25 Desember 1999, 01.00 NATAL: BERITA UNTUK ORANG BIASA Oleh: Martin Manurung --------------------------------- "Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka, 'Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan di kota Daud" (Luk 2:8-11) -------------------------------- SEBUAH lagu bersyair, "Waktu kecil kita merindukan Natal, hadiah yang indah dan menawan...". Syair itu menggambarkan bagaimana perspektif kita dalam memahami peristiwa penting yang terjadi 2000 tahun di kota kecil Betlehem. Apalagi, bila ditambah nyanyian-nyanyian Natal yang indah dan megah, kita seakan bisa membayangkan kelahiran bayi Yesus yang mungil, lengkap dengan muka bercahaya, bermahkota dan dikelilingi orang tuanya dengan baju indah dan senyum lebar. Namun, sayangnya yang terjadi bukan seperti imajinasi kita itu. Yang terjadi ketika itu, adalah kesusahan dua orang; laki-laki dan perempuan yang ditolak di rumah-rumah penginapan. Dan karena si perempuan akan melahirkan, maka mereka harus menerima sebuah kandang domba yang bau dan sumpek sebagai tempat untuk beristirahat dan melahirkan. Bisa dibayangkan, bagaimana peluh membasahi keringat kedua orang itu dan mukanya mungkin lesu karena terlalu capai. Dalam keadaan itulah, bayi Yesus, yang ulang tahunNya diperingati di malam Natal ini, lahir ke dunia. Sangat sederhana dan jauh dari suasana megah. Yesus Kristus datang dalam kesederhanaanNya. Lalu, kemanakah berita Natal itu disampaikan pertama kali? Berita itu tidak datang pada para penguasa, petinggi dan elit-elit di Betlehem. Sebab, mereka pasti tidak peduli pada proses kelahiran di kandang domba yang bau pesing dan sumpek itu. Yang mereka pedulikan adalah mempertahankan status sosial dan politiknya. Malaikat justru menyampaikan berita Natal itu kepada para gembala yang sedang menjaga dombanya pada waktu malam. Siapakah para gembala itu? Bila dikenakan pada konteks masa kini, gembala adalah mereka yang kita golongkan sebagai "ekonomi lemah", yang harus bersusah payah mencari sesuap nasi untuk hidupnya. Karena itulah, mereka harus menjaga dombanya itu pada waktu malam. Mereka menahan hawa dingin dan angin malam, karena mereka memang perlu uang untuk melanjutkan hidupnya esok pagi. Jadi, para gembala adalah personifikasi dari orang-orang biasa. Ya, Berita Natal tentang kelahiran Sang Juruselamat yang sederhana itu, datang kepada orang-orang biasa. Dan ketulusan orang-orang biasa itulah yang membuat mereka begitu bersuka cita kepada Allah, sebagaimana tertulis: "Maka kembalilah gembala-gembala itu memuji dan memuliakan Allah..." (ayat 20). Mereka tidak terpengaruh oleh nafsu keserakahan politik, sebagaimana Herodes yang akhirnya membunuh semua bayi dalam rangka melenyapkan bayi Yesus. Sekarang, mari kita renungkan. Kepada siapakah berita Natal itu kita sampaikan kini? Adakah kita mencari para pejabat dan mengundang mereka ke dalam perayaan Natal kita? Adakah kita lebih mengutamakan perhatian dan kartu-kartu Natal kita kepada mereka yang terpandang? Apakah kita telah menyiapkan hati dan perhatian untuk mereka yang "orang-orang biasa"? Natal adalah berita suka cita tentang solidaritas Allah yang aktif membebaskan manusia dari ketertindasan dan dosa. Karena itu, kita harus kembali kepada makna Natal yang hakiki; kebebasan dari ketertindasan dan dosa. Sampaikanlah berita suka cita itu kepada mereka yang "orang-orang biasa", yang tertindas, yang terbuang, tersisih, mengungsi dan hidup dalam ketakutan. Sebab, kepada merekalah berita Natal itu ditujukan, sebagaimana telah dilakukan oleh malaikat Tuhan 2000 tahun yang lampau di padang Efrata. Selamat Natal. Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin> ____________________________________________ -= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =- Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI dengan mengirim e-mail kosong ke alamat; Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
