Di harian Rakyat Merdeka yang saya pinjam baca (buat apa beli koran
beginian?), mayjen (apa letjen) Ryamizard Ryacudu, mantunya Try Sutrisno,
ditulis sama wartawan mengatakan: kalau ada yang berani menggoyang Gus
Dur, kita potong saja lehernya.
Masya Allah!
Mesum benar omongan orang ini (jika dilihat dari sisi demokrasi).
Di negara demokrasi (katanya kita lagi ke sana), syah-syah saja orang yang
mau menggoyang presiden. Kalau memang presidennya ngaco. Bayangkan, kalau
ucapan Ryamizard itu diterapkan pada digantinya presiden Sukarno karena
dianggap sudah menyalahi GBHN.
Dengan begitu, jika ucapan Ryamizard itu dilaksanakan, seluruh orang yang
dulu menyetujui penggantian Sukarno juga mesti dipotong lehernya. Nggak
tahu saya, apa yang begini ini benar?
Saya sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Arbi Sanit: tentara sudah
mulai berusaha jadi kaki tangan penguasa. Apa urusannya tentara dengan
digantinya Gus Dur kalau memang itu dilakukan dengan cara demokratis?
Memangnya presiden nggak boleh diganti di tengah masa jabatannya? Lha kok
enak.
Saya setuju ucapan Arbi Sanit, tentara nggak punya hak dan kewajiban
ngomong politik. Tugasnya cuma perang. Jika ini tidak dilaksanakan,
bisa-bisa tentara kembali ke situasi semula: cuma jadi kaki tangan
penguasa. Padahal, katanya, tentara mau mereformasi diri. Lha kok begini
kejadiannya?
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!