Mengikuti diskusi antara PD dan �� sungguh menarik. PD punya tesis bahwa budaya Jawa punya peranan penting dalam kebobrokan negeri ini. Dan �� pun saya rasa naik pitam : Jangan gampang-gampang ngomong soal budaya Jawa yang "luhur" itu !. Saya terus terang mikir, kalau PD berkata bahwa islam punya andil besar pada kebobrokan negeri ini , saya pun berada dalam posisi yang sama . Bludrek dan bakal berpolemik "menyadarkan" pandangan miring seperti itu. Soal naik pitam dan ngomel "menyadarkan" soal miring tidak begitu salah. Tapi sesungguhnya pendapat miring dan lugas amat perlu. Hal-hal emosionil seperti suku dan agama itu cenderung buta. Kita cenderung tidak bisa melihat keadaan diri kita sendiri. Tesis miring diperlukan untuk membongkar dan membangun interpretasi baru. Itu selalu kita perlukan untuk selalu bisa berlayar bersama jaman yang hakekatnya selalu baru gres itu. Apa betul Islam tidak punya andil dalam kemunduran negeri ini ? Emosi saya akan mengatakan dengan kilat : Tidak ! Tapi setelah tenang, dalam hati saya kira saya tidak bisa menghindar untuk mengakui. "Islam Indonesia" faktanya kurang punya "api" untuk mendorong perobahan. Jadi secara intelektual, saya kemudian merasa perlu untuk mencari dan membuat interpretasi baru dari pemahaman islam saya. Islam itu kan tidak sama dengan perilaku kaum Muslim ?. Demikian pula untuk soal budaya Jawa. Terus terang untuk menolak dan berkata bahwa budaya Jawa tidak punya andil dalam lambatnya kemajuan Indonesia akan banyak diketawai orang . Budaya Jawa, budaya Islam, budaya apa-saja, senantiasa memerlukan penyegaran. Memerlukan pemasukan baru. Kalau tidak dia akan jadi Dinosaurus, mati dikubur jaman. Cara-cara yang "asing" tapi perlu dan efektip, saya rasa harus di adaptasi budaya Jawa. Umpamanya : bicara terus terang , bicara to the point, sikap sejajar pada siapa saja, bersikap lebih rasionil ketimbang lebih emosionil, memajukan enterpreneurship dari pada mental pegawai, tidak gampang tersinggung, dsb. Ajakan Tan Malaka untuk ber-Madilog, Materialisme, Dialektika, dan Logika, meskipun sudah agak ketinggalan sebagian, masih amat relevan bagi banyak diantara kita. Marilah , kita teruskan bermiring-miring, tapi dalam bingkai yang cukup sopan. Itu akan mendorong pertanyaan pada keadaan diri kita. Itu akan membuat kemajuan-kemajuan. Dan itu akan menyumbang keramaian milis ini. Setelah agak capai, jangan lupa mencari kedamaian di nawala-wojoseto, kampungnya mbah soel. Ada tembang ada gamelan ada pula durma rangsang. Wassalam Abdullah Hasan. - Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
