He... he..., nggak usah tersunging gitu mBah....
Masalahnya memang bukan sekedar pertanian sih namun
juga menyangkut politik internasional, ekonomi, dan
perdagangan.
Coba deh lihat apa ada negara pemberi bantuan seperti
bea siswa misal tidak mengkaitkannya dengan keuntungan
yang mereka peroleh dalam hubungan bilateralnya? Coba
aja dilihat arus bantuan dari suatu negara ke Indonesa
dan bandingkan dengan expor atau keuntungan tidak
langsung mereka ke Indonesia. He... he... mBah Soel,
mengapa bantuan Jepang ke Indonesia meningkat luar
biasa bahkan JICA juga memiliki branch office di
daerah-daerah?
Atau mengapa bantuan dari sebuah negara berwujud barang
olahan atau barang jadi dan bukan uang yang bisa
meningkatkan nilai tambah produksi di negara yang
dibantu? Saya melihat sebuah mesin yang sederhana untuk
pembuatan keramik yang saya yakin putra-putri Indonesia
dengan IPTEK nya mampu untuk memproduksinya namun mesin
itu didatangkan dari Italia. Ketika saya bertanya
kepada mereka maka jawabannya adalah itu merupakan
paket bantuan. Pindad bisa memproduksi mesin-mesin
untuk membuat senjata, mengapa BLPT-BLPT itu harus
memakai AMCO dari Austria atau BLK-BLK itu harus
memakai mesin-mesin dari Korea?
Absurd kan, negara penghasil beras dibantu dengan
beras! Tidak usah menjadi Sarjana Ekonomi untuk tahu
hal itu. Mhs Ekonomi Studi Pembangunan seperti Bung WAM
pun dulu akan tahu setelah belajar teori ekonomi Mikro
bahwa impor barang dengan harga yang lebih murah akan
menurunkan supply domestik. Ketika Rizal Ramli
berbicara bahwa ia akan memecat stafnya bila dalam satu
bulan tidak bisa menjaga harga gabah saya melihat ia
sudah memiliki strategi untuk itu. Padahal ia dari ITB
dan kemudian lompat pagar untuk Ph.D nya (yang pasti
bukan pertanian).
Maaf, tidak bermaksud untuk membela mBah Soel atau
sarjana pertanian yang lain (agar sarjana ekonomi tidak
kena getah krisis ekonomi atau sarjana teknik kena
getah karena IPTN atau sarjana pendidikan kena krisis
pendidikan, atau sarjana politik kena krisis politik),
namun persoalannya tampaknya memang bukan hanya sebatas
yang ada atau kelihatan di
permukaan.
Mengapa negara-negara pembantu itu mengirim barang
olahan atau barang jadi negaranya? He... he... mereka
kan juga harus memikirkan negaranya. There is no such
things like free lunch! Itulah masalahnya!
Haruskah ini berlanjut sehingga external productivity
pendidikan kita rendah karena mereka tidak bisa bekerja
pada bidang yang ilmunya dipelajari berhubung bidang
itu tidak tersedia sebagai akibat ulah negara-negara
pembantu seperti itu? Banyak perusahaan Jepang
dimana-mana namun mereka tidak mungkin akan melepaskan
core teknologinya karena mereka ingin menjadi pemimpin
angsa terbang at least di Asia (ini sebagai contoh)
----- Original Message -----
From: mBah Soeloyo <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, April 24, 2000 5:27 PM
Subject: [Kuli Tinta] Fwd: failure notice
From: che
Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [Kuli Tinta] STOP IMPORT BERAS BANTUAN PANGAN
Date: Mon, 24 Apr 2000 01:12:09 -0700 (PDT)
Gimana nih para pakar pertanian ? Kok bisa sampai
begini ?
====================================
Date: Sun, 23 Apr 2000 23:31:26 +0700
To: [EMAIL PROTECTED]
From: Admin GSJ
Subject: STOP IMPORT BERAS BANTUAN PANGAN [Penipuan
Terselubung]
JARINGAN RAKYAT MISKIN KOTA, PETANI INDONESIA, NGO:
STOP IMPORT BERAS UNTUK PROGRAM BANTUAN PANGAN
-------------------------------------------------------
------
ngesoel:
wah, aku tersinggung nih. meski bukan ahli-ahli banget,
tapi
ter-tohok lah. sama dengan dulu ketika bung WAM
menyebut:
"bagaimana orang i-pe-be, sampai bikin beras ketan-pun
tidak becus" (nggak persis sih tapi, ya gitulah isinya)
tersinggung, wong selama ini nggak tahu tentang
perdagangan
beras, apalagi impornya. cumak ada selentingan, bahwa
semua
pengimpor beras itu hanya satu pintu, satu kapal dan
satu juragan.
permainan di bulog hanyalah imbas kecil dari samudera
beras..
ibaratnya "daripada nggak komanan.."
aku juga tersinggung, ketika dinyatakan oleh presiden:
"itulah kalah hanya berfikir agraris, harusnya ke
industri"
bagaimana mau bisa jadi industrialis, bila makan saja
ngemis?
bila lulusan teknologi malah jadi politikus?
bila sarjana teknologi malah dng.gagahnya menjadi
menteri
di bidang pertanian?
bukankah kantor pusat mbak che ini juga jadi
gudhang-nya
sosok-sosok ahli pertanian? hayoooo? apalagi kantornya
bung
WAM. ke sana dong nolehnya....
-----------------------soeloyo-----------------
wis... kerjo gurung karuan, nesu didisikno...
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!