Berikut saya forwardkan dongeng seorang teman di Belanda.
AH.
================================================

Assalamualaikum Wr. Wb.

Sebagaimana saya ceritakan dalam posting  terdahulu, bahwa Nurcholish Madjid
telah menyampaikan ceramahnya di forum public lecture yang diselenggarakan
oleh International Institute for the Study of Islam in the Modern World di
Amsterdam pada tanggal 28 April 2000. Public lecture ini dipandu oleh Martin
van Bruinessen. Ceramah tersebut mengambil tema "Tension between Christian
and Muslims in Indonesia: the present situation and prospect for the
future". Dalam ceramahnya banyak hal yang menarik untuk kita bincangkan dan
renungkan. Secara umum Nurcholish Madjid menyatakan hal-hal sebagai berikut:

    1.. Bangsa Indonesia sampai saat ini masih dalam process of becoming.
Nation Building yang dilakukan pada zaman Sukarno tidak berjalan seharusnya.
Kemudian di dalam era Suharto masalah ini tampaknya terabaikan sekali.
Kesalahan utama kedua pemimpin bangsa kita tersebut adalah pemahamanya
tentang "kekuasaan" dipandang dalam konteks budaya jawa.
    2.. Turunnya Presiden Suharto dari tampuk kekuasaan telah membawa
situasi kebebasan dan keterbukaan di Indonesia. Keadaan ini akibatnya
menimbulkan political outburst dari kalangan masyarakat Indonesia yang
selama ini merasa terpinggirkan. Masyarakat dengan segala cara mengungkapkan
perasaan akibat ketidakadilan yang selama ini dialami. Sentimen-sentimen
primordial serta dendam politik yang selama ini tertekan dengan sangat
mendadak muncul ke permukaan. Situasi ini pada akhirnya menimbulkan
konflik-konflik dan kekerasan yang semakin sering terjadi di Indonesia. Hal
ini dapat terjadi karena secara kultural Bangsa Indonesia masih belum siap
untuk melakukan demokrasi.
    3.. Ummat Islam merupakan salah satu bagian dari Bangsa Indonesia yang
dalam sejarahnya selama ini juga merasa terpinggirkan. Marginalisasi ummat
Islam terjadi semenjak era Orde Lama sampai Orde Baru. Sejarah telah
mencatat bahwa tumbangnya kedua rezim tersebut tidak terlepas dari peran
aktif ummat Islam di Indonesia. Hal ini dapat terjadi karena penguasa Orde
Lama maupun Orde Baru terlampau "meremehkan" kekuatan Islam yang dianggap
dengan mudah dikooptasi. Pada awal kemerdekaan Indonesia ummat Islam yang
terdidik sangatlah sedikit. Namun, ummat Islam umumnya mengandalkan
kehidupannya dalam perdagangan. Akibatnya mereka mampu menyekolahkan
anak-anaknya dan melahirkan educated generation. Hal ini sesunguhnya telah
disadari oleh PKI yang secara tradisonal merupakan lawan politik kelompok
Islam. Selain itu, Orde Lama maupun Orde Baru mengabaikan efektifitas
jaringan komunikasi ummat yang dilakukan melalui penyebaran masjid-masjid
atau musholla di hampir seluruh tempat di Indonesia, khususnya daerah
pedalaman.
    4.. Mengenai ketegangan antara kelompok Islam dan Katholik pada Era
baru, dikatakan bahwa hal ini bukan merupakan kehendak dari kelompok
Katholik.Sesungguhnya yang terjadi Ali Murtopo melalui CSIS yang
memanfaatkan kelompok Katholik sebagai strategi dalam menghadapi kelompok
Islam.
    5.. Khusus mengenai masalah Ambon ditegaskan bahwa hal ini terjadi tidak
lepas dari konflik-konflik yang terjadi di Jakarta dan Kupang serta
memanfaatkan benih-benih konflik yang sudah ada pada masyarakat Maluku yang
sudah terfragmentasi. Fragmentasi masyarakat Maluku ini dapat terjadi karena
sejak dahulu telah terjadi job division diantara mereka. Kalangan Kristen
yang sejak awal selalu berorientasi menjadi militer atau masuk ke dalam
birokrasi. Sedangkan kalangan Islam umumnya bergerak di bidang perdagangan.
Akibatnya secara ekonomi masyarakat Islam lebih baik dan terdidik. Hal ini
ditambah dengan kehadiran orang-orang Sulawesi Selatan yang umumnya juga
pengusaha. Pada tahun 1990 hal ini mencapai puncaknya dimana pada akhirnya
masyarakat Islam mampu mendominasi hampir seluruh lini dalam dalam birokrasi
di daerah Maluku.
    6.. Sesungguhnya konflik yang terjadi di Ketapang, kemudian dilanjutkan
di Kupang dan Maluku akar permasalahannya bukan merupakan konflik agama.
Begitu juga halnya kekerasan-kekerasan yang banyak terjadi di Indonesia.
Peristiwa Sambas, Aceh, Indramayu, Cirebon, Pemalang dan Bali semuanya tidak
mengandung unsur agama.
    7.. Khusus mengenai usulan Presiden Abdurrahman Wahid untuk mencabut TAP
MPRS yang melarang komunisme diuraikan bahwa hal ini didasarkan pada
pertimbangan praktis untuk menghindari terjadinya rangkaian "politik balas
dendam". Menurut Nurcholish semenjak reformasi terjadi "politik balas
dendam" telah dilakukan terhadap Suharto maupun TNI. Sedangkan terhadap NU
yang historis terlibat secara langsung dalam konflik di tahun 1965 sampai
saat ini belum terjadi.
    8.. Selain itu, mengarisbawahi ketidaksiapan Bangsa Indonesia dalam
membentuk suatu kehidupan demokrasi serta sulitnya pendidikan politik adalah
rendahnya kualitas sumber daya manusia. Walaupun secara relatif kualitas
ummat Islam, misalnya, meningkat tajam, namun secara absolut angka-angkanya
masih sangat rendah dibandingkan negara-negara lain. Disebutkan bahwa dalam
1 juta orang penduduk di Jepang terdapat 6000 orang yang berpendidikan
Doktor, di India 1500 orang, di Mesir 400 orang, sedangkan di Indonesia
hanya 65 orang.
    9.. Pada akhir ceramahnya, ditegaskan bahwa semua konflik atau kekerasan
yang terjadi bukan ditimbulkan karena agama, karena dalam semua agama
toleransi dan hidup berdampingan secara damai sudah merupakan sesuatu yang
built in. Konflik-konflik dapat terjadi hanya karena agama telah digunakan
sebagai alat perjuangan politik guna memperoleh kekuasaan. Selanjutnya,
Nurholish Madjid menyatakan keyakinannya bahwa Bangsa Indonesia di masa
mendatang dapat membentuk suatu kehidupan bersama yang didasarkan pada
prinsip-prinsip demokrasi yang mantap dimana tidak ada suatu kelompok
masyarakat yang harus terpinggirkan serta harus menanggung stigma politik.
Untuk mewujudkan hal ini, dengan segala kekurangan serta tentangan yang ada,
satu-satunya harapan ada pada Presiden Abdurrahman Wahid.
Demikian disampaikan.

Wassalam

A.K.J




- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!











Kirim email ke