Untuk bacaan sore, sambil makan pisang mentah...eh..goreng
Kira-kira bisa dipercaya ndak berita dibawah ini?

**********************************

GUS DUR PEGANG KUNCI?

(PERISTIWA): Pengakuan Sapuan dalam puisinya menunjukkan Gus Dur
terlibat dalam kasus Bulog. Sapuan tak ingin dikorbankan?

Ia bukanlah penyair, apa lagi sastrawan atau penulis puisi. Namun ia
bisa menyusun puisi dalam penjara. Itulah Sapuan, doktor yang dikenal
berambisi ingin menduduki kepala Bulog hingga ela membobol brankas
Yanatera Bulog Rp 35  Milyar.

Dalam puisi yang diberi judul Gus Dur sebanyak dua bait itu, Sapuan
tak ingin sendirian di dalam bui. Ia menyebut dirinya sebagai korban
dari tindakan Gus Dur. Sedangkan Soewondo yang ia kenal sebagai "orang
dekat" Gus Dur selamat dan kabur tak tentu rimbanya. Sapuan sekarang
ini memang masih mendekam di penjara Polda Metro Jaya.

Lewat puisi yang dibuat sendiri sejak ia ditahan 25 Mei lalu di
tahanan Polda Metro Jaya, Sapuan jelas menyebutkan Presiden
Abdurrahman Wahid terlibat dalam rencana dan pelaksanaan pengucuran
dana sebesar Rp35 milyar dengan alasan untuk digunakan menyelesaikan
masalah Aceh.

Hanya saja, dalam pernyataannya di hadapan Komisi III DPR, yang
membidangi masalah pertanian dan Bulog, Sapuan membantah keterlibatan
Presiden Gus Dur dalam pengucuran dana sebesar Rp35 milyar lewat
Soewondo. "Gus Dur tidak terlibat. Dia tidak memerintahkan Soewondo
meminta uang untuk masalah Aceh. Bahwa Soewondo orang yang dekat
dengan Presiden Gus Dur, iya. Tapi, Gus Dur tidak memerintahkan saya
untuk mengambil uang tersebut," kata Sapuan. Itulah Sapuan.

Pada pertengahan bulan Januari lalu, ia mengucurkan dana lewat tukang
pijat Soewondo, yang langsung menemui Sapuan. Soewondo sekarang
menghilang setelah menandatangani perjanjian utang piutang bersama
Sapuan untuk mengembalikan dana Rp35 milyar, yang baru dikembalikan
sebesar Rp1,7 milyar pada tanggal 24 Mei 2000.

Kata Sapuan, "Untuk membongkar kasus pembobolan dana Yayasan
Kesejahteraan Karyawan Badan Urusan Logistik (Bulog) Yanatera senilai
Rp35 milyar, DPR seharusnya juga memanggil dan menanyai Presiden
Abdurrahman Wahid. Sebab, kuncinya bukan pada saya saja, tapi juga
pada Soewondo dan juga Presiden Abdurrahaman Wahid." 

Bahkan Sapuan mengaku sudah siapkan daftar pertanyaannya. "Apakah
bapak presiden akan menggunakan dana non-neraca, kenapa Bulog yang
diminta dan bukannya lembaga lain. Lalu, juga siapa yang memiliki
inisiatif presiden ataukah Soewondo. Bagaimana cara penyaluran dana
tersebut. Kenapa rencana tersebut disampaikan Soewondo kepada saya dan
bukannya kepada Kepala Bulog. Kenapa sampai saat ini tidak juga
dibentuk Keppres? Kenapa Soewondo yang memerintahkan mencari dana
talangan? Itu pikiran saya, yang mungkin bisa ditanyakan kepada
presiden."

Menurut Sapuan, bobolnya dana Bulog ini, adalah karena Soewondo
merayunya yang menyebutkan bahwa Gus Dur membutuhkan dana sekitar
Rp200 milyar untuk menangani masalah Aceh. "Soewondo juga menanyakan
apakah bisa dari dana non-neraca Bulog. Hal itu disampaikan
berkali-kali kepada saya. Kata saya, sebaiknya itu diperintahkan saja
secara tertulis kepada Kepala Bulog. Bulog biasa membantu untuk Aceh,
apalagi Aceh lagi panas," aku Sapuan.

Lama-lama Sapuan tergoda untuk mengetes Soewondo, "Apakah saya bisa
bertemu ke presiden?" Ternyata Soewondo membuktikan omongannya. Kamis
sore ia sampaikan, Jumat paginya sudah diberitahu bahwa Jumat  ia bisa
bertemu Presiden Gus Dur.

Pertemuan pun berlangsung antara Gus Dur dengan Sapuan. "Kami hanya
berdua dan diantar masuk oleh Protokol Istana Sdr Wahyu Muryadi. Di
situ, saya konfirmasi keinginan Soewondo. Ternyata betul. Saya tanya
apakah presiden mempunyai rencana akan menggunakan dana non-neraca
Bulog untuk menyelesaikan masalah Aceh dan dijawab iya. Jumlahnya
disampaikan 50 persen dari Rp 375 milyar yang saya ketahui," cerita
Sapuan, lagi.

Setelah itu, Sapuan mengaku meminta presiden memberikan dasar yuridis,
agar pertanggungjawabannya mudah. Namun, Gus Dur tidak komentar.
"Kurang lebih 10 menit setelah sampai kembali di rumah Soewondo, saya
diberitahu bahwa Gus Dur tidak setuju dengan Keppres. Ya, saya iya
saja. Kemudian saya lapor ke Jusuf Kalla. Komentarnya, beliau juga
akan mengunakan dana tersebut untuk masalah Aceh."

Setelah lebaran, akunya, Soewondo terus mendesak agar ia mengeluarkan
dana. Soewondo terus menekan Sapuan dengan menyatakan bahwa ia punya
komitmen dengan presiden. Soewondo kemudian meminta Sapuan untuk
mencarikan pinjaman Rp10 milyar. Berikutnya juga minta lagi Rp25
milyar. Soewondo kemudian dibawakan kwitansi agar ditandatangani Gus
Dur, tapi ternyata Gus Dur menolak tandatangan. (*)




->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke