Buku Putih telah menjadi sebuah terminologi untuk menandai sebuah
buku yang memaparkan fakta sebuah kejadian atau peristiwa yang
tentu saja diharapkan obyektif. Pemerintah Orba telah menerbitkan
buku putih peristiwa G30S yang bebeapa kali direvisi dan banyak
sekali mengundang kritik.

Kini, Prabowo akan menerbitkan buku putih peristiwa Mei, sedang
Feisal Tanjung dan Sarwan Hamid masing-masing akan menerbitkan
buku putih Kudatuli (Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli). Saya melihat
ada beberapa terbitan media  yang apriori terhadap rencana itu.
Salah satu yang melandasi sikap apriori itu adalah pengalaman Buku
Putih Pemerintah yang dinilai ingin membentuk opini atau memberi
pembenaran atas tindakan Soeharto pada saat itu.

Sikap apriori semacam itu sebenarnya tidak perlu terjadi bila kita
berkehendak untuk mengetahui sebuah kebenaran dengan cara yang
benar yaitu membuka semua informasi. Disini informasi
didefinisikan sebagai signal yang mengubah pengetahuan seseorang.
Kita bisa mengatakan bahwa Buku Putih G30S itu tidak obyektif
karena kita juga memperoleh  informasi dari sumber-sumber lain
yang membimbing nalar kita untuk menilai kadar obyektifitas Buku
Putih itu. Di sisi yang lain, bukankah kita juga bisa menilai
bagaimana kejujuran pemerintah sebenarnya.

Oleh karena itu, rencana penerbitan buku putih Prabowo, Feisal,
dan Sanwar justru harus didukung. Buku putih itu bagaimanapun juga
akan menjadi puzzle informasi yang bisa membantu kita untuk
membangun gambaran peristiwa Mei dan Kudatuli secara utuh.

��
(pemerhati informasi)





- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke