On Tue, 27 Jun 2000, Wisnu Ali Martono wrote:

WAM:
>Ya nggak aneh mbah. Eh, pakde.
>Memangnya, ini ibaratnya, kalau saya udah milih si A jadi bini saya terus
>seumur hidup mesti serumah sama dia, kalau belakangan ternyata si A ini
>mengidap penyakit sarap? Andaikata semua orang tahu bahwa mbah Dur ini
>bakal nggak karuan cara berkomunikasinya, belum tentu semua milih dia.
>Lagian, memilih seseorang sebagai presiden (mbah Dur atau siapa saja)
>bukan berarti pasrah bongkokan terhadap apa saja yang dia lakukan
>belakangan hari. Salah itu pakde. Nggak ada aturan yang mengatakan begitu.
>Enak dong yang jadi presiden, kalau dia terus boleh nggejublek lima tahun
>notwithstanding apa saja yang dia lakukan.

yap:

Ya kalau sarapnya barusan. Wong waktu dilamar memang sudah sarap, terus 
dikawin saja. Lha rak lebih sarap yang mau jadi suaminya, he he heee

Nggak ada itu pasrah bongkokan. Wong kekuasaan presiden sudah diprotoli 
banyak sekali dan diserahkan ke DPR. Aturan diperketat. Ya cukup sesuai 
aturan yang beridi pemerotolan kekuasaan presiden itu sajalah koridor 
mainnya. Jangan kegeniten nambah nambahi dengan yang belum disahkan 
parlemen. Ada aturan bertanya, mengawasi, memberi pertimbangan, menyetujui 
usulan dan sebagainya. Kalau mau ribut digedung Parlemen sajalah, jangan 
keroyokan dengan cari popularitas dikoran...

>WAM:
>Itu esensinya demokrasi, pakde. Penumpang boleh mengingatkan, misuhi,
>bahkan ngaplok supir kalau sopirnya ugal-ugalan.

yap:
Itu kan kalau ugal ugalan. Ukurannya apa sih ugal ugalan itu? Jangan jangan 
yang ribut itu karena tadinya pengen jadi supir nggak kelakon. Terus 
ngomporin penumpang lain.
Lha kalau medannya sulit, supir kan boleh punya judgement untuk 
menyelamatkan penumpang. Kalau judgement-nya beda ya kasih kesempatan dong. 
Jangan jangan yang resek malah disikut penumpang sebelahnya...

>WAM:
>Boleh nggak, kalau yang ngomong begini ini Suharto?
>Saya kuatir, anda, dan nggak cuma anda, bilang begini ini karena yang jadi
>presiden bukan Suharto lagi. Kalau gitu, yang dulu nggangguin Suharto itu
>diancukan semua, pakde? Susah, kan?

yap:
Boleh dong, bahkan sangat diharapkan. Katanya mau madeg pandito. Lha kok 
malah pura pura tak bedaye... Asal tahu saja waktu masih mahasiswa, student 
bag saya tertempel poster: Vote Soeharto, father of Indonesia Development... 
karena saya mengagumi kemampuannya mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia 
dengan mengkandangkan Widjojo Nitisastro cs. Tapi setelah tahu permainan 
tender di Cut Mutia, pengkaplingan hph dan cerita cerita Las Vegas, ya 
ikutan Arif tereak tereak... Gitu lho mas.

>
>WAM:
>Kalau ngalah itu berarti diam saja waktu dibunuhi, kayak di Ambon, yo
>nggak usah ae lah. Lupakan saja perkara mayoritas atawa bukan.
>

yap:
Dengan segenap keyakinan mari kita baca lagi kisah burung ababil...

>
>WAM:
>Nek minoritas-e ngelunjak, piye?
>Soro rek, dadi mayoritas.

yap:
Ya didekati dengan achlak yang baik. Insya Allah kita termasuk bangsa yang 
pandai bersyukur dan senantiasa diselamatkan didunia dan akhirat..

Wassalam,
yap


________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com


->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke