Try Soetrisno meminta penghentian pembicaraan mengenai isu kudeta TNI dan rencana pembunuhan GD dan MG. TNI tidak mungkin mengingkari jati dirinya sehingga mau melenyapkan nyawa seseorang. Demikian ucapan sang jendral yang diliput berbagai media. Try adalah salah satu jendral yang menikmati kemulyaan, kekuasaan, dan kekayaan hasil pengabdiannya di jaman pemerintahan Orba. Masih banyak jendral seperti beliau. Jelas sekali ucapan Try tersebut sangat absurd. Bagaimana mungkin peristiwa yang belum genap 10 tahun dimana banyak sekali orang meninggal karena dibunuh TNI (khususnya AD) dianggap sebagai tidak ada. Para aktivis yang belum jelas keberadaannya itu apa menyublim? Kasus Andy Arif, Haryanto Taslam, Pius, dll apa tidak pernah terjadi? Video klip dan berita mengenai peristiwa 27 Juli telah beredar luas di masyarakat dan dengan pemikiran sederhana saja bisa disimpulkan bahwa militer (khususnya petinggi-petinggi TNI AD) terlibat secara langsung. Soerjadi mah hanya begundal untuk pembenaran tindakan. Apakah TNI menjalankan jati dirinya? C'mon jendral....... Kasus Marsinah yang akan dibuka kembali jelas melibatkan secara langsung aparat keamanan di Sidohardjo. Namun apakah aparat keamanan itu bukan TNI dan bertindak tanpa doktrin dan perintah dari atasannya? Jaman Soedomo menjadi menteri tenaga kerja , ini juga TNI (AL), pernah mengeluarkan peraturan bahwa pengusaha boleh meminta bantuan aparat setempat untuk menangani unjuk rasa buruh. Ini merupakan pembenaran buat TNI untuk menangani buruh. Pembunuh Udin sampai saat ini juga belum terungkap, apakah mungkin TNI (khususnya AD) tidak terlibat? Mengapa itu semua bisa terjadi jendral? Karena doktrin pemerintahan Soeharto dimana stabilitas politik diatas segalanya agar para lokomotif pembangunan ekonomi bisa bekerja. Diakui saja jendral, kalau TNI mengawal konglomerat atau perusahaannya apakah TNI memerankan jati dirinya? Ayahku yang pensiunan TNI (AD) sangat malu jendral, karena beliau merasa bahwa keperwiraaan prajuirit tengah digadaikan. Nah, karena Soeharto adalah jendral TNI maka ketika ia menjadi kepala pemerintahan, ia memliki kekuasaan pula untuk menggerakkan TNI (khsususnya AD) untuk mendukung doktrin pemerintahan Soeharto. Maka, jabatan-jabatan strategis hingga pemerintahan di paling bawah dijabat oleh TNI (khususnya AD) sehingga koordinasi dan integrasi untuk mewujudkan unity of command menjadi lebih mudah. Inilah kesalahannya jendral. Negara kita adalah negara kepulauan dimana 2/3 wilayahnya adalah laut. Mengapa perbandingan antara perkembangan AD, AL, AU tidak mencerminkan jati diri TNI untuk menjaga keamanan wilayah dan negara Indonesia dari kekuatan luar? Berapa kerugian negara karena kekayaan laut kita dicuri berhubung tidak terjaga? Bukankah keamanan didalam negeri lebih penting termasuk untuk melibas (ini juga istilah populer jendral TNI AD) mereka yang tidak setuju atau kritis terhadap pemerintahan Soeharto. Nah, Gus Dur, Mega, Amin, Marsinah, Udin, Wiji, dan para aktivis itu mewakili masyarakat yang tidak setuju dengan "cara-cara" Soeharto memerintah negeri ini, dan oleh karena itu dianggap sebagai "mengganggu " pembangunan ekonomi" dan oleh karena itu harus dilibas. Mengapa ingin membantah jendral? Apakah jendral merasa gerah? Presiden sekarang sedang menggunakan katalisator untuk mengidentifikasi unsur-unsur yang belum diketahui. Jangan sampai nila setitik rusak susu sebelanga. Tanggapan jendral telah menjadi indikator bahwa katalisator itu bekerja. �� - Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com -- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
