Rabu, 21 Juni 2000, 05:00 WIB Sarapan Pagi bersama Martin Manurung Gerakan Mahasiswa Pasca Habibie Belum Surut http://www.kompas.com/berita-terbaru/0006/21/headline/09.htm Jakarta, Kompas Cyber Media Percakapan dengan Kurniawan Junaedhie Martin Manurung, aktivis mahasiswa, mengatakan bahwa gerakan mahasiswa Indonesia saat ini belum surut. "Kita masih melihat elemen mahasiswa yang tetap mengambil cara turun ke jalan. Seperti yang dilakukan rekan-rekan dari Famred, Forkot dan Jaringan Kota beberapa waktu lalu yang mencoba untuk memasuki areal Cendana. Itu adalah cara yang baik untuk memberikan pressure pada kekuasaan agar tetap pada rel reformasi," katanya ketika dimintai tanggapannya tentang gerakan mahasiswa Pasca Habibie. Dia juga menunjuk rekan-rekan lainnya, yang aktif mencoba memberikan kontribusi pada sumbangan-sumbangan ide melalui beberapa forum dan wacana ilmiah. "Saya pikir semuanya itu adalah langkah-langkah yang komplementer; saling mendukung dan melengkapi," katanya. Martin Manurung kelahiran Jakarta, 31 Mei 1978 adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan. Saat ini aktif dalam berbagai organisasi dan kegiatan. Antara lain, Koordinator Solidaritas Mahasiswa Kristen untuk Reformasi Indonesia, Koordinator Pemuda dan Mahasiswa Forum Bona Pasogit (forum yang berjuang menuntut penutupan Indorayon, yang telah merusak lingkungan dan masyarakat di Tapanuli Utara) serta Presidium dan Ketua Umum Forum Mahasiswa untuk Kerukunan Umat Beragama (FORMA-KUB). Mahasiswa Berprestasi Utama Tahun 2000 dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini juga dikenal aktif sebagai moderator untuk sejumlah mailing-list, seperti kuli-tinta dan economist. Berikut petikan obrolan dengan Martin yang dilakukan lewat e-mail, beberapa jam yang lalu. Berbeda di zaman awal Orba, setelah berhasil menumbangkan rezim lama, kali ini mahasiswa dan penguasa tak tampak menikmati bulan madu. Kenapa? Kalaupun ada hanya dalam waktu yang sangat singkat. Karena bulannya memang tidak semanis madu. Orde Baru telah melahirkan konflik yang begitu dashyat dan rumit sehingga membuat kita hampir tidak menemukan titik awal untuk upaya solusi. Ditambah lagi, sentralisasi yang sangat keterlaluan, telah melahirkan sentimen-sentimen separatis yang kita ketahui bersama terjadi di banyak daerah Indonesia. Bagaimana kita mau "bulan madu" dalam kondisi yang seperti itu? Saya rasa, pengantin baru yang "benaran" pun mikir-mikir untuk berbulan madu di Indonesia. Begitu parahkah warisan Soerharto? Apa bedanya dengan warisan yang ditinggalkan Bung Karno? Soekarno meninggalkan pucuk pimpinan nasional memang dengan kondisi ekonomi yang parah. Secara internal, ekonomi kita memang sangat bermasalah. Hal itu ditandai dengan defisit anggaran pemerintah yang besar dan dibiayai dengan cetak uang yang gila-gilaan. Itulah yang melahirkan hiperinflasi yang mencapai diatas 600 persen. Tetapi, patut dicatat; dari sisi eksternal, ekonomi sepeninggal Soekarno tidak punya persoalan berarti. Misalnya, kita tidak punya masalah utang luar negeri. Karena waktu itu memang kebijakan yang dijalankan adalah "berdikari" (berdiri di atas kaki sendiri). Dan dari sisi non- ekonomi; khususnya dalam rasa berkebangsaan, Indonesia justru sedang "jaya-jaya"nya dan menjadi salah satu negara yang disegani di kawasan Asia dan Afrika. Karena itu, sepeninggal Soekarno, kita tidak mengalami krisis separatisme dan Soeharto yang baru naik, secara praktis berarti hanya punya satu urusan: membenahi ekonomi, titik! Sebaliknya Indonesia sepeninggal Soeharto. Perekonomian kita mengalami kriris internal dan eksternal. Utang luar negeri gila-gilaan, sektor riil hancur, sektor moneter (perbankan dan keuangan) hancur, dan korupsi yang sangat parah (kalau katanya Bank Dunia, korupsi kita itu "canggih"). Dari sisi non ekonomi, kita juga hancur lebur. Rasa sosial kita sedang mencapai titik terendah. Demikian pula dengan rasa kebangsaan, sangat mengkhawatirkan. Nah, akibatnya para pengganti Soeharto diwarisi problem yang super-rumit. Mau membenahi dari mana dulu? Bingung! Mau membenahi ekonomi dulu, tapi selalu diguncang politik. Mau membenahi politik dulu tapi dibayang-bayangi money politics. Mau membenahi kebangsaan dulu, tapi perut rakyat lapar. Mau membenahi sosial dulu, tetapi politiknya kacau. Nah, kompleks sekali kan? Akhirnya, kita memang harus kerja keras, jadi boro-boro ber"bulan madu". Gerakan mahasiswa yang menumbangkan Soeharto itu juga beda dengan sebelumnya? Ya setidak-tidaknya menurut saya komitmen gerakan mahasiswa 98 --kalaupun bisa disebut demikian--dan sesudahnya yang tidak mau ambil bagian dalam kekuasaan. Konsekuensinya tentu, dalam jangka pendek para elite yang akan mengambil peranan. Tapi, dalam jangka panjang, hal itu positif untuk memberikan "model" baru gerakan mahasiswa yang politis tetapi tidak terkooptasi. Anda yakin tentang komitmen itu? Begini, Angkatan 66 pun kan dulunya juga maunya seperti itu. Tapi lambat laun, mereka terkooptasi juga tanpa disadari. Setidaknya dalam pemitosan sebutan Angkatan 66 yang merupakan sebuah pengakuan dari rezim. Baru di tahun 1980-an, mereka punya kesempatan duduk di kabinet. Apa tidak akan terulang? Saya tidak berani --dan tentu tidak benar-- untuk mengatakan bahwa "angkatan 98" itu angkatannya para malaikat. Satu atau dua orang, malahan --mungkin-- sudah terkooptasi, paling tidak oleh uang. Tapi, secara agregat, atau keseluruhan mahasiswa yang bergerak pada Mei 1998 belum terkooptasi. Apakah akan terkooptasi? Tentu saya tidak bisa jawab, sebab saya bukan dukun, ha..ha..ha.. Sejarahlah yang akhirnya membuktikan. Tapi, dari "trend" bisa dilihat, bahwa mahasiswa angkatan 1998 tidak terkooptasi. Mudah-mudahan tetap demikian. Dulu kita mengenal nama Arief Budiman, Hariman Siregar... Tapi pada gerakan mahasiswa Angkatan 98 tak ada tokoh mahasiswa yang dikenal. Penonjolan tokoh secara sadar memang ingin dihilangkan ? Mahasiswa yang bergerak tahun 1998 itu memang tidak ada yang "menonjol", kok! Angkatan 98 lahir dari para mahasiswa-mahasiswa yang semula a-politis sebagai akibat NKK-BKK. Kalaupun kemudian terpanggil untuk bergerak, itu semata-mata karena memang sudah saatnya nurani bicara. Kalau tidak bicara lagi, saya kira, namanya bukan manusia. NKK-BKK menyebabkan depolitisasi di kalangan mahasiswa. Dan hasilnya, tidak ada satupun organisasi ekstra dan intra kampus yang memiliki akar ke dalam mahasiswa. Akhirnya, memang tidak ada satupun tokoh yang bisa mengklaim bahwa ia memiliki akar ke dalam mahasiswa! Akibatnya, gerakan mahasiswa lahir bukan melalui proses kepemimpinan, tetapi melalui proses kesadaran kolektif. Di mana-mana, selalu mahasiswa yang menumbangkan rezim yang anarkis, otoriter, KKN. Anda melihat ada ciri khas gerakan mahasiswa Indonesia dibanding rekan-rekannya di tempat lain? Kalau mau jujur sebenarnya, gerakan mahasiswa di Indonesia itu masih lebih "selamat" daripada gerakan mahasiswa di negara lain, terlebih di negara-negara otoritarian komunis. Dan, dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara, saya rasa, kita harus memberikan kredit point bagi gerakan mahasiswa di Indonesia. Beberapa waktu lalu, rekan saya baru kembali dari Malaysia dan Singapura dan rupanya di sana mahasiswanya lebih a-politis lagi. Mereka tidak menaruh perhatian dengan apa yang terjadi pada Anwar Ibrahim di Malaysia, ataupun demokrasi di Singapura. Tapi, tentu saya tidak dalam posisi untuk mengomentari urusan orang lain. Jika pada Mei 1998 tema gerakan mahasiswa adalah menumbangkan Soeharto, dan Habibie, apa tema perjuangan gerakan mahasiswa Pasca Habibie? Betul, di sini kita memang harus secara obyektif memberikan perbedaan mendasar pada gerakan mahasiswa. Bila waktu Mei 1998, pergerakan kita adalah "to be or not to be" jatuhkan Soeharto atau kita tidak punya perubahan sama sekali, --demikian pula pada pemerintahan Habibie--, maka pada saat sekarang ini, dalam pandangan saya, pergerakan kita adalah "to do or not to do". Artinya, kita bergerak untuk "melakukan sesuatu", bukan lagi untuk "menjadikan sesuatu". Sekarang ini, kita kehilangan orang untuk berbuat sesuatu. Sebaliknya kita punya terlalu banyak orang untuk "membuat sesuatu"; isyu, kerusuhan, polemik, dan lain-lain. Sehingga untuk bekerja atau berbuat sesuatu, kita tidak punya orang. Mahasiswa, sebagai insan akademik, terpanggil untuk mengisi kekosongan itu. Tugas mahasiswa bukan untuk "menjatuhkan rejim". Momentumnya ada untuk itu, bukan setiap saat. Oya, apa bedanya gerakan mahasiswa dengan gerakan yang bukan mahasiswa pada saat ini? Maklum, kadang kan orang tahunya ada unjukrasa, itu mahasiswa.... dikipasi mahasiswa ya? Kalau saya --dari dulu-- sebenarnya lebih suka untuk tidak membedakan gerakan mahasiswa dengan gerakan rakyat lainnya. Apalagi sekarang ini. Gerakan mahasiswa tidak bisa lagi eksklusif. Pada tahap awal, gerakan mahasiswa bisa saja menjadi katalisator, tapi pada proses finishingnya tetap saja rakyat yang harus punya peranan. Kalau tidak begitu, berarti gerakan mahasiswa itu sifatnya elitis. Dan bila sudah elitis berarti akan mudah dikooptasi oleh kekuasaan. Eh, mengenai demontran bayaran? Hahaha... kalau itu, jangan tanya sayalah. Tanya sama orang yang punya duit saja, ha..ha.ha..(***) ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
