KOMPAS hari Senin, dalam rubrik ekonomi, memuat tulisan Sri Mulyani.
Judulnya Potret Kusam . Isinya memang mengenai kusamnya kerja Gus Dur dalam
ekonomi. Penundaan kucuran IMF, tekanan pada rupiah yang sampai menyentuh
8000, tekanan politik berat dan amat menyudutkan posisi tawar di depan
publik, dsb. Dalam situasi sulit tsb. beberapa bentuk kebijaksanaan yang
sudah disetujui DPR seperti kenaikan BBM jadi berantakan gagal total, karena
tidak feasible secara politik.

Mulyani menegaskan, bahwa kerja yang harus dilakukan pemerintah memang sulit
dan berat. Dia memerlukan kerja keras di bidang teknis dan mobilisasi dan
koordinasi kepemimpinan yang intensif. Bukan sekedar hura-hura retorika
politik. Tapi sebaliknya, pemerintah yang dikepalai Gus Dur dalam dua bulan
terakhir justru sibuk menyalurkan hoby debat publik. Akibatnya ketika IMF
menagih kerja yang sudah dijanjikan, pemerintah ( Gus Dur) jadi
tergopoh-gopoh. Marah sana marah sini, bahkan cenderung kesal terhadap IMF.
Mudah-mudahan ngelencer pekan-wisata lintas-atlantik yang dilakukannya
sekarang ini dapat mengembalikan kejernihan hatinya. Amin.

Mulyani tidak langsung berpendapat bahwa masalah Tap MPR soal komunis adalah
salah satu masalah pengumbaran enerji masyarakat yang amat mubazir. Apalagi
sampai menuduh itu seni menghindarkan diri dari fokus publik karena
kegagalan kerja kepemimpinan Gus Dur itu. Tapi hal-hal seperti itulah yang
menjadi pertanyaan dan kegeraman beberapa kalangan masyarakat .  Provokasi
Gus Dur soal komunis ditanggapi Jihad oleh golongan Islam. Tanggapan seperti
itu tidak sulit diduga dan amat mudah diperhitungkan dari awal. Cara
memancing seperti itu sudah klasik dilakukan oleh Ali Murtopo, dan
kawan-kawannya para  tentara ABRI seperti Benny, Try, dsb.. Kelompok
Muslimin jadi tampak seperti Kuman Penyakit. Antibiotik keras-pun segera
diberikan : PRIOK I. Dibantai seperti kecowak. Bukan tidak mungkin
kelompok-kelompok muslimin itu saat ini pun dipancing naik kapal, kemudian
ditangkap, kemudian dibantai dengan sah menurut hukum. Terulanglah sejarah
lama,  mengelabuhi , mengalihkan ILLNESS kepada DESEASE. Mudah-mudahan
mereka bisa belajar waspada.

Kemudian timbullah perasaan lega. Hilanglah ancaman terbesar dalam kehidupan
berbangsa kita. JIHAD fi SABILILLAH.

Mudah-mudahan kita semua tidak kehilangan perasaan kritis dan rasionil
terhadap pimpinan Nasional kita. Sekarang dan di masa datang. Kehilangan
seperti itu  hampir-hampir saja menghapus nama Indonesia dari khazanah
bangsa-bangsa di dunia.

Wassalam
Abdullah Hasan.



- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
-> Kompetisi puluhan juta rupiah - http://satunet.com/kompetisi/?ref=61 <-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!











Kirim email ke