--- Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> =================================================
> AH:
> 1. Tentunya Bung Aswat yang modern tidak alergi terhadap hak
> berkelompok
> yang merupakan hak asasi manusia . Tapi menggunakan istilah
> "kelompokisme"
> bisa-bisa membangkitkan sikap kuno yang maunya cuma yang seragam
> saja.
> Jadi kenapa kita mesti giris pada hal2 "baru" yang demokratis
> seperti
> "kelompokisme" , kebebasan berbicara , hak2 individu , unjukrasa,
> dsb. ?
> Yang penting, ada bingkai hukum yang jelas yang mesti dipatuhi.
> Bisa saja
> lima orang yang hobinya memelihara "undur-undur" membuat partai.
> Tapi bisa
> menaruh wakil di DPR.... soal yang lain !
>
> 2. Gaya berbicara seperti :" teman-teman sudah sepakat.... " , "
> kita semua
> sudah merasa... " adalah gaya pembentukan opini. Gaya-gaya seperti
> itu yang
> amat menyebalkan sering kita temui dalam berbagai tajuk di koran.
> Koran
> Kompas yang kebetulan saya langgani sering sekali menggunakan gaya
> seperti
> itu. Dalam jaman "pasar bebas" , merasa sebal boleh-boleh saja.
> Tapi
> ngamuk..... soal yang lain !
>
Kutambahi Bung AH, ada satu ungkapan (ancaman ?) lagi yang sering
dipakai : " jaga perasaan umat Islam.....", enggak pernah jelas itu,
perasaan kok dipakai sebagai ukuran. Ungkapan ini makin sering
dipakai akhir-akhir ini. Apalagi pas Ramadhan.
BTW terima kasih atas Hegelnya.
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Talk to your friends online with Yahoo! Messenger.
http://im.yahoo.com
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!