From: "Forum Cita Nusa" <[EMAIL PROTECTED]> 
To: "MTI" <[EMAIL PROTECTED]> 
Subject: Fw: Dosa JP ke NU-Warga NU 
Date: Tue, 9 May 2000 14:18:06 +0700 


DAFTAR KUMPULAN DOSA-DOSA JAWAPOS 


TERHADAP WARGA NU DI JAWA TIMUR 


MULAI TAHUN 1998 -2000 



Siaran ini dibuat berkenaan dengan tulisan yang dimuat
Jawa Pos edisi: 


1. Kamis, 16 April 1998, halaman 1, berjudul "PBNU
Dukung Gerakan 
Reformasi", bersambung ke halaman 2 berjudul
"Sayangkan Bentrok 
ABRI-Mahasiswa". 



2. Jumat 17 April 1998, halaman 3 dengan judul
"Mempertanyakan Perubahan 
Sikap Politik NU". 



Dua tulisan tersebut dinilai sarat dengan adu domba
yang bisa memecah 
belah umat Islam Indonesia. 



Karena itu, sebagai pihak yang merasa paling dirugikan
oleh cara-cara Jawa 
Pos, maka keluarga besar Nahdlatul Ulama merasa sangat
berkepentingan 
mengetahui jawaban Jawa Pos, apa sebenarnya yang
membuat Jawa Pos membuat 
berita seperti itu. 



Ikhtiar memperoleh jawaban dari Jawa Pos sudah kami
lakukan berkali-kali, 
baik lewat telepon maupun datang langsung ke Redaksi
Jawa Pos di Graha 
Pena, Jl. Achmad Yani, Surabaya, termasuk melalui
surat teguran Satuan 
Koordinator Wilayah Barisan Ansor Serba Guna
(Satkorwil Banser) Jatim. 
Namun, sampai saat ini, belum mendapat jawaban tegas,
bahkan terkesan 
bertele-tele. 



Lebih "mengerikan" lagi, Jawa Pos melalui Kordinator
Liputan (Korlip)-nya 
Sdr. Zahidin memberikan keterangan yang mengadu domba
antara warga NU 
dengan Gus Dur. Menurut Zahidin pihak Jawa Pos sudah
melakukan kontak 
telepon dengan Gus Dur (KH. Abdurrahman W ahid),
mempertanyakan somasi 
Banser. Dalam cerita Zahidin, Gus Dur sempat marah
dengan cara Banser, 
dikatakan itu cara-cara KISDI. Masih menurut Zaidin,
Gus Dur minta 
difakskan surat somasi dari Banser itu dan dia sendiri
yang melakukan. 



Setelah hal ini ditabayunkan PWNU Jawa Timur kepada
Gus Dur, beliau 
menyatakan tidak dihubungi Jawa Pos berkaitan dengan
ini. Dan, Gus Dur 
menjalaskan bahwa urusan NU Jawa Timur diserahkan
kepada kiai-kiai Jatim. 
Model Jawa Pos yang demikian ini, menurut hemat kami,
merupakan sebuah 
pelecehan dan sikap arogan serta mengadu domba. Bukan
menyelesaikan 
masalah, tapi malah menambah masalah baru. 



Jumat 24 April 1998, KHA Wachid Zaini, Pengasuh Pondok
Pesantren Nurul 
Jadid, Probolinggo, berusaha menghubungi Jawa Pos
untuk memperoleh jawaban 
sekaligus pertanggungjawaban. Saat itu juga pihak Jawa
Pos yang diwakili 
Sdr. Dhiman Abror menyanggupi hadir ke kantor PWNU
bersama Arief Afandi. 
Sekitar pukul 13.30 WIB utusan Jawa Pos _ Sdr. Cholik
Baya datang, tidak 
lama kemudian Sdr. Arief Afandi. Sdr. Dhiman Abror
tidak datang. 


Sementara dari NU sudah menunggu, KHA Wahid Zaini _
selaku pengasuh pondok 
pesantren, beberapa personel Banser, Tabloid Warta NU,
Majalah AULA. 



Pertemuan yang berlangsung sekitar 1 jam ini tidak
membuahkan hasil final. 
Hanya disepakati "pertemuan kedua" DENGAN CATATAN
perwakilan dari Jawa Pos 
harus orang-orang yang layak mewakili institusi. Yaitu
harus hadir 
pimpinan Jawa Pos Sdr. Dahlan Iskan, S dr. Dhiman
Abror, Sholihin Hidayat 
selaku redaktur pelaksana, termasuk Ali Murtadlo dan
Arief Afandi. Ini 
demi memperoleh jawaban yang sesungghuhnya. 



Bersamaan dengan itu, SATKORWIL BANSER Jawa Timur
menyampaikan surat 
Teguran. Somasi dan tindakan yang dilakukan oleh para
aktifis NU Jatim 
berkaitan dengan penulisan ini menurut mereka,
sesungguhnya merupakan 
puncak dari "kemarahan" yang ditahan sejak la ma. Ini
merupakan akumulasi 
dari "kemarahan" yang sudah sejak lama ditahan. Dan
cara ini _kata para 
aktifis BANSER Jatim_ sudah merupakan cara yang paling
bagus dan halus. 



Barangkali teman-teman wartawan bertanya: Apakah NU
sudah melakukan hak 
jawab? Jawab kami: 



1. Menggunakan hak jawab sesungguhnya hal yang baik.
Tapi untuk kasus ini 
kami perlu mempertanyakan: Apakah tulisan Jawa Pos
tersebut memang opini 
Jawa Pos terhadap Nahdlatul Ulama? Kalau memang
demikian, kami tidak akan 
menyampuri dan mempengaruhi pendap at Jawa Pos
terhadap NU, sebaliknya 
kami pun bebas menentukan sikap terhadap Jawa Pos. 


2. Tulisan tersebut sudah menyangkut urusan umat,
bukan hanya organisasai 
Nahdlatul Ulama. Yakni dilecehkannya satu pihak dan
dijunjungnya pihak 
lain. Suatu sikap adudomba di saat bangsa ini sangat
memerlukan persatuan. 
Dengan demikian ada pihak yang ters inggung dan ada
yang membusungkan 
dada. Maka penyelesaiannya _ menurut kami _ tergantung
kepada kemampuan 
Jawa Pos menunjukkan perubahan sikap yang lebih
mengakomodasi semua pihak. 


3. Kami sudah berpengalaman menggunakan hak jawab
dalam suatu masalah 
kepada Jawa Pos. Namun masalahnya tidak sederhana:
Kami sangat kecewa 
terhadap tanggapan Jawa Pos, dan bila kami tidak aktip
(agresip) 
mempermasalahkan, hak jawab tersebut tidak diberi
kesempatan. 



Sekadar contoh: Ketika Jawa Pos memberitakan hasil
musyawarah ulama NU 
Jawa Timur, tentang rukyat dan hisab di STIE
Kucecwara, Malang, ternyata 
pemberitaannya sepotong-potong dan menyimpang dari
substansi yang 
sebenarnya. Akibatnya masyarakat NU menjadi r esah,
dan bahkan para 
pejabat Muspida Jatim turut mempertanyakan hasil
musyawarah itu. 



KH Wahid Zaini _ selaku Wakil Rais Syuriah PWNU Jatim
(saat itu) kemudian 
berusaha menjelaskan kepada pihak-pihak terkait, bahwa
pemberitaan Jawa 
Pos sangat jauh dari kebenaran yang sesungguhnya. Dan,
kepada Jawa Pos 
Kiai Wahid minta agar dilakukan ralat sebagai
pelurusan berita. Permohonan 
kepada Jawa Pos ini, ternyata melalui proses yang
berbelit-belit, dan 
bahkan memperoleh jawaban yang sangat tidak simpatik _
bahwa pemuatan 
berita model begitu adalah haknya (Jawa Pos). "KALAU
YANG BEGITU ITU 
DIKATAKAN HAK JAWA POS, MAKA JUGA MENJADI HAK SAYA
UNTUK MENGANJURKAN 
WARGA NU AGAR TIDAK LAGI MEMBACA JAWA POS". 


Nah, setelah terjadi otot-ototan inilah pihak Jawa Pos
baru mau meladeni 
hak jawab. 



Kedua, ketika terjadi distorsi pemberitaan terhadap
ceramah Gus Dur di 
Aula PWNU Jatim tentang keseimbangan politik, yang
berakibat 
kesalahanpahaman pihak lain terhadap NU, yakni NU
dikatakan tidak setuju 
dengan penerapan syariat Islam di Indonesia. Maka
kemudian NU mengirimkan 
hak jawab sebagai pelurusan, tetapi sampai kini hak
jawab itu tidak 
diberikan. 



Memang, itu semua adalah hak Jawa Pos sendiri. Tapi,
paling tidak Jawa Pos 
harus mengerti dan paham, bahwa dampak dari
pemberitaan dan tulisan yang 
seperti itu sangat merugikan orang lain. 



Masih soal pemberitaan Jawa Pos mengenai hasil rapat
gabungan Syuriyah dan 
Tanfidziyah PBNU di Jakarta, tanggal 15 April 1998,
kami berpendapat: 
Bahwa Jawa Pos dengan sengaja membiaskan hasil rapat
tersebut, dengan cara 
membuat berita tendensius yang sang at memojokkan NU.
Lihat pemberitaan 
Jawa Pos edisi Kamis, 16 April 1998 halaman 1. Dalam
berita berjudul "PBNU 
Dukung Gerakan Reformasi-Minta ABRI Lindungi Aspirasi
Rakyat", disebutkan 
: "PB NU akhirnya ikut mendukung gerakan
reformasi....". Pertanyaannya , 
apa maksud tulisa PBNU AKHIRNYA IKUT MENDUKUNG GERAKAN
REFORMASI ITU? 



Lebih ironis lagi, kalau disimak edisi berikutnya Jawa
Pos Jumat, 17 April 
1998 halaman 3, dengan judul "Mempertanyakan Perubahan
Sikap Politik NU". 
Dalam pengantar berita, disodorkan pertanyaan
"Nahdlatul Ulama telah 
kembali?. Pertanyaan ini layak dikemu kakan karena
sudah lama organisasi 
dengan jumlah umat terbesar se Indonesia ini tidak
melontarkan 
pernyataan-pernyataan yang bertenaga. Tapi, tiba-tiba,
PB NU _meski 
_keduluan anaknya_, PMII_ lantang menyuarakan dukungan
terhadap reformasi. 
Mengapa NU ber ubah?". Inilah opini Jawa Pos yang
disajikan kepada 
pembaca. 



Lebih dari itu, lihat terusan opini-opini itu: 


- Krisis moneter yang berimbas ke krisis ekonomi
sampai krisis 
kepercayaan, tak membuat NU bersuara. Bahkan, saat
Sidang Umum MPR 
berlangsung, NU yang biasanya lantang juga tak
menunjukkan suaranya... 



- Tapi itu tak begitu "menolong" NU. Apalagi, di saat
yang sama, Ketua PP 
MUhammadiyah Dr. Amien Rais makin kenceng meneriakkan
suksesi dan 
reformasi. Makin tenggelamlah NU di percaturan wacana
reformasi. 


Keadaan ini makin bertambah runyam ketika Gus Dur
_demikian Abdurrahman 
biasa disapa_ menyatakan ada pihak-pihak yang
membiayai dan mencoba 
memanfaatkan gerakan mahasiswa yang kian massive
belakangan ini. 



- ... Seperti biasanya, dengan dibungkus bahasa
religius, NU menyatakan 
perubahan merupakan sunnatullah atau hukum Allah yang
tidak dapat 
ditolak... 



- Apakah ini sebagai tanda NU akan kembali menjadi
radikal? 



- Sikap NU memang sering kontroversial. Ketika pertama
lahir, NU tidak 
ubahnya ormas Islam yang berkonsentrasi pada
gerakan-gerakan kultural dan 
keagamaan. Lalu, di tengah perjalanan, NU hijrah ke
gerakan politik. 
Tetapi setelah dalam gerakan politik NU s ering
"rugi", akhirnya dalam 
Muktamar di Situbondo diputuskan kembali ke khittah.
Namun, ketika PBNU 
dipegang Gus Dur, gerakan-gerakan NU tidak lepas dari
muatan politik. 


Sikap itu semakin transparan ketika Gus Dur "dekat"
dengan Mbak Tutut 
menjelang Pemilu 1997. Kedekatan itu ditafsirkan
banyak orang, NU mulai 
bermain politik. Para pemerhati NU menilai sikap Gus
Dur itu sebagai upaya 
untuk bargaining mendapatkan pengaruh pada kekuasaan.
Sebab, cukup lama 
posisi NU terpinggirkan, baik di legislatif maupun
eksekutif. 


Tetapi, upaya bargaining itu NU gagal. Buktinya,
tokoh-tokoh NU belum 
terwakili di lembaga legislatif maupun eksekutif.
Setelah NU tidak 
mendapat "kursi", kini sikap NU cenderung keras dan
terkesan radikal. 
Misalnya, hasil rapat pleno PBNU mendukung gerak an
reformasi yang 
diinginkan mahasiswa. 



Begitu opini-opini yang sengaja dijejalkan Jawa Pos
kepada pembaca. 



Demikian antara lain hal-hal yang dapat kami sampaikan
untuk mendapatkan 
perhatian dan perbaikan dari Jawa Pos. 



---------------------------------------------------- 


Dan untuk kesekian kalinya Jawa Pos, pada tanggal 6
Mei 2000 membuat 
tulisan yang melukai hati warga NU dengan angel "Enam
Bulan Memerintah, 
KKN mualai menerpa Gus Dur ?, PKB Gerah, PBNU bentuk
Tim Klarifikasi" yang 
pada inti berita menyadur dari Majalah Tempo. 



Oleh karena itu, kepada hampa pers supaya berlaku
jujur dan bertanggung 
jawab, jangan melakukan konspirasi fitnah dan adu
domba. Penjelasan Gus 
DUR di televisi "ada Komplotan pembuat berita yang
tidak jujur dan tidak 
bertanggung jawab" untuk menjatuhkan N U dan Presiden
Gus DUR. 



Kalau begitu, jangan salahkan warga NU jika naik pitam
kata arek suroboyo 
"Wong Jawa Pos dewe sing golek perkoro" (Jawa Pos
sendiri yang cari 
persoalan). 



Dengan demikian saya, perwakilan warga NU paling bawah
"Wis nggak patheken 
karo jawa pos", dan mulai detik ini tidak mau lagi
langganan jawa pos. 
Saudara-saudara saya (warga NU) ditanah air semoga
dapat mengikuti jejak 
saya. 



Ingat kesombongan dibalas dengan kesombongan itu
shodaqoh____.! 
  


Wassalam 


Mas Humanika 


=====
Sugih durung karuwan, sombong didisikno...

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Send instant messages & get email alerts with Yahoo! Messenger.
http://im.yahoo.com/

- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!











Kirim email ke