Ghalib, masyarakat geger, sekarang deretan tayangan debitor kakap dimedia massa itu disambut dingin dingin saja. Rupanya benar benar miskomunikasi. Pemerintah mengharapkan rakyat bergerak, sementara masyarakat mengharapkan Pemerintah yang menindak. Inilah bingung jilid 1. Masih dari kasus debitor kakap, ternyata 80% kredit macet telah dilahap oleh 0,86% debitor saja. Sejak lama IMF menghendaki penyelesaian tuntas, artinya law enforcement. Begitu diberi daftar debitur kakap plus jumlah kredit macetnya, lalu ditanya apakah benar mereka perlu dikirim kepenjara, IMF bilang jangan, mereka menguasai sektor bisnis sangat luas, sehingga kalau mereka dikirim kepenjara, ekonomi bisa lumpuh. Inilah bingung jilid 2. Itulah mengapa petani Delanggu harus membayar hutangnya yang hanya 100 juta dengan menjual sampai celana kolornya, sementara para bankir korup dan debitur kakap tenang-tenang saja. Dalam bisnis bank nampaknya ada aturan tak tertulis, bagi debitur kecil yang berindikasi macet, harus dipress total, dengan debt collector, kejaksaan dsb., sementara bagi debitur yang telah melewati jumlah besaran tertentu, malah harus diperlakukan baik baik, dihormati, bahkan kalau seandainya sakit, bank merasa perlu menyediakan dokter khusus, agar tetap hidup dan suatu ketika mau melunasi hutangnya. Kalau perlu dengan diberi suntikan kredit baru lagi. Dan debitur kakap tahu hal ini dengan baik, karena itu tidak menolak perlakuan istimewa yang diterima dari Bank dan penguasa. Belum lagi kalau memperhitungkan peranan orang lain yang ikut mengais rejeki disekitar debitur kakap, dengan membentuk opini publik, atau melakukan pembelaan sekuat tenaga. Dulu, di Perancis, hal semacam ini melahirkan sebuah revolusi. Kita disini berusaha menghindari kekerasan dengan 'hanya' melakukan reformasi. Jangan sampai diartikan bangsa Perancis mempunyai nyali lebih besar dari kita, termasuk nyali untuk sangat menderita sementara demi sebuah kebaikan hakiki. Ketika keadilan di-smoothing dengan kebijakan, maka perlu dipertanyakan apakah kebijakan itu memang benar benar bijak. Atau malah menghabisi esensi keadilan itu sendiri. It takes courage. Yap -----Original Message----- From: �� <[EMAIL PROTECTED]> To: Kuli Tinta <[EMAIL PROTECTED]> Date: 22 Desember 1999 6:37 Subject: [Kuli Tinta] keadilan? >Masih soal keadilan, > >Di daerah Delanggu, banyak pengusaha benang rami yang bangkrut. >Saya menjumpai diantara mereka yang menjual tanahnya untuk >membayar hutangnya di Bank. Hutangnya tidak lebih dari 100 juta. >Maklum masih banyak yang merupakan perusahaan perorangan. Saya >benar-benar trenyuh (sedih mendalam disertai rasa keprihatinan) >ketika menjumpai bagaimana mereka berusaha menjual apa saja untuk >bisa digunakan menutup hutang tersebut. Bahkan mesin gambar salah >satu anaknya juga dijual. Mereka MALU kalau sampai tidak bisa >membayar hutang tersebut. > >Di sisi yang lain, Robby Johan mengatakan bahwa puluhan trilyun >kredit macet akan di write off. Di sisi yang lain pula, >pemerintah telah mengumumkan kredi tmacet terbesar dari tiga >group yaitu Barito, Nusamba, dan Humpuss. Juga, baru saja >diumumkan bahwa PT SSS milik keluarga Tutut dengan kredit macet >diatas 400 milyar telah disita BPPN. > >Dari dua cerita diatas ada dua hal yang membedakan. Pertama, >pengusaha menanggung hutang dengan segala miliknya (bahkan >hingga celana kolornya) sedang pengusaha besar hanya sampai pada >aset di PT nya dimana dia tetap hidup kaya dengan hutang itu. >Kedua, pengusaha kecil mempunyai rasa malu dan empunyai rasa >tanggung jawab yang besar namun pengusaha besar tidak mempunyai >rasa malu dan tidak mempunyai rasa tanggung jawab. > >Pertanyaan yang muncul adalah ini jenis keadilan apa? -= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =- Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI dengan mengirim e-mail kosong ke alamat; Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
