Saya forward dari satu milis yang saya ikuti.
GATRA, 13 Mei 2000
"Stalin (Mestinya) Memarahi PKI"
Taufiq Ismail *
PARTAI komunis adalah partai dengan tangan yang paling
berdarah di dunia. Sepanjang abad ke-20, rezim yang dikuasai
partai ini telah membunuh 95,2 juta manusia (Rummel, Religion
and Society Report, 1986), atau 105 juta orang (Nihan, The
Marxist Empire, 1991).
Dari kedua laporan itu, bila diambil angka pertengahan
rata-rata 100 juta saja, maka partai komunis di seantero jagat
telah membunuh 1 juta manusia setiap tahun, sepanjang jangka
100 tahun belakangan ini. Atau, setiap hari mencabut nyawa
2.739 orang, setiap jam 114 orang, atau setiap detik 1,9
orang. (Waktu sependek yang Anda pakai untuk membaca alinea di
atas ini, cukup bagi partai komunis dunia untuk membunuh 38
orang korbannya).
Kebengisan marxis-leninis ini berlangsung di 64 negara, sejak
dari Georgia, Albania, Cekoslowakia, Armenia, Cina, Indonesia,
Afghanistan, Guinea, sampai Nikaragua dan 56 negara lainnya,
tersebar di empat benua. Tidak ada satu partai politik pun di
dunia, yang punya agenda perebutan kekuasaan dengan rasa haus
darah serta kebencian meluap-luap, secara seragam melakukan
pembantaian manusia secara brutal, kecuali partai marxis yang
satu ini. Kekejaman partai Nazi sangat dihujat orang Yahudi.
Kekejaman partai marxis-leninis ini 16,5 kali lipat lebih
besar ketimbang kekejaman partai Nazi itu. Partai Nazi
membantai 6 juta Yahudi semasa Perang Dunia II.
Yang paling ganas tentulah Uni Soviet. Lenin memulainya dengan
membantai 500.000 orang dalam enam tahun, pada 1917-1923
(Conquest, Human Cost of Soviet Communism). Iosef Dyadkin,
penulis yang ditangkap di tahun 1984 karena menyiarkan
penemuannya di buletin Samizdat, menyatakan bahwa dalam masa
26 tahun pemerintahan marxis di Uni Soviet, 52,1 juta rakyat
Rusia dihabisi rezim komunis. Tangan paling berdarah yang
memerintahkan pembunuhan atas nama ideologi marxisme ini
adalah tangan Joseph Stalin.
Di tahun 1929, Stalin memerintahkan eksekusi 7 juta petani.
Kediktatoran Stalin dikukuhkan lewat teror agar keputusannya
terlaksana dan oposisi hancur. Tanpa rasa kasihan, dihabisilah
10 tokoh komunis rekan Lenin, 6 anggota Politbiro, diplomat,
400 jenderal (lebih dari separuh jenderal Angkatan Darat) dan
30.000 perwira menengah. Stalin tidak tanggung-tanggung
membersihkan pimpinan Tentara Merahnya (Bailey, Massacres-An
Account of Crimes Against Humanity, 1994).
Sesudah Stalin meninggal, represi rezim komunis terhadap
rakyatnya sendiri dan negara satelitnya, yang juga komunis,
dilanjutkan terus oleh nachalstvo, yaitu para bos partai,
dengan penindasan dan kekejaman serupa.
Tak kalah ganas ialah rezim komunis Cina. Penulis Anthony D.
Lutz menaksir, 60 juta orang telah dibunuh rezim
marxis-leninis sejak Cina menjadi negara komunis. Yang
terbanyak tentulah rakyatnya sendiri, selebihnya adalah korban
bangsa lain dalam Perang Korea (1950-1953), Tibet (1950),
India (1962), dan Vietnam (1968).
Salah kalkulasi Mao Zedong dalam programnya, "Lompatan Jauh ke
Depan" (1958-1962), telah menyebabkan 30 juta rakyatnya mati
kelaparan, yang disebut sebagai "musibah kurang pangan paling
buruk di dunia abad ini". Mao menutup-nutupi salah-urus
rezimnya itu dan bersikeras tidak mau mengimpor bahan pangan
dari luar negeri. Di Indonesia semasa itu, kita dikelabui oleh
berita-berita bohong tentang suksesnya program "Lompatan Jauh
ke Depan" tersebut di Harian Rakjat dan Bintang Timur.
Vietnam Utara, yang dengan gigih melawan dan mengalahkan
Amerika Serikat, ironisnya, bertempur pula melawan RRC, sesama
negara komunis. Korban yang jatuh 47.000 orang banyaknya.
Rakyat Vietnam Selatan, yang terpaksa menerima pemerintahan
komunis (1975), dibantai sebanyak 65.000 orang, atas nama
"utang darah pada rakyat". Perang itu menelan korban 1,5 juta
orang banyaknya.
Ketika Etiopia memerah, pertempuran dua tahun berlangsung di
Somalia, Tigre, dan Eritrea, menewaskan 30.000 orang. Laporan
Amnesty International, 1987, menurut wartawan John Kifner,
mengatakan, "Teror Merah itu membantai 30.000 pembangkang
rezim."
Perang saudara saling membantai antara marxis ini berlangsung
di negara paling miskin dan paling lapar di dunia. Lebih dari
sejuta penduduk mati kekurangan pangan (laporan Bank Dunia),
tapi di pertengahan 1980-an itu rezim marxis Etiopia
melangsungkan pesta ulang tahun komunis di Adis Abeba dengan
biaya US$ 100 juta.
Untuk melanggengkan perang saudara itu, Moskow menjual ke Adis
Abeba senjata seharga US$ 5 milyar, sedangkan untuk
meringankan krisis pangan mereka cuma menyumbang kurang dari
seperseribunya, yaitu US$ 3 juta.
***
Dari semua fakta dan angka tersebut, jelas tampak bahwa bagi
partai komunis, yang sangat rapi organisasi dan ketat
disiplinnya di negara mana pun, dalam perebutan kekuasaan
tidak enggan untuk melakukan pembantaian manusia, baik
terhadap bangsa sendiri maupun bangsa lain, bahkan juga sesama
marxis. Contoh yang diberikan Lenin, Stalin, dan Mao ditiru
dengan setia oleh seluruh partai marxis-leninis di 64 negara,
termasuk Indonesia.
Tapi tragisnya, bahwa sesudah teror PKI yang mengerikan dan
ekstensif di banyak daerah semasa pra-Gestapu, kemudian
Gestapu gagal, lalu PKI membayar utang nyawa yang sangat
mahal, termasuk pengucilan keturunannya dalam berbagai sektor
kehidupan, yang mestinya tidak boleh terjadi.
Kepada mereka sekarang yang jolong terpukau dengan ideologi
ini, tapi tak cukup umur mengalami aplikasi prakteknya, yang
terbaik adalah menambah bacaan bandingan seluas-luasnya.
Sejalan dengan itu, jangan kita perturutkan ide pseudo-liberal
yang dengan naif berniat mencabut Tap MPRS Nomor XXV Tahun
1966 itu, dan dengan demikian memberikan instrumen gratis
kepada marxis spesies ini untuk memukul tengkuk kita lagi dari
belakang 17 tahun yang akan datang.
Berideologi silakan, berinstrumen tidak. Pada suatu waktu,
dengan pusaka kerapian organisasi dan keketatan disiplin
mereka, yang tergembleng melalui gerakan di bawah tanah
puluhan tahun, sejarah akan mereka ulangi.
Komunisme gulung tikar dan tidak laku lagi? Itu di tempat
lain, Bung, di tempat lain! Itu cerita di bagian dunia lain,
di tempat tukang sapu balai kota bergaji Rp 5 juta per kepala
(per kepala, bukan per keluarga) setiap bulan, dan di
negerinya cuma bayi yang bisa disuap.
Di sini, di tempat keadilan sosial tidak jalan, keputusan
pengadilan diperjualbelikan, pengangguran 39 juta orang,
kemiskinan 60 juta orang, pengungsi setengah juta orang ,
kriminalitas memuncak, ekonomi amburadul, petinggi-petingginya
jadi wakil bangsa pengemis kaliber dunia tak bermalu, utang
negara sebesar gunung di atas bahu, masyarakat kemelut
berbunuh-bunuhan, massa murka pemuja api, rimba persilatan
politik dibingungkan jurus pendekar mabuk, orang saling
mencurigai dan sangat gampang difitnah -inilah lahan chaos
luar biasa subur bagi marxisme spesies ini untuk konsolidasi
dan siap suatu waktu membalas dendam lagi.
Kita sendiri yang sukarela menyiapkan lahan gembur untuk
bangkitnya sebuah kekuatan marxis-leninis varian baru di dunia
dengan semangat muda yang anyar. Kita beri pula mereka topeng
demokrasi dan HAM, yang telah dipasang di wajah mereka dengan
sangat gembira. Sementara itu, inilah saat mereka untuk
otokritik kegagalan taktik dan strategi masa lalu.
Misalkan Stalin masih hidup, sehat dan berkuasa sampai tahun
1965, kendali partai sedunia tetap terletak di Uni Soviet, dan
poros Jakarta-Beijing tak ada, maka pada waktu pimpinan PKI
melapor ke Moskow, pantasnya terjadi dialog berikut ini:
"Bagaimana ini, Kamerad? Otokritik dong kegagalan kalian.
Revolusi 1926 kalian dulu itu, yang dilaporkan Alimin dan
Musso kepada saya di Kremlin sebelum kalian lakukan, gagal
memalukan. Negara Soviet di Madiun yang dibikin Kamerad Musso,
juga gagal memalukan. Prediksi kalian menguasai 35% tentara
ternyata keliru. Padahal pembantaian sudah lumayan bagus
kalian laksanakan di situ, meniru contoh di Sverdlovsk. Nah,
ini lagi. Di tahun 1965 ini kalian kok gagal lagi, waaa,
bagaimana to. Kalian masak lupa, kan contoh sudah aku berikan
di tahun 1937, ketika aku habisi 400 jenderal Angkatan
Darat-ku. Empat ratus! Kalian menghabisi cuma tujuh jenderal,
masih ada yang lolos. Kepriben, Mas? Kurang latihan, kurang
disiplin, kurang rapi berorganisasi, ya? Ulang lagi nanti,
Kamerad, pakai otak dan usahakan yang lebih sip."
* Sastrawan
------------------------------------------------------------------------
Best friends, most artistic, class clown Find 'em here:
http://click.egroups.com/1/4054/0/_/14535/_/958404801/
------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED], an empty mail
To subscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED], an empty mail
Any problems, mailto:[EMAIL PROTECTED]
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!