Sang Kolonel. Seorang teman cerita. Dari raut mukanya, dan cara dia bicara, aku yakin betul, bagaimana ia harus menekan hawa amarah yang menggelegak di hatinya. saya ajak Anda sekalian untuk merenung, dan ikut memahami, mengapa temanku tadi begitu emosional seperti itu. Alkisah : Kemarin aku diajak teman, yang minta tolong diantar ke seorang nasabahnya. Teman itu sendiri adalah karyawan sebuah bank. Nasabah itu adalah seorang Kolonel, yang baru saja menyudahi jabatannya sebagai seorang Danrem. Temanku tadi, malam itu, akan mengantarkan dokumen-dokumen deposito, yang nilainya 1.5 miliar. Untuk diketahui, itu baru satu bank. Dan itu untuk rekening bliouw sendiri, belum istri dan anak-anaknya. Bisa dihitung sendiri. Selama bertamu di rumah nasabah, sambil meminta paraf macam-macam, sempat pak kolonel nilpun anaknya, yang mahasiswa, dan yang sedang merintis bisnis jual-beli-mobil. Enteng saja kolonel ini menulis cek senilai 120-juta, untuk dititip di teman saya tadi, untuk disetor ke nomor rekening anaknya di bank yang lain. Beberapa waktu lamanya lagi aku diajak oleh teman saya tadi, berkunjung ke nasabah itu tadi, karena baru pulang hajian. Toh begitu ia juga membawa sejumlah dokumen dalam amplop, urusan deposito lagi. Cuma, kali ini, pak kolonel berniat mencairkan depositonya yang dulu, 1.5 miliar itu. Karena selisih bunga yang 2 persen setahun, maka ia berniat memindahkan deposito ke bank lain tadi. Teman saya tadi, yang merasa telah memberi layanan terbaik terhadap pak kolonel tadi, jelas ya rada tak suka dengan kebijakan pak kolonel tersebut. Toh begitu pak kolonel paham. Dia bilang, nanti saya ambil dari rekening saya di bank lain, yang merupakan kumpulan bunga setahun terakhir yang tidak saya ambil-ambil, yang nilainya 90-juta. Kumpulan bunga ? Sebesar itu ? Pernah pula pak kolonel ini minta mencairkan dep-nya sebanyak 400-juta. Dia minta untuk dimasukkan ke rekening anak-anaknya, masing-masing '100 saja, mbak'. Itu lho, anak-anak mau nraktir teman-temannya, karena mau pindah. Juga ia pernah minta untuk 'tolong diambil 25 lalu masukkan ke rekening ini' yang tak lain adalah rekening pejabat penggantinya. Itu baru kolonel. Lha yang lebih atas dari itu ? Begitu, teman-teman sekalian. Sepenggal keluh kesah teman saya yang diajak temannya untuk ketemu seorang kolonel. Yang saya pahami dari cerita itu adalah, bahwa berapa gaji kolonel itu sebenarnya ? Salam ===== Pakai HIKAM, siapa takut....? Embat terus PDI-P, GD dan MW .... Semua posting mesti dibikin belok ke PDI-P, GD dan MW sebagai biang keroknya .... Logis ndak logis, jalan terus ..... Wong aku 'intelektual', kok ....... Begaya...Begaya... Seolah-olah si 'dia' __________________________________________________ Do You Yahoo!? Talk to your friends online with Yahoo! Messenger. http://im.yahoo.com - Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com -- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
