On Mon, 19 Jun 2000, Bambang Sumantri wrote:

> Pertanyaan wak Hasan ini benar-benar menggoda. Tidak peduli kepada jutaan 
> orang? Berapa juta? 7 persen pemilih di PAN kah? Raja kita? Sampai di 
> sanakah Wak Hasan bersemangat menyinisi peristiwa ini?

WAM:
Sampeyan salah, lah.
Opo hubungannya ungkapan _jutaan orang_ versi wak Hasan dengan pemilih PAN
yang cuma 7 persen itu? Memangnya policy yang diambil mbah Dur cuma
menyangkut 7 persen pemilih PAN? Jelas, pengaruh kebijakan mbah Dur yang
sering kayak orang buta itu meliputi seluruh penduduk Indonesia, mbah!
Kecuali anda mau ngotot bahwa cuma orang PAN yang 7 persen itu saja yang
akan mengalami dampak kebijakan mbah Dur. 
 
> >Bondan mengharapkan MPR ( dan Amin Rais, dan kita semua) , untuk konsidten
> >dengan pilihannya. Jangan goyang-goyang. Sekali menjatuhkan pilihannya
> >  presiden ) pada seseorang, ya harus mantap pada pilihan tersebut. Kalau
> >perlu untuk seumur hidup seperti Bung Karno dulu. Tidak usah melihat pada
> >nasib ratusan juta manusia. Tak peduli pada nasib negara. Mau ambleg atawa
> >ambles, itu kan konsekwensi pilihan.
 
> Di kalimat manakah Bondan menyebut 'kalau perlu' tersebut ? Sebab, inilah 
> yang selama ini terjadi. Membuat kalimat sinis sendiri, yang sengaja dibuat 
> sedemikian dramtis sendiri, lalu kemudian dipercayainya. Terhadap 
> kalimat-kalimat di atas, yang kemudian berkembang adalah kepercayaan pada 
> diri sendiri, bahwa 'wah.. GD mau dijadikan presiden seumur-umur, nih'.
> 
> Berdasarkan apa yang sudah dilakukan oleh AR dan pengikut, yang serba 
> serampangan dalam melontar isu, maka wak Hasan harus hati-hati membuat 
> statemen. Jangan-jangan yang ambleg dan ambles adalah para pendukung 
> Porteng. Gejalanya bisa dilihat, para PPP-wan yang sudah gelisah kena getah, 
> sementara yang lempar-lempar nangka adalah 'sebagian kecil' dari Porteng, 
> yang terdiri dari AR, Fatwa, dan beberapa politisi picisan.

WAM:
Bondannya yang sarap.
Apa hubungannya konsisten memilih mbah Dur dengan kritik?
Apa kalau mau disebut _konsisten_ terus nggak boleh ngritik? Muridnya
Suharto juga Bondan ini.
 
> Gemarnya AR membuat statemen yang tak menguntungkan posisi bangsa, membuat 
> sebentar lagi, kabarnya, ada resafel kabinet yang benar-benar akan 
> memposisikan kerabat Porteng full oposisi. Lha PPP, yang notabene lumayan 
> besar prosentasinya di Porteng kena lah ....

WAM:
Tidak menguntungkan posisi bangsa?
Kata  siapa? Itu kan kata anda. Kata saya, dan kata banyak orang, mbah Dur
itu biang keladi yang bikin posisi bangsa ini tidak karuan. Coba anda
simak, tiap kali mbah Dur minggat ke luar negeri, Rupiah menguat. Begitu
pulang, melemah lagi. Dari satu sisi, penguatan Rupiah, jelas mbah Dur
yang suka kurang pinter ngerem mulutnya ini tidak menguntungkan Indonesia.

> >Kita mesti sabar meskipun kita tahu
> >bahwa tambah tahun negeri ini tambah ambles kedalam rawa. Konsinten. Itu
> >kata kuncinya! Kita ini kan bangsa Besar yang tahu menghargai para
> >Pahlawannya. Meskipun terang2an kelihatan belajar ngisep BUMN, Bulog, dsb.
> >Itu cuma ekses dan oknum saja. Beri kesempatan GD dan orang-orangnya 
> >menjadi
> >profesional seperti pak Harto dulu.

> Beberapa kasus masih debatable. Bahkan masih ada kesempatan mempolisikan 
> berbagai hal yang diisinuasikan oleh wak Hasan ini. Nanti, kalau ternyata 
> bersih-bersih saja, paling-paling cuma, 'ya sudah kalau begitu'. Padahal, 
> berbagai statemen para elit yang ditepuktangani wak Hasan ini sudah terbukti 
> membuat perjalanan ekonomi bangsa menjadi rada tersendat. Coba, mereka masih 
> wait-and-see sampai Ogos nanti.

WAM:
Persis yang dilakukan mbah Dur. Bahkan sejak sebelum dia jadi presiden.
Andai semua orang itu bisa digampari karena omongannya yang seenaknya
(satu contoh, menuduh Myjen K sebagai dalang kerusuhan Banyuwangi), orang
yang satu ini sudah jontor digebuki banyak orang. Dan kegemarannya
mengumbar mulut ini tidak berhenti setelah dia jadi presiden. 
 
> Soal Gub BI, misalnya. Karena 'mungsuh'-nya adalah GD, maka lingkup periode 
> yang diambil oleh para politisi 'idaman' wak Hasan ini cuma diambil ketika 
> GD nawarin DPA, dubes, atau dibiarkan polisi ngusut. Padahal kalau 
> seandainya justru 'bolo'-nya GD, pasti dimulai sejak Syahril Sabirin tidak 
> mengakui kehadirannya di pertemuan-pertemuan seputar Bank Bali.

WAM:
Biar pengadilan yang membuktikan, Syahril hadir nggak di situ.
Biar pengadilan pula yang membuktikan, apa mbah Dur sudah kelepasan
ngomong nawarin dubes atau belum.





->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke