Bisnis besar.
--------------------------------------
Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka 
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom 
E-mail: [EMAIL PROTECTED] 
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp 
Xpos, No 12/III/10-16 April 2000 
- ------------------------------------ 

GUS DUR DIBIDIK LASKAR JIHAD 

(PERISTIWA): Soeharto diperiksa, Prabowo datang, lalu ratusan anggota

laskar jihad "menyerbu" Istana. Ada info, gerakan ini memperoleh 
suntikan dana Rp4 miliar dari Cendana. 

Thamrin Amal Tamagola, sosiolog dari Universitas Indonesia , 
terheran-heran. "Coba perhatikan, kalau Soeharto atau jendral-jendral

Orde Baru diperiksa, selalu meledak isu Ambon," ujar Thamrin, pria 
asli Galea, desa Muslim di Pulau Halmahera. Hal macam ini menurut 
Thamrin terus berulang. Terakhir, ya tablig akbar dan aksi ke Istana 
Negara yang digelar laskar jihad bentukan Ahlus Sunnah Wal Jamaah, 
Kamis, 6 April pekan lalu. Aksi itu, ya mungkin saja kebetulan, 
terjadi setelah Soeharto diperiksa oleh tim jaksa Kejaksaan Agung, 
sebagai tersangka kasus korupsi. Kebetulan yang lain, Letjen TNI 
(Purn) Prabowo tengah berada di Indonesia. 

Aksi laskar jihad Ahlus Sunnah Wal Jamaah ini amat mengejutkan,
karena 
hampir setiap anggota laskar yang datang ke Istora Senayan dan ke 
Istana Merdeka membawa senjata tajam berupa pedang, golok dan
samurai. 
Aparat keamanan pun tak berdaya menyaksikan aksi yang sebenarnya 
melanggar hukum itu. Mereka juga menempel poster-poster dan 
selebaran-selebaran yang isinya mengajak banyak orang melakukan 
kekerasan. Kapolda MetroJaya, Mayjen Pol Nurfaizi yang ikut 
menyaksikan tablig di Istora pun tak berbuat apa-apa. "Dilarang
salah, 
tidak dilarang juga salah." 

Lebih mengejutkan lagi, pasukan yang berpakaian jubah putih, 
bersorban, sebagian mengenakan kopel (sabuk besar yang biasa
dikenakan 
tentara) dan gesper tempur yang juga biasa digunakan tentara, mencoba

mengepung Istana. Di depan Istana, di wilayah ring satu, mereka juga 
menenteng senjata tajam berhadapan dengan sekitar dua kompi pasukan 
Brimob bersenjata SS-1 dan sekitar satu peleton Pasukan Pengamanan 
Presiden bersenjata M-16. Kalau saja laskar jihad merangsek masuk ke 
halaman Istana, dengan tetap menenteng pedang, mungkin korban akan 
berjatuhan. Namun, rupanya mereka menyadari hal itu dan hanya
mengirim 
empat wakil menemui presiden. Empat wakil itu termasuk Ketua Ahlus 
Sunnah Wal Jamaah, Al Ustadz Ja'far Umar Thalib dan Brigjen TNI
(Purn) 
Rustam Kastor, (bekas Danrem di Maluku. Alhasil, karena empat wakil 
laskar jihad ini bertindak tak sopan, mereka diusir Presiden. 
Pertemuan hanya berlangsung lima menit. Di luar para wakil laskar ini

marah dan mengancam Gus Dur. "Negara dalam keadaan bahaya," ancam 
mereka. 

Ahlus Sunnah Wal Jamaah, lengkapnya bernama Forum Komunikasi Ahlus 
Sunnah Wal Jamaah, adalah organisasi yang berpusat di Yogyakarta. 
Forum inilah yang beberapa bulan lalu menyelenggarakan tablig akbar 
untuk seruan jihad ke Maluku, yang menyebabkan kerusuhan di 
Yogyakarta. Itu membuat Sri Sultan Hamengkubuwono X marah dan 
mengancam akan memperkarakan Al Ustadz Ja'far Umar Tholib ke 
pengadilan. Kelompok Ahlus Sunnah Wal Jamaah, di Cirebon juga membuat

masalah, ketika mereka menganiaya Wakil Ketua MUI setempat, setelah 
gagal menculiknya. Umat ulama-ulama MUI Cirebon tak bisa menerima 
perlakuan itu dan Sekretariat Forum Komunikasi Ahlus Sunnah Wal 
Jamaah, Cirebon hendak diserbu. MUI Cirebon ketika itu mengingatkan 
Ahlus Sunnah Wal Jamaah agar tidak menggalang jihad ke Maluku kepada 
umat Islam Cirebon, karena cara-cara seperti itu tidak akan 
menyelesaikan masalah. 

Aksi yang eksesif ini, tampaknya membuat Barisan Serba Guna (Banser),

milisi NU pendukung setia Gus Dur dan perguruan silat Pager Nusa, 
perguruan silat NU, memasang kuda-kuda. Show of force laskar jihad 
tampaknya memang tidak bisa dianggap enteng. 

****************************** 
NAMA ORGAN: LASKAR JIHAD Forum Komunikasi Ahlussunnah Wal Jamaah 
(FKASW) 
POS KOMANDO: Pondok Pesantren Ihya'us Sunnah Tadribud Du'at, Jl 
Kaliurang Km 15 Desa Degolan, Ngemplak, Kabupaten Sleman, Yogyakarta 
PANGLIMA LASKAR JIHAD PUSAT: Ustadz Ja'far Umar Thalib, 38 tahun 
KETUA UMUM DEWAN PIMPINAN PUSAT: Ayip Syafrudin, 33 tahun 
PROGRAM UTAMA: Menggalang massa jihad 
KLAIM CABANG: Di 18 propinsi (Jateng, Jabar, Jatim, Yogyakarta, 
Jakarta, Sumatera, Sulawesi (kecuali Sulawesi Utara), Kalimantan, 
Bali. 
KLAIM JUMLAH ANGGOTA: 10.000 orang 
LATAR BELAKANG ANGGOTA: Mahasiswa dan sejumlah anggota TNI aktif 
PERLENGKAPAN ORGANISASI FKASW: Divisi pasukan khas, intelijen, 
logistik, penerangan, kesehatan, dan transportas, divisi peralatan 
(penyediaan senjata). 
PELATIH PERANG: Anggota TNI aktif dan Purnawirawan 
TEMPAT LATIHAN TEMPUR: Kaliadem, Kaliurang, Yogyakarta, Wonogiri 
JENIS SENJATA: Pedang dan senjata api 
DANA: Sokongan luar negeri, iuran anggota, menggalang dana dari di 
masyarakat 
KOMANDAN CABANG SURABAYA: Ustad Hanan Hoesin Bahanan (30 th) 
MARKAS SURABAYA: Yayasan Nasruh Sunnah, di Perumahan Babatan Indah, 
Wiyung 
KOMANDAN CABANG CIREBON: Tarsimin 
MARKAS CIREBON: Jl. Suratno, Cirebon 
KOMANDAN CABANG SOLO: Muhammad Algifari 
KOMANDAN CABANG MADIUN: Khomsul Huda 
MARKAS: Jl. Ciliwung, Madiun 

(Sumber: Pengakuan Ja'far Umar Thalib dan sumber lain) 
****************************** 

Namun, di balik aksi laskar jihad itu, ada informasi menarik tentang 
keterlibatan sejumlah nama yang tidak asing. Info yang berasal dari 
sumber yang dapat dipercaya mengatakan Hariman Siregar, mantan
aktifis 
mahasiswa 66 yang belakangan menggalang kekuatan dengan para mantan 
aktifis Negara Islam Indonesia, terlibat dalam pengorganisasian aksi 
ini. Begitu juga Ketua Dewan Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia 
(PPMI) Eggy Sudjana, yang dalam kerusuhan anti Kristen di Mataram 
ditengarai juga terlibat. Bahkan, info itu mengatakan, aksi itu 
mendapat kucuran dana sebenar Rp4 milyar. "Aksi ini, dan aksi-aksi 
serupa yang akan terus berlangsung merupakan pembalasan aksi
mahasiswa 
ke Cendana dan pemeriksaan atas Soeharto oleh Kejaksaan Agung," ujar 
sumber tadi. 

Aksi itu sendiri sebenarnya gagal. Targetnya sekitar 100 ribu pria 
hadir di Istora dan di depan Istana. Namun, para pria yang datang 
hanya sekitar dua hingga empat ribu. Kebanyakan datang dari luar kota

Jakarta seperti Bekasi, Bogor, dan Tangerang. Di Bogor, massa 
dikumpulkan oleh Yayasan Jauhid Cendikia, yayasan yang didirikan dan 
dikelola oleh Eggy Sudjana. 

Lalu, bagaimana hubungan antara Al Ustadz Ja'far Umar Tholib, seorang

ustadz asal Malang, Jatim dengan Hariman dan Eggy? Hariman kenal 
Ustadz Ja'far Umar berkat jasa mantan Pangkostrad, Letjen TNI Djadja 
Suparman. Djaja yang ketika itu masih jadi Pangdam Jaya membawa
Ustadz 
Ja'far Umar ke klinik kesehatan Hariman (orang dekat Habibie ini 
adalah seorang dokter) di daerah Cikini, Jakarta Pusat. Seperti 
diketahui, Djadja yang dicopot Gus Dur dari jabatan prestisius
sebagai 
Pangkostrad yang jabatannya selama hanya tiga bulan, adalah jendral 
yang amat dekat dengan kelompok-kelompok Islam garis keras, termasuk 
FPI dan Forum Komunikasi Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Belakangan, ketika 
tahu akan dicopot, Djadja membantah dekat dengan kelompok garis keras

itu, namun bantahan yang lebih mirip penyesalan itu terlambat 
datangnya. Gus Dur tetap mengirim Djaja ke sekolah tentara, sebagai 
Dankodiklat TNI. Djadja yang dekat Jendral Wiranto, mantan Panglima 
TNI yang belakangan amat sakit hati dengan keputusan Gus Dur 
memecatnya dari jabatan Menko Polkam. 

Laskar Ahlus Sunnah Wal Jamaah kabarnya akan tetap mengirim laskarnya

ke Maluku. Namun, itu membuat Thamrin Amal Tamagola, lagi-lagi merasa

heran. Karena, menurut Thamrin, di Ambon yang selama ini kelompok 
Kristen selalu di atas angin, situasinya sudah lebih baik. Pertikaian

berdarah tidak terjadi lagi, perdamaian terus diupayakan, gereja dan 
masjid kembali dibangun dan keidupan berangsur pulih kembali. Nah, 
kini justru sebaliknya di wilayah di mana kelompok Muslim unggul, 
yakni di Pulau Halmahera, yang masih bergolak. Di Halmahera, berbeda 
dengan di Ambon yang sudah berangsur damai, warga Kristen di sana
yang 
kepepet dan banyak jatuh korban karena di pulau itu warga Kristen
jadi 
minoritas, hingga Sultan Tidore turun tangan dan melindungi warga 
Kristen di Halmahera Utara. "Di Halmahera warga Muslim tidak perlu 
dibantu dengan laskar jihad dari luar karena warga Muslim di sana di 
atas angin," ujar Thamrin. 

Apakah para penggagas aksi Kamis lalu tak mengetahui keadaan di
Maluku 
sekarang ini? Tentu saja tahu. Kalau mereka tahu, itu artinya isu 
jihad ke Maluku hanya merupakan alat politik untuk menekan Gus Dur, 
tokoh NU yang paling banyak menyerang kelompok-kelompok radikal. Ada 
yang bilang, selama empat bulan ini, Gus Dur akan dikerjai, hingga 
Presiden keempat itu mudah diserang pada pertanggungjawaban tahunan
di 
MPR Agustus mendatang. Para lawan politik Gus Dur memang bisa 
menggunakan cara apa saja untuk menekannya. Termasuk dengan isu 
komunisme yang memang peluang itu dibuka sendiri oleh Gus Dur. (*) 

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Send online invitations with Yahoo! Invites.
http://invites.yahoo.com

- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!











Kirim email ke