Nah ini dia,

Ngangkat terus mbanting, hehehehe ......
Aku kira Kang Farhan lagi ngomong retoris ya nggak Kang ? Mangsude, ndak
perlu jawaban-lah, apalagi dari aku yang tukang ngganggu orang ini,

Aku mau menggaris bawahi yang ini saja deh :

> pertanyaan dalam benak saya...perang ini disebabkan oleh perbedaan ajaran
> agama atau antar kelompok yang berbeda
> agama (yg tercatat) ?

Nggak deh. Bukan karena perbedaan ajaran agama. Sudah benar apa yang Bung
Farhan kemukakan mengenai (salah satu) penyebabnya. Kata salah satu teman,
itulah dia causa primanya. Penyebabnya lebih jauh adalah soal kecemburuan.
Dan lebih, lebih jauh lagi adalah soal budaya kekerasan yang hidup subur di
tanah Maluku. Sejak jaman penjajahan Belanda, masyarakat Maluku memang sudah
rentan dengan perbedaan kelompok seperti ini,

Celakanya hal ini terbawa sampai sekarang,
Sedihnya kejadian ini berlarut-larut tak terselesaikan hingga kini,

Provokator ? Maaf saja. Ada dua hal yang mulai aku ragukan di negeri  ini :
Pertama, teori konspirasi. Kedua, teori provokator. Apa bukannya bentrokan,
kerusuhan dan segala macam ke-edanan di negeri kita ini bukannya disebabkan
oleh karena masyarakat kita itu memang berbudaya kayak gitu ? Waktu jaman
Soeharto, hal itu terpendam tak muncul ke permukaan karena ketakutan massal
yang dihinggapi semua orang.

Kini ketakutan psikologis itu sudah hilang. Tak lagi perlu takut pada
tentara atau polisi, apalagi cuma pada hansip. Orang jadi mudah berbuat
seenaknya, kalau perlu semua aturan dicampakkan ke lubang sampah.

Sedih ? Yakinlah, aku sama sedihnya sama teman-teman semua disini.

Okelah, sementara lupakan sejenak soal Maluku dan kawan-kawan,
Aku punya sesuatu yang mungkin menarik bagi teman-teman buat mengembangkan
wacana kita di milis ini. Ya, mungkin juga tidak. Bagiku mungkin menarik,
yang lain, mbuh ora weruh .....

Pernah dengar milis [EMAIL PROTECTED] ?

Ini merupakan sebuah situs interaktif. Jadi, Anda bisa bertanya atau
berpendapat,
kemudian mereka yang ada di komunitas itu akan menanggapinya. Saya
menemukannya sekitar dua tiga minggu yang lalu. Banyak hal yang saya
dapatkan disitu, tetapi untuk berkomentar -- malu aku ngomongnya -- aku
belum berani. Makanya, aku omongin saja di milis ini,

Siapa tahu ada yang lebih nekad dari aku .......

Sebenarnya caranya mendapatkan ide buat diskusi di situs itu, yang paling
afdol adalah anda sudah membaca bukunya David Korten, misalnya "The Post
Corporate World" itu, atau yang lainnya. Buku bisa diperoleh di
perpustakaan, terutama di perpustakaan Departemen Ekonomi dan Bisnis di
kampus Anda. Entah kalau yang bukan orang Kampus. Aku juga bingung, lha wong
waktu masih mahasiswa saja aku jarang ke kampus kok.

Cara lain mendapatkan ide untuk dialog dengan mereka, yaitu membuka situs
IFG di http://www.ifg.org/ dan Majalah Z di http://www.lbbs.org/zmag/
Majalan Z ini juga ada di perpustakaan, tapi biasanya tidak boleh dibawa
pulang, melainkan harus dibaca di sana, dan bisa difotocopy mana yang Anda
anggap perlu saja. Tentu, Anda juga bisa berlangganan majalah itu langsung.
Satu lagi, Majalah Yes, di www.futurenet.org juga bisa Anda akses di
internet.

Dengan mengakses situs-situs itu, Anda nanti bisa mengembara di kalangan
mereka yang tergolong Pok Tama (kelomPok There Are Many Alternatives) ini,
dan sekaligus bisa menggebrak Pok Tina (kelomPok The are Is No Alternative)
itu. Silahkan!

Pok Tama ini berprinsip bahwa lokal (baca: periferi) adalah yang menentukan
pada akhirnya, bukan penyeragaman (baca: otoriter), tetapi justeru
kerberbagaian (baca: demokrasi) yang akan tercipta. Bukan hanya dari Pok
Tama yang sudah ada saja kita belajar, melainkan juga bisa jadi dari Open
Society yang digalakkan oleh Soros, atau ide-ide Gailbright, Amartya Sen,
Ghandi, Hatta, dll.

Nah, bukankah kita kerap pula menyinggung soal ini di milis ini. Minimal
kita sama-sama sedang belajar jadi Pok Tama ala kuli tinta ?

Mungkin lho ya ?

Sebelum lupa. Klik dulu : http://www.egroups.com/list/korps-pemilih.


Jabat erat,




->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke