Perdebatan yang saya lakukan tentang nama yang dipakai dalam bermilis, 
Pabu Sacilad dalam milis ini, sebenarnya bukan baru sekali ini saya
lakukan. 

Setidaknya saya pernah menegur dua orang di milis lain yang menggunakan
nama yang, menurut anggapan saya, bukan haknya. Keduanya memakai nama AS
Hikam. AS Hikam palsu yang pertama saya tegur berasal dari IPTN. Yang
kedua, memakai domain gratisan excite.com., dengan mengaku sebagai AS
Hikam pegawai LIPI. Keduanya saya tegur karena saya anggap tidak jujur,
dan melecehkan hak pribadi Hikam untuk memakai nama itu. (Saya bukan
pengagum Hikam, walaupun dia atasan saya. Namun, dalam hal ini saya tidak
rela namanya, atau nama siapa saja yang menjadi hak legitimatenya, dipakai
sembarangan).

Demikian juga yang menyangkut Pabu Sacilad.
Anda saja dia tidak memakai nama _sebagus_ itu, tentu saya nggak ambil
pusing. Dan _kepusingan_ saya toh, pada awalnya, cuma berbentuk memberi
info tentang arti kata-kata itu. Itu pun disalahmengertikan, di antaranya
oleh McCool. Dipikirnya saya sedang mengumpati Pabu karena saya nggak
setuju dengan isi postingnya. Padahal bukan itu.

Memang benar, di kalangan orang Yogya terdapat gaya bicara pelesetan.
Seperti yang kemudian dikatakan oleh Sdr. Aswat. Dalam gaya bicara ini,
suku kata sering dipelesetkan menjadi kata lain yang artinya jauh berbeda.
Biasanya, dalam gaya bicara pelesetan seperti ini, orang akan tahu arti
sebenarnya dari kata yang dipelesetkan. Dan kata-kata yang dipakai pun
masih termasuk sopan. Taruhlah kata Petruk, yang sering dipelesetkan
menjadi Petruk Gandengan.

Lain lagi dengan bahasa prokem gaya Yogya. Yang sama sekali bukan bahasa
pelesetan. Bahasa ini hanya akan dimengerti oleh mereka yang pernah
belajar huruf Jawa kuno. Dan kebanyakan orang Yogya masa kini akan
mengerti bahasa ini. Maka, saya sangat kaget ketika ada yang memakai nama
Pabu Sacilad. Barangkali, orang ini berangkat dari keisengan ketika 
mencari nama untuk memperoleh account di yahoo. Akan tetapi, masalahnya
menjadi lain ketika disebutkan bahwa nama itu (katanya) adalah nama resmi
kelompok diskusinya. Saya amat meragukan hal ini. Apalagi jika nama itu
dipakai di Yogya. Seburuk-buruknya orang, dia akan berusaha memoles supaya
tidak terlalu kelihatan buruk. Dan memakai nama Pabu Sacilad di Yogya
bukan lah suatu tindakan wajar. Kata-kata itu hanya ada dalam pergaulan 
di antara anak-anak sekolah yang belum dikaruniai kemampuan menalar dengan
baik.

Dan ketika Aswat mencoba _menjerumuskan_ mereka yang tidak tahu bahasa
prokem gaya Yogya, dengan mengatakan bahwa Ngotwe itu sama dengan _kamu_, 
saya merasa amat terusik.  Kalau saja orang ini memang tidak ngerti bahasa
itu, saya tidak ambil pusing. Namun, sangat jelas bahwa Aswat juga tahu
bahasa itu. Namun, kenapa dia bicara tidak jujur?

Kalau lah cuma mau melucu, dengan memakai bahasa pelesetan, rasanya
keterlaluan juga. Entah kalau ukuran keterlaluan saya lain dengan
ukurannya bung Aswat.

Satu hal lagi yang saya catat.
Banyak orang yang menyalahkan saya karena mempersoalkan nama. Katanya,
jawab saja isi postingnya. Bisa saja kritikan ini benar. Masalahnya, di
manakah para _pahlawan_ ini ketika ada yang mempersoalkan dari mana saya
mengirim posting? Kenapa saya harus menjawab sendirian? Hal ini
menunjukkan, para _pahlawan_ itu belum memakai standar yang sama. Hipokrit
adalah istilah yang tepat untuk para _pahlawan_ ini.


- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke